Digikid is available in Chinese and English now!!
Digikid sudah ada dalam Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris lho ^^
Check it out! Digi-ch, Digi-eng

Wednesday, March 30, 2011

Horee!~~ Digi masuk rumah sakit~ part 2

Pada saat ini, air mata digi kembali mengalir sendiri, tanpa dikomando, seakan air mancur yang rusak tombol on-off nya.
Akhirnya dengan perkataan yang sama, digi berhasil meyakinkan mama bahwa digi tidak apa-apa, digi hanya merasakan denyut jantung digi yang berdetak dengan sangat cepat dan digi mengatakan ingin segera pergi ke dokter untuk mengecek apa yang terjadi.


Selamat datang kembali. Mari kita lanjutkan cerita digi.


Memang kasih sayang orang tua kepada anak cucunya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Kali ini, mama digi yang tadinya pergi sekarang telah pulang, dan menanyakan kepada digi kondisi digi bagaimana. Terang saja digi sangat senang, namun demikian, karena kondisi digi yang masih belum pulih (detak jantung yang cepat), digi masih belum bisa mengucapkan kata-kata. Saat mama pulang, waktu menunjukkan sekitar pukul 12.30 siang. Digi hanya bisa tertidur, sembari menunggu jam 3, karena dokternya buka praktek jam 3 :) Dokter ini adalah dokter pribadi keluarga digi sejak kecil, semua data kesehatan digi terekam di klinik dokter ini :) Kebetulan suku dokter sama dengan suku papa digi, suku HengHua, yang membuat kami semakin dekat. Meskipun dokter ini tidak terlalu pintar, namun enak diajak berkonsultasi dan mempunyai pengalaman yang banyak. Well, tidak semua dokter harus pintar untuk bisa mengobati kita. Kadang dokter yang pintar pun bisa membunuh pasiennya hanya dengan pernyataan yang pahit :(

Setelah jam 3, digi pun turun ke lantai bawah dan masuk ke dalam mobil. Tepat pada saat ini, nenek digi pulang dari rumah sakit. Nenek digi terkena serangan ginjal sehingga harus menjalani proses pencucian darah 3 kali selama seminggu, yang kebetulan bertepatan dengan hari tersebut, hari Kamis.
Biasanya setelah menjalani proses cuci darah, kondisi nenek digi sungguh lemah, bahkan tidak bisa turun dari mobil dan berlama-lamaan untuk berbicara. Biasa kepala beliau akan terasa pusing, bahkan untuk beberapa kasus yang ekstrim muntah-muntah selama perjalanan pulang. Namun pada hari tersebut, ketika nenek digi mendengar kondisi digi yang seperti ini, langsung turun dan melihat digi yang berada di dalam mobil. Begitu melihat muka digi yang begitu pucat, nenek digi langsung mengatakan,"Kok pucat sekali? Ada apa?"
Mengingat keadaan nenek yang biasa tidak stabil, sekarang masih bisa turun untuk mengkhawatirkan kondisi digi, membuat digi sangat terharu. Memang kasih sayang orang tua kepada anak cucunya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Digi akhirnya hanya bisa terdiam dan meneteskan air mata, sambil mengatakan dengan pelan,"Tidak apa-apa kok nek, tidak apa-apa."
Selanjutnya, digi sudah tidak bisa mengingat pesan yang diamanatkan oleh nenek, digi hanya bisa mengingat nenek yang sudah naik ke atas mobil dan digi pun akhirnya berangkat ke klinik dokter. Digi juga tidak mengingat berapa lama perjalanan menuju kesana, rasanya semua terasa cepat sekali sehingga digi sampai di klinik dokter yang berlokasi tidak jauh dari tempat tinggal digi tersebut.


Sesampainya di klinik, digi pun langsung mendaftarkan diri. Suster pun melakukan administrasi seperti biasa, cek tinggi dan berat badan. Akhirnya digi duduk beristirahat sambil menunggu giliran. Tidak lama memang, atau mungkin segalanya berjalan begitu cepat, hingga akhirnya nama digi dipanggil.
Begitu memasuki ruangan dokter, digi duduk dan mama digi langsung menjelaskan keadaan digi kepada dokter, kotoran yang berwarna hitam, pusing-pusing.
Dokter pun memeriksa bagian bawah mata digi (untuk melihat apakah ada darah atau tidak). Mungkin dokter menemukan ada yang tidak beres, dokter terkejut dan menanyakan, "Kenapa bisa begini?" "Ada muntah?" Digi spontan menjawab, "Ada, muntahannya berwarna hitam. Itu karena semalam aku makan gado-gado dok." Dokter pun terkejut dan menyuruh digi untuk berbaring di atas tempat tidur. Proses selanjutnya adalah dokter mengecek anus digi, dan ternyata menemukan terdapat banyak sekali darah yang terkumpul.

Dengan demikian diagnosa dokter ditegakkan, penyakit yang digi derita adalah LUKA LAMBUNG. Hore~~ (kok jadi senang ya?)



Mama kemudian bertanya kepada dokter,"Lalu bagaimana dok? Apakah perlu rawat inap di rumah sakit?"
Selanjutnya dokter pun mengeluarkan resep obat dan mengatakan,"Kontrol kotorannya, jika dalam 2 hari masih tetap berwarna hitam atau mengeluarkan darah, siap-siap untuk masuk rumah sakit." diikuti dengan instruksi penggunaan obat yang diberikan.

Digi pun akhirnya mengucapkan terima kasih dan akhirnya pamit kepada dokter. Sebelum digi pulang, dokter berpesan kepada digi,"Ingat, masalah lambung harus mengontrol makanan, untuk sementara ini jangan makan yang keras-keras dan yang panas-panas."
Mendengar tidak boleh makan yang panas-panas, digi pun bertanya,"Kalau es krim boleh dok?"
Dokter mengatakan,"Boleh."
Digi pun kegirangan, mungkin saja pada saat ini mama digi menggeleng-gelengkan kepalanya :P
Akhhirnya digi pun naik ke mobil dan bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Bahkan pada saat ini digi mengatakan digi ingin menyetir, mengingat keadaan kaki mama yang belum sembuh total, berjalan pun masih menggunakan tongkat. Mama langsung marah dan berkata seketika,"Kamu sudah sakit! Duduk saja di samping!" Namun digi menolak dan mengatakan ingin duduk di belakang, dengan alasan lebih nyaman, karena tempat duduk di depan lebih sempit. Meskipun hal ini sangat tidak mengenakkan, karena dengan posisi duduk seperti ini mama terlihat sebagai seorang supir, tapi apa boleh buat, karena kondisi tubuh digi saat itu memang sangat tidak memadai.

Kontan digi mengambil kantong plastik yang ada di depan digi, dan langsung memuntahkan kembali semua yang ada di perut digi.

Dalam perjalanan pulang, sekali lagi, segalanya berjalan dengan sangat cepat. Di dalam mobil digi juga langsung mengkonsumsi obat yang diberikan dokter. Namun sesuatu hal yang sangat mengerikan kembali terjadi. Beberapa meter sebelum sampai di rumah, digi mengatakan kepada mama perut digi merasa tidak enak, seperti mau muntah saja rasanya. Kontan digi mengambil kantong plastik yang ada di depan digi, dan langsung memuntahkan kembali semua yang ada di perut digi. Sekali lagi, warna muntahan digi adalah hitam, dan kali ini, saking dekatnya dengan hidung digi, digi sekilas mencium bau yang sama dengan bau yang ada di toilet tadi pagi, bau amis. Kali ini lebih bau dan lebih jelas. Digi berusaha mengangkat hidung digi agar tidak tercium bau menyengat tersebut. Namun apa boleh buat, karena reaksi digi yang lambat dan bau yang menyengat tersebut, digi kembali memuntahkan isi perut digi untuk yang kedua kalinya, dengan warna yang sama, warna hitam, dan bau yang lebih menyengat lagi.
Dengan begini, digi sudah memuntahkan cairan (yang sebenarnya adalah darah) sebanyak setengah ukuran plastik. Pada saat digi tiba di rumah, digi pun memutuskan untuk membuang kantong plastik tersebut di depan rumah digi.
Darah muntahan digi pun tertumpah ke jalan raya, pemandangan ini membuat digi sedikit merinding pada saat itu. Anehnya, adik digi juga melihat pemandangan ini dan merasa biasa-biasa saja. Karena pada saat itu hujan gerimis, sehingga digi pun langsung masuk ke dalam rumah dan beristirahat.


Dokter tersebut mengatakan,"Lebih baik besok di cek HB (Hemoglobin)nya di klinik terdekat, kalau HB nya dibawah 10, harus dimasukkan ke rumah sakit."


Kali ini di dalam rumah, digi benar-benar dijaga dengan ketat. Pasalnya, kondisi digi sekarang saat ini memang benar-benar lemah Rasanya aneh ya membayangkan postur tubuh digi yang lemah tertidur di kasur gak bisa melakukan apa-apa.. Digi hanya beristirahat sampai dengan esok harinya. Oh iya, tidak lupa digi menghubungi murid-murid les digi bahwa digi tidak bisa mengajar pada hari tersebut karena tidak enak badan. Actually digi masih bersikeras ingin mengajar, namun langsung dihentikan niatnya oleh mama mengingat kondisi digi yang sangat tidak memungkinkan saat ini. (Memang sebuah tabiat buruk dari dulu bagi digi untuk melakukan sesuatu tanpa memikirkan kondisi sekarang ini). Menjelang malam hari, mama digi sudah sibuk-sibuk menelepon kepada dokter yang merupakan famili digi (lebih tepatnya adik dan adik ipar dari nenek) tentang kondisi digi pada saat itu.
Dokter tersebut mengatakan,"Lebih baik besok di cek HB (Hemoglobin)nya di klinik terdekat, kalau HB nya dibawah 10, harus dimasukkan ke rumah sakit."
Dengar-dengar pada saat ini telapak kaki digi sudah berwarna putih total. Hingga pada saat malam hari digi pun mengonsumsi obat dan akhirnya tidur dan tidak tahu menahu kejadian yang terjadi selanjutnya.


Alangkah terkejutnya ketika mengetahui bahwa Hemoglobin digi hanya berjumlah 8,8.

Hari esoknya setelah bangun, digi masih merasakan sekujur tubuh lemas, tidak bersemangat, dan jantung berdebar dengan keras, sindrom yang sama dengan kemarin - dengan kata lain - kondisi digi sama sekali tidak membaik. Akhirnya mama digi melakukan seperti yang diminta oleh adik nenek digi, yaitu mengecek Hemoglobin di klinik yang bisa dibilang lumayan dekat. Setelah mengecek Hemoglobin, mama mengira hasilnya bisa keluar langsung, ternyata harus menunggu 1 jam kemudian. Wah. Mama papa dan digi kelabakan, Kok bisa 1 jam ya? Katanya sih langsung. Yaa. apa boleh buat, akhirnya kami pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumah untuk beristirahat, setidaknya itu lebih baik daripada duduk menunggu di dalam klinik - mengingat keadaan digi seperti ini.

Akhirnya digi kembali beristirahat di rumah.

1 jam pun berlalu, dan papa membawa pulang hasil tes darah tersebut. Alangkah terkejutnya ketika mengetahui bahwa Hemoglobin digi hanya berjumlah 8,8. Sementara kadar normalnya 13 sampai 16 (ada juga yang mengatakan 12 sudah cukup, ada yang mengatakan 14). Apapun itu, kadar hemoglobin dalam darah digi sudah termasuk rendah.
Mama akhirnya memutuskan untuk menghubungi adik nenek digi, dan akhirnya memutuskan,"Ya sudah, masuk rumah sakit aja."

Kalau mau dideskripsikan kondisi digi saat itu, hanya biasa-biasa saja. Digi tidak takut terkejut - apalagi takut - untuk masuk rumah sakit. Digi tidak pernah membayangkan sakitnya disuntik oleh jarum (yang akan terbayang pas diopname di rumah sakit nanti, haha). Pada saat ini, hanyalah terbesit sebuah perasaan malas. Aduh, rasanya malas harus tinggal di rumah sakit, repot. Dan memang, hanya untuk opname 3 malam saja barang bawaan digi seperti mau pergi ke Jakarta selama 10 hari. Namun digi tegaskan kepada diri sendiri, bahwa ini berarti orang rumah memperdulikan digi dan ingin menyediakan fasilitas yang terbaik untuk digi di rumah sakit :)

Langsung saja kita menuju ke rumah sakit.

Sebelum menuju ke rumah sakit, tentu saja mama sudah meminta persetujuan dari dokter keluarga, dan akhirnya dokter keluarga memperkenalkan dokter di sebuah rumah sakit yang dekat dengan rumah digi. Sebenarnya ada beberapa rumah sakit yang lebih elite daripada rumah sakit yang digi tempati pada saat ini. Satu-satunya alasan kami memilih rumah sakit ini adalah fasilitasnya yang lumayan lengkap - meskipun tidak selengkap rumah sakit yang digi sebutkan di atas, namun masih tergolong memadai dan modern - dan yang paling penting adalah, jarak dari rumah digi dengan rumah sakit sangat dekat, bisa ditempuh dengan mobil dalam waktu 5 menit. Yang tentu saja akan sangat efisien bagi orang rumah untuk melakukan segala sesuatu dan membagi waktu antara rumah dan rumah sakit :)


Kontan digi tersentak mendengar kata 'transfusi darah' - dan digi yakin, bukan hanya digi yang terkejut, mama pasti terkejut juga.

Let's see... Digi akhirnya tiba di rumah sakit, dengan jalan yang masih sempoyongan, bersama mama, hanya berdua - Mama yang menggunakan tongkat, dan digi dengan muka pucat. Dalam lorong rumah sakit, digi masih menyempatkan diri bercanda dengan Mama,"Kira-kira kalau susternya melihat, ini siapa yang mau tinggal di rumah sakit ya? Haha." Karena kondisi kaki mama yang belum sembuh total sehingga mengharuskan mama untuk memakai tongkat ketika berjalan (sebenarnya digi sendiri lebih prefer jika mama mau memakai kursi roda, karena kadang-kadang kaki mama masih sering sakit ketika berjalan, ataupun ketika digerakkan).
Akhirnya kami tiba di ruang ICU dan suster yang menjaga di ruang ICU langsung menanyakan,"Siapa yang mau diopname?" Digi spontan menjawab,"Aku sus."

Akhirnya digi dipersilahkan berbaring, dan kemudian menanyakan gejala-gejala apa yang ada. Digi pun kemudian menjelaskan secara terperinci gejala digi. Dokter akhirnya datang dan dengan cepat mengkomando suster untuk menyuntikkan beberapa jenis obat ke tubuh digi, kalau tidak salah ada 3 jenis obat. Nah dari sini lah mulai aksi suntik menyuntiknya.
Datanglah suster yang pertama menyuntik bagian lengan kanan digi (mungkin sejenis vitamin atau apa). Yang kedua adalah mengambil sampel darah digi, nah ini yang digi agak kesal, pasalnya susternya mengambil di bagian kanan lengan digi. Padahal digi sudah katakan,"Sus, biasa aku ngambil darah di bagian kiri." Suster tersebut masih dengan ngotot dan gaya sok tahunya mengatakan,"Iya, kita coba dulu di bagian kanan."
Alhasil, daging di tubuh yang empuk ini disuntik secara cuma-cuma. Bukan hanya itu, suster ini akhirnya memaksa untuk tetap mengambil darah dari tangan kanan digi, namun kali ini diganti posisinya, di bagian atas telapak tangan digi (tempat jarum infus disuntikkan), dan inilah suntikan yang paling sakit yang pernah digi rasakan. Pas suster menginjeksikan suntik ke dalam kulit, suster itu terdiam sebentar, tidak ada darah yang keluar. Akhirnya kepala suntik itu pun digeser-geser, dan kemudian digeser-geser lagi (bayangkan jarum suntik yang belum dikeluarkan dari kulit, masih tertancap dalam kulit dan digeser-geser, sakitnya itu....) Dalam hati digi,"Ya ampun Tuhan ampunilah aku karena aku hampir akan menyumpahi suster ini." Akhirnya digi hanya terdiam saja, toh suster ini tahu yang paling baik untuk digi, digi juga tidak banyak komentar lagi. Hingga akhirnya, ntah darimana datangnya, darah nya keluar sendiri. Whew, akhirnya selesai juga.

Dilanjutkan dengan jarum infus. Kali ini di nadi di atas telapak tangan kiri digi, digi sih tidak terlalu takut, karena sudah sering melihat pasien yang disuntik ,sementara digi sendiri bisa dikatakan tidak terlalu takut disuntik. Hanya saja, setelah jarum tersebut ditancapkan di dalam nadi, ada sesuatu yang tidak enak terasa mengganjal di tangan kiri digi. Ya jelas lah, namanya saja sudah disuntik, pasti ada perasaan tidak enak. Pada saat ini, barulah digi merasa sedikit ketakutan, "Apakah aku harus melewati 3 hari disini dengan diinfus dan perasaan tidak nyaman ini?"
Namun digi segera menyingkirkan perasaan itu dan mengatakan kepada diri sendiri, semua akan berjalan dengan baik-baik saja.

Setelahnya mama masuk dan menanyakan kepada dokter bagaimana kondisi anak mama. Dokter mengatakan,"Kalau melihat kondisi sekarang, tampaknya harus transfusi darah secepatnya."

....
....
....
!!!!

Kontan digi tersentak mendengar kata 'transfusi darah' - dan digi yakin, bukan hanya digi yang terkejut, mama pasti terkejut juga. "Separah itukah sampai harus melakukan transfusi darah?", tentu saja pertanyaan ini digi tanyakan kepada diri digi sendiri - yang pada akhirnya digi ketahui pada saat itu mama juga menanyakan hal yang sama kepada dirinya sendiri. Akhirnya mama dengan nada yang sedikit terkejut - tapi tenang - lanjut bertanya,"Berapa bungkus, Dok?".
"Kalau dilihat dari kadar HB nya 8.8, maka harus transfusi sebanyak 4 bungkus - 125cc."
Mama kemudian menanyakan kepada Dokter,"HARUS transfusi darah dok? Tidak bisa menunggu perkembangan kondisi selanjutnya?"
"Yaaa.. Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi? Kalau HBnya sudah turun sampai 6, maka bisa sampai kepada kondisi tidak sadarkan diri, dan pada saat tersebut, akan sangat susah untuk menaikkan HB nya lagi."
Mendengar pernyataan dari dokter ini, mama pun akhirnya pasrah dan menanyakan pendapat digi. Digi bilang,"Ya kalau dokter udah bilang begitu mau gimana lagi Ma."
Dan akhirnya menanyakan juga pendapat papa, papa tidak menyatakan keberatan. Maka akhirnya pun memutuskan untuk transfusi darah. Kemudian sampel darah digi diambil lagi, dan dibawa ke PMI untuk dicari donor darah yang cocok.


-To be continued part 3-

Continue Reading!

Saturday, March 26, 2011

Horee!~~ Digi masuk rumah sakit~ part 1

Salam para penggemar digikid ^^

Bagaimana kabar kalian-kalian semua?

Yang pasti menjelang masa pancaroba alias masa pergantian musim hujan ke musim kemarau (atau sebaliknya) akan sedikit memberatkan bagi teman-teman yang kondisi tubuhnya lemah :)
Jangan lupa untuk menjaga kondisi tubuh sendiri ya, terutama akhir-akhir ini, di daerah Medan sendiri saja sudah beberapa hari ini dilanda hujan besar. Mungkin fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di kota Medan saja, bisa juga terjadi di kota-kota lainnya di daerah Indonesia
Satu hal yang pasti adalah untuk tetap menjaga stamina tubuh, dengan cara banyak minum air putih, tidak makan telat, tidur tepat waktu. Jangan lupakan sarapan pagi, karena sangat penting untuk menjaga keaktifan tubuh dalam sehari tersebut.
Juga perhatikan kondisi tubuh kita sampai sedetil-detilnya. Bisa saja perubahan kecil yang terjadi dalam tubuh kita bisa menjadi tanda-tanda sesuatu yang buruk sedang terjadi pada tubuh kita.


Apakah kita berkeringat lebih banyak daripada biasanya?
Apakah kita tidak konsentrasi dalam melaksanakan aktifitas?
Apakah bagian perut terasa sakit, tidak enak?
Apakah kita sering merasa sakit kepala, atau tubuh kurang fit, lemas?

Jika gejala-gejala di atas (ataupun perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh lainnya) terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama, well, katakanlah 2-3 hari, maka perlulah teman-teman check-up ke dokter.

Seperti yang digi alami akhir-akhir ini. Terang saja, digi baru saja keluar dari rumah sakit.

Mungkin banyak sekali yang heran, perawakan digi kan tinggi besar, bagaimana mungkin bisa masuk rumah sakit?

Mungkin bisa dikatakan kelihatan kuat di luar tapi lemah di dalam. Well, sebenarnya bukan itu juga sih, digi kuat di luar dan di dalam kok @_@

Langsung saja kita menuju kronologi kejadiannya mulai dari bagaimana digi bisa masuk ke rumah sakit hingga digi akhirnya bisa keluar dari rumah sakit, meskipun dengan kondisi yang masih kurang fit.

---Namun kali ini berbeda, kali ini, kotorannya dalam bentuk sedikit cairan, menempel pada jamban, dan bau amis---


Pada hari Kamis, 24 Maret 2011 yang lalu, digi terbangun di pagi hari dan merasa kurang enak badan. Digi pun akhirnya memutuskan untuk buang air besar di toilet.
Oh iya, hari-hari sebelumnya, digi sudah mengamati bahwa ternyata kotoran yang digi buang berwarna hitam, karena digi tidak merasakan adanya perubahan kondisi tubuh (meskipun sudah mengetahui bahwa feses berwarna hitam - namun digi tidak tahu bahwa feses berwarna hitam ternyata mengandung darah pada saat itu), digi pun melanjutkan aktifitas seperti hari-hari biasa.
Hingga pada hari Rabu, digi sudah mulai mengamati denyut nadi digi bertambah kencang, tidak seperti biasanya, tubuh semakin lemas, namun juga tidak digi gubris. Tiba pada hari Kamis tersebut, digi kembali buang air besar berwarna hitam. Namun kali ini berbeda, kali ini, kotorannya dalam bentuk sedikit cairan, menempel pada jamban, dan bau amis. Pada saat tersebut digi masih belum mengetahui bahwa bau tersebut adalah bau amis, digi mengira bau yang ditimbulkan adalah bau jengkol (maklum, pada hari Sabtu yang lalu digi baru saja mengkonsumsi jengkol sebanyak 2 buah), jadi digi tidak menghiraukan bau yang keluar dan menganggap semua itu normal-normal saja, termasuk feses yang berwarna hitam.


---Ternyata memang benar, hati dari orangtua tidak akan pernah berubah sepanjang masa, mengkhawatirkan anak-anaknya.---

Setelah keluar dari toilet, digi langsung menuju ruang tamu, pada saat ini, digi sudah merasa ada yang tidak beres dengan tubuh digi, pandangan menjadi sedikit kabur, tubuh menjadi sedikit lemas, jalan juga sudah tidak karuan, karena sudah tidak bertenaga pada saat tersebut. Digi akhirnya terduduk di atas sofa ruang tamu. Pada saat tersebut juga, pandangan digi seketika menjadi kabur menjadi gelap seketika, digi langsung berpikir, "Celaka, ini sepertinya sudah mau pingsan." Pada saat itu, digi langsung berdoa ,"Ya Tuhann, saya tidak boleh pingsan sekarang." Hebatnya, kesadaran digi memang kembali, namun tubuh digi masih tetap lemah. Digi pun merasa ingin muntah, kontan saja digi beranjak dari sofa dan menuju toilet, dengan sangat pelan.

Sesampainya di toilet, digi langsung terduduk di dudukan toilet, dan dalam waktu kurang dari 5 detik, digi langsung memuntahkan semua yang ada dalam perut digi "Hoeeeekkk" kira-kira begitu bunyinya, sebanyak 2-3 kali, dan warnanya ? hitam semua :)

....
...
...

"Lho? Kenapa kali ini muntahannya berwarna hitam ya?" pikir digi. Digi pun terpikirkan, karena pada malam sebelumnya, pada acara hari kelahiran Dewi Kwan Im, digi mengunjungi vihara yang ada di dekat rumah untuk menghadiri jamuan makan vegetarian. Pada acara tersebut digi mengonsumsi gado-gado, meskipun jumlahnya sedikit.
Sekali lagi digi berpikir "Ah, mungkin saja ini adalah gado-gado yang tadi digi makan, namanya juga muntah, pasti semua yang dimakan tadi dimuntahkan dong. Tidak apa-apalah".

Akhirnya setelah muntah-muntah, digi pun membersihkan lantai toilet bekas muntahan, dan akhirnya keluar dari toilet, bermaksud untuk minum segelas air putih dan melanjutkan tidur digi.

Siapa sangka, ketika digi berjalan keluar, digi bertemu dengan mama yang sudah terduduk di sofa. "Ada apa, kamu muntah ya?" kata mama. "Iya, ma. Gakpapa kok, muntah yang tadi di makan, sekarang udah agak baikan," balas digi. Dan pada kenyataannya digi memang merasa a lot-lot better setelah muntah. Sungguh digi tidak menyangka bisa membangunkan mama yang sedang tidur. Ternyata memang benar, hati dari orangtua tidak akan pernah berubah sepanjang masa, selalu mengkhawatirkan anak-anaknya. Akhirnya digi mengatakan,"Sudah tidak apa-apa kok ma, mama tidur aja, aku juga udah mau tidur. Selamat malam ma.", akhirnya mama pun kembali tidur. Digi pun pergi ke dapur untuk meneguk segelas minuman dan kembali melanjutkan tidur digi.

---Saat berada di kantin, teman-teman sudah mengatakan wajah digi pucat, bibir digi juga putih, tanda-tanda kurang darah yang saat itu tidak digi sadari.---

Pada keesokan harinya, digi sudah mulai merasa sangat tidak normal, ditandai dengan bertambah cepatnya denyut nadi digi, sangat-sangat cepat, terutama ketika digi melakukan aktifitas berjalan dan berpindah tempat. Selain itu digi juga merasa tubuh digi sangat tidak bersemangat, lesu.
Setelah selesai mandi dan beribadah, digi pun akhirnya menemui adik digi yang sedang duduk santai di sofa, menanyakan "Sebenarnya koko demam gak sih?".. Adik digi melihat sekilas kepada digi, mengambil tangannya dan meletakkannya ke kepala digi, mengamati sebentar dan mengatakan dengan nada sedikit mengejek "Tidak demam kok."
Digi hanya tertawa kecil, lalu setelah mengkonsumsi sedikit sarapan, digi pun akhirnya bersiap-siap untuk pergi ke kampus.

Sesampainya di kampus, digi pun langsung menuju ruangan kelas. Pada saat itu dosen belum datang. Untunglah, karena dosennya tergolong baik, jadi digi tidak sanggup hati bila harus telat pada pelajaran dosen tersebut. Pada saat perjalanan menuju ruangan kelas pun digi sudah merasakan detak jantung digi bergerak sangat cepat. Dan digi sangat tidak bersemangat. Digi pun duduk dan hanya berdiam diri. Unluckily, orang di samping digi terus mengajak digi berbicara. Terpaksa hanya digi ladeni dengan beberapa patah kata. Selanjutnya, kegiatan yang terjadi selama pelajaran ini tidaklah begitu signifikan, hanya belajar dan belajar, hingga akhirnya dosennya keluar, digi pun menyempatkan waktu nongkrong di kantin, untuk menghabiskan waktu. Pada saat berada di kantin, teman-teman sudah mengatakan wajah digi pucat, bibir digi juga putih, tanda-tanda kurang darah yang saat itu tidak digi sadari. Digi tidak menggubris perkataan teman digi, dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke Wisma USU dengan teman digi untuk berkunjung ke tempat dosen Cina berada. Pada saat ini jam sudah menunjukkan pukul 09.30.

---pada saat ini jugalah, digi menyadari, kondisi digi sudah masuk tingkat kritis dan tidak main-main lagi---

Maksud kedatangan digi adalah untuk membeli tiket ke Bali. Karena dosen Cina mengatakan sangat ingin berkunjung ke Bali, dan kebetulan salah satu perusahaan penerbangan juga sedang melakukan promosi gencar-gencaran, akhirnya digi dan teman cowo digi memutuskan untuk menemani kedua dosen wanita yang berasal dari daerah HuNan tersebut.
Dalam proses membeli tiket, digi semakin merasa tidak enak badan, digi merasa sudah tidak sanggup untuk melanjutkan aktifitas belajar pada pukul 11.40 nanti. Akhirnya sekitar jam 10.40, digi menelepon kepada mama digi, meminta izin kepada mama untuk bisa pergi ke Bali, confirm harga tiket dan jadwal kepergian. Setelah mama setuju, digi mengakhiri percakapan di telepon dengan "Ma, nanti jam 3 kita ke dokter aja ya. Aku udah nggak enak badan banget." Dan mama pun mengatakan "OK."


Waktu berjalan, akhirnya dalam kurun waktu kurang lebih satu setengah jam , digi berhasil menyelesaikan pembelian tiket Medan-Bandung-Bali-Bandung-Medan. Digi merasa sedikit lega. Pada saat ini kondisi digi juga sudah benar-benar drop, digi hanya bisa tertidur di kamar saja, memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Tidak lama kemudian, digi merasakan rasa mulas pada perut digi. Digi pun memutuskan untuk menggunakan toilet yang ada di Wisma dosen tersebut. Baru pada saat inilah, digi menyadari bahwa ternyata kotoran yang digi keluarkan adalah darah, pada saat ini jugalah, digi menyadari, kondisi digi sudah masuk tingkat kritis dan tidak main-main lagi. Akhirnya setelah menunggu kepulangan dosen ke wisma, digi pun pamit pulang ke rumah. Hebatnya pada saat ini, digi masih bisa membawa motor, haha. Meskipun dalam perjalanan, digi terus berdoa "Ya Tuhan saya harus sampai di rumah dengan motor ini. Selamatkanlah aku dalam perjalanan." Terus dan terus berdoa sepanjang perjalanan :)


-- Hingga akhirnya digi berhasil meyakinkan papa, mengatakan dengan suara yang sangat pelan "Tidak apa-apa pa, air matanya keluar sendiri." ---


Sesampainya di rumah, digi langsung menuju rumah. Digi melihat papa digi sedang berada di belakang rumah berbincang dengan tetangga. Karena kondisi digi yang benar-benar sudah critical down pada saat itu, digi tidak menyapa papa digi dan langsung menuju ke lantai 2. Sesampainya di lantai 2 digi langsung beristirahat. Pada saat inilah digi merasakan jantung digi berdebar begitu kerasnya sehingga digi benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tiba-tiba, papa digi menyahut-nyahut digi dari belakang. Digi pun tidak menggubris panggilan papa karena sudah tidak sanggup lagi. Parahnya, semakin tidak digubris, sahutan papa digi semakin kuat. Sehingga akhirnya digi hanya bisa menyahut kecil sambil keluar terduduk di tangga.
Mungkin pada saat ini papa digi merasa aneh kenapa tidak ada yang menyahut, sehingga memutuskan untuk mengintip apa yang terjadi kepada anak laki-lakinya. Pada saat papa melihat digi terduduk di tangga, papa langsung dengan segera menuju ke atas dan menanyakan dengan nada khawatir "Ada apa nak? Apa yang terjadi? Kamu tidak apa-apa kan?" Namun karena keadaan digi yang sudah tidak memungkinkan saat itu, digi tidak bisa melaukkan apa-apa, bahkan menyahut sekalipun. Hingga akhirnya digi meneteskan air mata, dan ini semakin mengejutkan papa, papa pun langsung memapah digi masuk ke kamar tidur dan membaringkan digi disana. Di kamar tidur pun digi masih belum bisa menyahut, hanya bisa terus menangis dan menangis (digi ngga tahu kenapa bisa menangis ya, yang pasti kondisi saat itu benar-benar udah ngga memungkinkan untuk bicara).

Papa digi masih dengan sangat khawatir menanyakan "Benar tidak apa-apa? Kecelakaan ya nak? Atau kenapa?" Hingga akhirnya digi berhasil meyakinkan papa, mengatakan dengan suara yang sangat pelan "Tidak apa-apa pa, air matanya keluar sendiri." -.-" agak aneh memang kedengarannya, tapi memang itulah kenyataannya. Well. akhirnya digi pun berhasil untuk menghentikan air mata yang keluar, haha. Dan beristirahat sejenak. Kemudian mama digi pun pulang dan menanyakan kondisi yang sejelas-jelasnya kepada digi.
Pada saat ini, air mata digi kembali mengalir sendiri, tanpa dikomando, seakan air mancur yang rusak tombol on-off nya.
Akhirnya dengan perkataan yang sama, digi berhasil meyakinkan mama bahwa digi tidak apa-apa, digi hanya merasakan denyut jantung digi yang berdetak dengan sangat cepat dan digi mengatakan ingin segera pergi ke dokter untuk mengecek apa yang terjadi.

-To be continued part 2-

Continue Reading!

Saturday, February 5, 2011

SELAMAT TAHUN BARU IMLEK!!


Selamat tahun baru imlek bagi teman-teman yang merayakan!

Maaf atas keterlambatan posting digi, karena satu dan kesibukan yang lain sehingga digi tidak bisa sering-sering mengupdate blog lagi. Malam ini karena digi merasa senggang dan sedang in untuk update blog, ya digi lakukan aja. Mengingat pada zaman dulu digi sangat senang menuang semua kegemaran digi kepada blog yang tercinta.

Semoga di tahun kelinci ini semua bisa berjalan dengan lancar, baik rohani maupun jasmani :)



Tiba-tiba saja digi teringat dengan masa-masa dimana digi sangat senang dengan yang namanya 'blogwalking', 'update blog', 'tukar link', atau apapun itu yang berhubungan dengan blog. Masih terngiang dengan jelas di ingatan digi, dimana digi bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menghias blog, yang kalau dipikir-pikir sekarang mungkin akan sangat membingungkan,"Darimana sih keluarnya waktu tersebut untuk melakukan hal-hal itu?"

Seiring dengan berjalannya waktu, bertambahnya usia, digi semakin menyadari kalau memang waktu berlalu dengan cepat. Tidak ada yang bisa menghentikan perubahan waktu, tidak ada juga yang bisa mengulang waktu yang telah terlewati. Demikian juga sebuah perenungan bahwa digi ternyata bukan lagi anak kecil seperti zaman dahulu, yang bisa menangis setiap saat, lalu pada detik berikutnya bisa tertawa. Digi juga bukan lagi anak SMP-SMA yang penuh dengan segala keacuhan dan segala ketidaktahuannya akan dunia ini, yang menganggap bahwa layar 17" inilah yang akan menemaninya melewati satu kehidupan ini.

Sedikit demi sedikit, karena anugerah Tuhan jugalah digi bisa menyadari bahwa ternyata manusia memang sebuah sosok yang sangat kecil di jagat raya ini, yang diciptakan Tuhan untuk mempermudah kehidupan manusia lain, bukan hanya berfoya-foya untuk diri sendiri. Barangkali sesosok harapan digi yang sejak kecil digi idam-idamkan, dimana manusia bisa hidup di dalam keharmonisan tanpa ada kekacauan, pernah pudar dalam angan-angan digi ketika menghadapi kacaunya kehidupan, pahitnya kehidupan, dan kerasnya kehidupan ini. Namun berkat bantuan teman-teman dan senyuman yang diberikan, tidak ada salahnya kalau digi sekarang kembali berangan-angan tentang indahnya sebuah dunia perdamaian. Meskipun sangat jauh dari kenyataan, digi tidak keberatan untuk menjadi bagian dari sejarah perwujudan dunia tersebut, yang akan digi lakukan dalam setiap tindakan kecil sehari-harinya. :)

Mungkin saja kata-kata yang digi tulis ini tidak akan mampu mengekspresikan semua isi hati digi sekarang ini, namun digi rasa sudah cukup untuk mewakili apa yang sedang digi rasakan sekarang ini.

Semoga semua dari kita selalu bersyukur atas berkat yang diterima dari Tuhan, apapun itu, betapapun sedikitnya, banyaknya itu, semoga kita selalu menerimanya dengan rasa syukur. Karena Tuhan tahu yang terbaik untuk manusia sendiri :)

Semoga di awal tahun baru kelinci ini, demikian juga di awal tahun 2011 menjadi awal yang baik bagi kita semua, untuk lebih mencintai diri sendiri, lebih mencintai masyarakat, lebih mencintai negara, lebih mencintai dunia ini.

Have a nice day :)

Continue Reading!

Wednesday, November 24, 2010

Long Time No See

Dear my blog Digikid, long time no see. Maafkan digi yang selama ini udah menelantarkanmu, tapi apa boleh buat, bahasa Hokkien nya, bo pien, memang kadang terbesit dalam benak digi untuk memposting, tapi ya itu lah, kembali lagi kepada kepribadian digi yang memang serba malas ini. Kalau lagi ngga ada mood, sepertinya agak susah untuk melakukan apapun kalau lagi in no-mood.. Haahhaha


Kali ini digi hanya sekedar mampir melepas kangen dengan bloggy ku yang udah setengah tahun kuterlantarkan (wah waktu yang cukup lama juga). Mungkin digi gak banyak bercerita, hanya cerita secukupnya saja tentang kehidupan, apa lagi yang bisa kuceritakan selain kehidupanku yang begitu memukau? :)


Dalam kurun waktu setengah tahun ini tentu saja sudah banyak yang berubah. Salah satunya adalah kegiatan kampus digi yang semakin lama semakin padat. Yaaa sebenarnya digi juga gak menginginkan jadwal kampus yang padat, karena emang bawaannya udah santai-santai di rumah sih. hahahah. Jadwalnya ya emang lumayan padat, di samping belajar alias menjadi mahasiswa yang baik, memasuki semester III ini digi juga sudah dimasukkan ke dalam kegiatan organisasi (yang sebenarnya digi akui digi tidak begitu berniat karena satu dan lain hal) ~_~ yaaa. begitulah.

Tapi disisi lain sebenarnya digi juga sudah mulai menyukai kegiatan mengampus, mungkin karena digi udah mulai menyukai teman-teman sekelas yang multi kutural itu, dan harus diakui memang kami sangat unik! Hahaha. Digi mulai merasa dekat ketika acara inagurasi pada bulan September yang lalu. Acara 3 hari 2 malam yang mengambil tempat di Parapat itu memang membuat digi n teman-teman digi yang berpartisipasi lebih kompak lagi. Dan digi bersyukur sekali bisa ikut acara itu. Hahaha. Begitulah kira-kira sekilas kehidupan kampus.

Nah.. Yang paling disyukurkan dan dibanggakan sekarang digi sedang menulis blog dengan menggunakan laptop  baru yang belum genap 1 bulan XD. Asik asik thanks buat semua orang  yang sudah bekerja sama untuk mendapatkan laptop ini :D

Oh iya, masih ada berita yang menggembirakan, ama (nenek) digi sekarang sudah tinggal di Medan looo. Yang awalnya tinggal di kota Pakam, 1 jam jauhnya dari Medan. Sekarang sudah tinggal di Medan dengan alasan perjalanan berobat yang lebih singkat waktunya. Jadi sekarang rumah digi lebih rame, kamar lebih sempit.. Yayaaaaaa... Dalam hal fisik mungkin tidak lebih  nyaman daripada yang dulu, malahan sekarang lebih sempit-sempitan tidurnya, tapi kalau dari segi psikis.... yayaaaaaaaa digi senang sih bisa bertemu dengan ama lebih rameeee :D

Jadi kabar teman-teman sekalian gimana dalam setengah tahun ini!~~~ Boleh ya berbagi di comment?? ^^

Continue Reading!

Thursday, March 25, 2010

SamPek - EngTay . Pasangan Kupu-kupu

Apa kabar para penggemar digikid ? :)

Akhir-akhir ini digi banyak sekali disibukkan oleh tugas-tugas dari kegiatan kuliah :(

Sangat sibuk sekali sampai waktu online saja tidak punya D:
Oh ya, digi mendapat sebuah tugas untuk meringkas sebuah karya sastra dari China, akhirnya digi memutuskan untuk mengambil SamPek-EngTay, sebuah legenda cinta yang lumayan terkenal di Indonesia.

Berikut adalah makalah yang digi buat, silahkan dibaca :)


Pendahuluan


Cerita ini adalah legenda yang berasal dari negeri Cina yang terjadi pada masa pemerintahan Jin Timur. Sebuah cerita tentang seorang wanita cantik yang demi menuntut ilmu, menyamar sebagai pria. Dalam perjalanannya menuntut ilmu, wanita tersebut bertemu dengan seorang pria lugu dan akhirnya jatuh cinta kepada pria tersebut. Walaupun kisah cinta mereka tidak direstui oleh orang tua, tetapi ketulusan cinta mereka telah menggugah banyak orang dan menjadi pedoman bagi pasangan-pasangan cinta di dunia ini. Cerita ini bahkan sudah dijadikan legenda cinta di negeri China sana. Cerita ini sudah secara internasional sudah dianggap sebagai sebuah serial Romeo and Juliet versi Negeri Tirai Bambu.

Di Indonesia cerita ini lebih dikenal dengan nama Sampek Engtay. Sampek – Engtay sendiri adalah terjemahan nama dari tokoh sang pria dan wanita, 梁山伯-祝英台 mengutip dua huruf terakhir dari karakter nama mereka dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Hokkien sehingga menjadi (Liang) Sam Pek (nama tokoh pria) dan (Zhu) Eng Tay (nama tokoh wanita).



EngTay adalah anak ke-9 dan merupakan anak perempuan satu-satunya dari keluarga Zhu. Karena kelihaian dan kepintaran Eng Tay, dia meyakinkan ayahnya untuk membiarkannya berdandan selayaknya pria dan belajar ke kota HangZhou. Pada saat itu sesuai dengan tradisi, seorang wanita tidak boleh menuntut ilmu di sekolah.

Dalam perjalanannya menuju kota HangZhou, EngTay secara tidak sengaja bertemu dengan SamPek ketika sedang beristirahat di sebuah paviliun. Hubungan mereka kedua semakin erat ketika mereka ternyata menjadi teman sekamar di asrama. Dalam asrama inilah rasa cinta kepada SamPek mulai tumbuh di hati EngTay. Tetapi sifat SamPek yang gemar membaca dan polos membuatnya tidak menyadari perilaku EngTay yang feminim.

Tiga tahun berlalu sejak pertama mereka bertemu, suatu hari EngTay menerima sebuah surat dari ayahnya yang memerintahkannya untuk pulang secepat mungkin. Karena tidak mempunyai pilihan lain, EngTay pun hanya bisa berkemas dan kemudian kembali ke kampung halaman. Sebelum berangkat, EngTay sempat berterus-terang tentang identitas dirinya kepada istri dari pemilik sekolah dan menitipkan sebuah kalung giok kepadanya untuk diberikan kepada SamPek.

SamPek menemani ‘adik angkatnya’ menuju perjalanan pulang sejauh 17 mil sebagai tanda perpisahan. Sepanjang perjalanan, EngTay terus saja memberikan petunjuk kepada SamPek tentang identitas dirinya, tetapi karena keluguannya SamPek tidak menangkap petunjuk-petunjuk yang diberikan. Akhirnya EngTay menemukan sebuah ide untuk menjodohkan SamPek dengan ‘adik perempuan’ EngTay yang ternyata adalah dirinya sendiri. Sebelum mereka berpisah, EngTay kembali mengingatkan SamPek agar datang untuk dijodohkan dengan adik perempuannya. SamPek dan EngTay pun berpisah di tempat dimana mereka bertemu, sebuah paviliun peristirahatan.

Beberapa bulan kemudian, ketika SamPek mengunjungi EngTay, SamPek baru mengetahui bahwa ternyata EngTay adalah seorang perempuan. Pada saat itu juga mereka kemudian bersumpah kepada satu sama lain ‘Sampai maut memisahkan kita’. Tetapi kebahagiaan dari pertemuan itu hanyalah bersifat sementara karena tidak lama kemudian EngTay mendengar kabar bahwa ia akan dijodohkan dengan anak seorang kaya yang bernama Ma WenCai, salah seorang teman sekelasnya dahulu yang berhasil menyadari bahwa EngTay ternyata adalah seorang wanita. Mendengar kabar ini, SamPek menjadi patah hati dan kondisi tubuhnya mulai melemah pada saat itu. Kemudian SamPek yang sakit-sakitan pun segera mencari seorang tabib untuk mengeluarkan resep obat, sang tabib memberikan sebuah resep yang berisikan sepuluh jenis obat sebagai berikut :
1. Tanduk dari raja naga di Laut Timur
2. Kulit pada kepala seekor udang
3. Dinding pelindung yang sudah berumur 10.000 tahun
4. Embun diatas genteng yang berumur 1.000 tahun
5. Sepasang telur dari burung legendaris
6. Usus dari dalam perut belalang
7. Daun dari jamur LingZhi yang tumbuh di gunung dimana dewa tinggal
8. Wewangian yang terdapat pada tubuh Ratu
9. Air suci yang terdapat pada pot bunga yang dipegang oleh Dewi Kwan Im
10. Sebotol arak yang dibuat dari tanaman legendaris.


Mengetahui sang tabib telah mengeluarkan obat yang mustahil didapat, SamPek pun menyadari bahwa dirinya telah mengidap penyakit rindu. Tak lama kemudian, SamPek pun meninggal di dalam kantornya sendiri ketika sedang bekerja mengabdi kepada negara sebagai seorang gubernur.

Ternyata penyakit rindu ini juga menjangkit EngTay. Pada hari pernikahan EngTay dan MaWenCai, EngTay sendiri berisitirahat di kamar karena sakitnya yang parah, sementara orang tua dan para tamu-tamu lainnya sedang membuat sebuah acara yang meriah untuk merayakan pernikahan Engtay dan MaWenCai.

Resepsi masih terus berlanjut, tiba saatnya EngTay untuk mengunjungi rumah dari pada MaWenCai. Pada saat EngTay sedang ditandu melewati makam SamPek, sebuah angin besar menghalangi jalan mereka. EngTay pun turun dari tandu dan berdoa untuk SamPek, mengenang kembali kenangan yang sudah pernah mereka ukir bersama. Pada saat tersebut, EngTay tenggelam dalam kesedihan yang sangat dan menangis tersedu-sedu, memohon agar makam tersebut dapat terbuka.

Sebuah keajaiban terjadi, kilat menyambar makam tersebut dan akhirnya makam terbuka. Tanpa ragu-ragu EngTay pun terjun kedalam makam tersebut. Roh keduanya kemudian berubah menjadi sepasang kupu-kupu dan terbang bebas di angkasa, tidak akan pernah terpisahkan untuk selamanya.



Pendekatan Cerita


Dari ringkasan cerita dapat dilihat bahwa pada zaman dahulu, orang-orang yang diperbolehkan untuk menuntut ilmu ke sekolah-sekolah hanyalah kaum pria, karena dari dulunya kaum pria dianggap mempunyai derajat lebih tinggi daripada kaum wanita. Sehingga jika para wanita ingin menuntut ilmu, mereka harus berpakaian selayaknya pria. Karena mereka semua sangat pintar di dalam berdandan, sehingga hampir tidak mungkin bagi mereka untuk diketahui pada zaman tersebut.

Salah satu hal yang patut dikagumi dari EngTay adalah kepatuhannya kepada orang tua. Sewaktu menerima surat dari sang ayah, EngTay langsung bergegas pulang ke rumah untuk menghadap. Bukan itu saja, bahkan EngTay menurut kepada orang tua nya ketika dijodohkan kepada MaWenCai. Walaupun sebenarnya berdasarkan tradisi pada saat itu. EngTay bisa saja menolak, tetapi karena ingin membahagiakan orang tuanya, dia memutuskan untuk menurut saja. Keputusannya diambil meskipun hatinya sudah diberikan kepada SamPek, mengikat sebuah cinta tidak berwujud yang tidak dapat dipisahkan oleh siapapun.

Dari cerita ini juga terlihat sebuah ketulusan cinta pada zaman itu, dimana EngTay lebih memilih untuk melompat ke dalam kuburan SamPek ketika kuburan itu terbuka. Hal ini menunjukkan bahwa dia lebih memilih untuk mengejar cintanya daripada hidup berkelimpahan. Ketulusan cinta SamPek juga terlihat pada saat kesehatannya yang menurun drastis.

Satu lagi yang sering menjadi legenda di dalam kisah SamPek – EngTay ini adalah 10 jenis obat yang dikeluarkan oleh tabib pada saat SamPek memeriksakan dirinya, sang tabib mengeluarkan sebuah resep yang berisikan hal-hal yang tidak mungkin didapatkan. Hal ini menjadi kutipan bagi masyarakat-masyarakat zaman sekarang ketika sedang mengacu kepada sesuatu yang tidak mungkin dilakukan.

Penutup

Dari cerita ini banyak sekali hikmah yang dapat kita petik. Mungkin bagi kita manusia zaman sekarang, banyak sekali adegan-adegan yang bagi kita bodoh untuk mereka lakukan, misalnya SamPek yang terserang penyakit rindu sampai kesehatan menurut drastis dan akhirnya meninggal, EngTay yang rela terjun kedalam kuburan untuk mengejar cintanya kepada SamPek tetapi malah nyawa sendiri yang melayang.
Memang begitulah manusia, terkadang perasan mengalahkan akal sehat sehingga mengorbankan kehidupan sendiri demi cinta. Padahal jika kita menggunakan akal sehat untuk dipertimbangkan lagi, mungkin kita akan mengira bahwa semua itu tidak ada gunanya, bagaimana mungkin seorang dapat mengorbankan nyawanya hanya demi seorang yang sudah mati. Tetapi karena perasaan yang tulus itulah, sekarang legenda SamPek – EngTay bisa tersebar ke seluruh dunia!

Continue Reading!
 

blogger templates | Make Money Online