Digikid is available in Chinese and English now!!
Digikid sudah ada dalam Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris lho ^^
Check it out! Digi-ch, Digi-eng
Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Wednesday, March 30, 2011

Horee!~~ Digi masuk rumah sakit~ part 2

Pada saat ini, air mata digi kembali mengalir sendiri, tanpa dikomando, seakan air mancur yang rusak tombol on-off nya.
Akhirnya dengan perkataan yang sama, digi berhasil meyakinkan mama bahwa digi tidak apa-apa, digi hanya merasakan denyut jantung digi yang berdetak dengan sangat cepat dan digi mengatakan ingin segera pergi ke dokter untuk mengecek apa yang terjadi.


Selamat datang kembali. Mari kita lanjutkan cerita digi.


Memang kasih sayang orang tua kepada anak cucunya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Kali ini, mama digi yang tadinya pergi sekarang telah pulang, dan menanyakan kepada digi kondisi digi bagaimana. Terang saja digi sangat senang, namun demikian, karena kondisi digi yang masih belum pulih (detak jantung yang cepat), digi masih belum bisa mengucapkan kata-kata. Saat mama pulang, waktu menunjukkan sekitar pukul 12.30 siang. Digi hanya bisa tertidur, sembari menunggu jam 3, karena dokternya buka praktek jam 3 :) Dokter ini adalah dokter pribadi keluarga digi sejak kecil, semua data kesehatan digi terekam di klinik dokter ini :) Kebetulan suku dokter sama dengan suku papa digi, suku HengHua, yang membuat kami semakin dekat. Meskipun dokter ini tidak terlalu pintar, namun enak diajak berkonsultasi dan mempunyai pengalaman yang banyak. Well, tidak semua dokter harus pintar untuk bisa mengobati kita. Kadang dokter yang pintar pun bisa membunuh pasiennya hanya dengan pernyataan yang pahit :(

Setelah jam 3, digi pun turun ke lantai bawah dan masuk ke dalam mobil. Tepat pada saat ini, nenek digi pulang dari rumah sakit. Nenek digi terkena serangan ginjal sehingga harus menjalani proses pencucian darah 3 kali selama seminggu, yang kebetulan bertepatan dengan hari tersebut, hari Kamis.
Biasanya setelah menjalani proses cuci darah, kondisi nenek digi sungguh lemah, bahkan tidak bisa turun dari mobil dan berlama-lamaan untuk berbicara. Biasa kepala beliau akan terasa pusing, bahkan untuk beberapa kasus yang ekstrim muntah-muntah selama perjalanan pulang. Namun pada hari tersebut, ketika nenek digi mendengar kondisi digi yang seperti ini, langsung turun dan melihat digi yang berada di dalam mobil. Begitu melihat muka digi yang begitu pucat, nenek digi langsung mengatakan,"Kok pucat sekali? Ada apa?"
Mengingat keadaan nenek yang biasa tidak stabil, sekarang masih bisa turun untuk mengkhawatirkan kondisi digi, membuat digi sangat terharu. Memang kasih sayang orang tua kepada anak cucunya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Digi akhirnya hanya bisa terdiam dan meneteskan air mata, sambil mengatakan dengan pelan,"Tidak apa-apa kok nek, tidak apa-apa."
Selanjutnya, digi sudah tidak bisa mengingat pesan yang diamanatkan oleh nenek, digi hanya bisa mengingat nenek yang sudah naik ke atas mobil dan digi pun akhirnya berangkat ke klinik dokter. Digi juga tidak mengingat berapa lama perjalanan menuju kesana, rasanya semua terasa cepat sekali sehingga digi sampai di klinik dokter yang berlokasi tidak jauh dari tempat tinggal digi tersebut.


Sesampainya di klinik, digi pun langsung mendaftarkan diri. Suster pun melakukan administrasi seperti biasa, cek tinggi dan berat badan. Akhirnya digi duduk beristirahat sambil menunggu giliran. Tidak lama memang, atau mungkin segalanya berjalan begitu cepat, hingga akhirnya nama digi dipanggil.
Begitu memasuki ruangan dokter, digi duduk dan mama digi langsung menjelaskan keadaan digi kepada dokter, kotoran yang berwarna hitam, pusing-pusing.
Dokter pun memeriksa bagian bawah mata digi (untuk melihat apakah ada darah atau tidak). Mungkin dokter menemukan ada yang tidak beres, dokter terkejut dan menanyakan, "Kenapa bisa begini?" "Ada muntah?" Digi spontan menjawab, "Ada, muntahannya berwarna hitam. Itu karena semalam aku makan gado-gado dok." Dokter pun terkejut dan menyuruh digi untuk berbaring di atas tempat tidur. Proses selanjutnya adalah dokter mengecek anus digi, dan ternyata menemukan terdapat banyak sekali darah yang terkumpul.

Dengan demikian diagnosa dokter ditegakkan, penyakit yang digi derita adalah LUKA LAMBUNG. Hore~~ (kok jadi senang ya?)



Mama kemudian bertanya kepada dokter,"Lalu bagaimana dok? Apakah perlu rawat inap di rumah sakit?"
Selanjutnya dokter pun mengeluarkan resep obat dan mengatakan,"Kontrol kotorannya, jika dalam 2 hari masih tetap berwarna hitam atau mengeluarkan darah, siap-siap untuk masuk rumah sakit." diikuti dengan instruksi penggunaan obat yang diberikan.

Digi pun akhirnya mengucapkan terima kasih dan akhirnya pamit kepada dokter. Sebelum digi pulang, dokter berpesan kepada digi,"Ingat, masalah lambung harus mengontrol makanan, untuk sementara ini jangan makan yang keras-keras dan yang panas-panas."
Mendengar tidak boleh makan yang panas-panas, digi pun bertanya,"Kalau es krim boleh dok?"
Dokter mengatakan,"Boleh."
Digi pun kegirangan, mungkin saja pada saat ini mama digi menggeleng-gelengkan kepalanya :P
Akhhirnya digi pun naik ke mobil dan bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Bahkan pada saat ini digi mengatakan digi ingin menyetir, mengingat keadaan kaki mama yang belum sembuh total, berjalan pun masih menggunakan tongkat. Mama langsung marah dan berkata seketika,"Kamu sudah sakit! Duduk saja di samping!" Namun digi menolak dan mengatakan ingin duduk di belakang, dengan alasan lebih nyaman, karena tempat duduk di depan lebih sempit. Meskipun hal ini sangat tidak mengenakkan, karena dengan posisi duduk seperti ini mama terlihat sebagai seorang supir, tapi apa boleh buat, karena kondisi tubuh digi saat itu memang sangat tidak memadai.

Kontan digi mengambil kantong plastik yang ada di depan digi, dan langsung memuntahkan kembali semua yang ada di perut digi.

Dalam perjalanan pulang, sekali lagi, segalanya berjalan dengan sangat cepat. Di dalam mobil digi juga langsung mengkonsumsi obat yang diberikan dokter. Namun sesuatu hal yang sangat mengerikan kembali terjadi. Beberapa meter sebelum sampai di rumah, digi mengatakan kepada mama perut digi merasa tidak enak, seperti mau muntah saja rasanya. Kontan digi mengambil kantong plastik yang ada di depan digi, dan langsung memuntahkan kembali semua yang ada di perut digi. Sekali lagi, warna muntahan digi adalah hitam, dan kali ini, saking dekatnya dengan hidung digi, digi sekilas mencium bau yang sama dengan bau yang ada di toilet tadi pagi, bau amis. Kali ini lebih bau dan lebih jelas. Digi berusaha mengangkat hidung digi agar tidak tercium bau menyengat tersebut. Namun apa boleh buat, karena reaksi digi yang lambat dan bau yang menyengat tersebut, digi kembali memuntahkan isi perut digi untuk yang kedua kalinya, dengan warna yang sama, warna hitam, dan bau yang lebih menyengat lagi.
Dengan begini, digi sudah memuntahkan cairan (yang sebenarnya adalah darah) sebanyak setengah ukuran plastik. Pada saat digi tiba di rumah, digi pun memutuskan untuk membuang kantong plastik tersebut di depan rumah digi.
Darah muntahan digi pun tertumpah ke jalan raya, pemandangan ini membuat digi sedikit merinding pada saat itu. Anehnya, adik digi juga melihat pemandangan ini dan merasa biasa-biasa saja. Karena pada saat itu hujan gerimis, sehingga digi pun langsung masuk ke dalam rumah dan beristirahat.


Dokter tersebut mengatakan,"Lebih baik besok di cek HB (Hemoglobin)nya di klinik terdekat, kalau HB nya dibawah 10, harus dimasukkan ke rumah sakit."


Kali ini di dalam rumah, digi benar-benar dijaga dengan ketat. Pasalnya, kondisi digi sekarang saat ini memang benar-benar lemah Rasanya aneh ya membayangkan postur tubuh digi yang lemah tertidur di kasur gak bisa melakukan apa-apa.. Digi hanya beristirahat sampai dengan esok harinya. Oh iya, tidak lupa digi menghubungi murid-murid les digi bahwa digi tidak bisa mengajar pada hari tersebut karena tidak enak badan. Actually digi masih bersikeras ingin mengajar, namun langsung dihentikan niatnya oleh mama mengingat kondisi digi yang sangat tidak memungkinkan saat ini. (Memang sebuah tabiat buruk dari dulu bagi digi untuk melakukan sesuatu tanpa memikirkan kondisi sekarang ini). Menjelang malam hari, mama digi sudah sibuk-sibuk menelepon kepada dokter yang merupakan famili digi (lebih tepatnya adik dan adik ipar dari nenek) tentang kondisi digi pada saat itu.
Dokter tersebut mengatakan,"Lebih baik besok di cek HB (Hemoglobin)nya di klinik terdekat, kalau HB nya dibawah 10, harus dimasukkan ke rumah sakit."
Dengar-dengar pada saat ini telapak kaki digi sudah berwarna putih total. Hingga pada saat malam hari digi pun mengonsumsi obat dan akhirnya tidur dan tidak tahu menahu kejadian yang terjadi selanjutnya.


Alangkah terkejutnya ketika mengetahui bahwa Hemoglobin digi hanya berjumlah 8,8.

Hari esoknya setelah bangun, digi masih merasakan sekujur tubuh lemas, tidak bersemangat, dan jantung berdebar dengan keras, sindrom yang sama dengan kemarin - dengan kata lain - kondisi digi sama sekali tidak membaik. Akhirnya mama digi melakukan seperti yang diminta oleh adik nenek digi, yaitu mengecek Hemoglobin di klinik yang bisa dibilang lumayan dekat. Setelah mengecek Hemoglobin, mama mengira hasilnya bisa keluar langsung, ternyata harus menunggu 1 jam kemudian. Wah. Mama papa dan digi kelabakan, Kok bisa 1 jam ya? Katanya sih langsung. Yaa. apa boleh buat, akhirnya kami pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumah untuk beristirahat, setidaknya itu lebih baik daripada duduk menunggu di dalam klinik - mengingat keadaan digi seperti ini.

Akhirnya digi kembali beristirahat di rumah.

1 jam pun berlalu, dan papa membawa pulang hasil tes darah tersebut. Alangkah terkejutnya ketika mengetahui bahwa Hemoglobin digi hanya berjumlah 8,8. Sementara kadar normalnya 13 sampai 16 (ada juga yang mengatakan 12 sudah cukup, ada yang mengatakan 14). Apapun itu, kadar hemoglobin dalam darah digi sudah termasuk rendah.
Mama akhirnya memutuskan untuk menghubungi adik nenek digi, dan akhirnya memutuskan,"Ya sudah, masuk rumah sakit aja."

Kalau mau dideskripsikan kondisi digi saat itu, hanya biasa-biasa saja. Digi tidak takut terkejut - apalagi takut - untuk masuk rumah sakit. Digi tidak pernah membayangkan sakitnya disuntik oleh jarum (yang akan terbayang pas diopname di rumah sakit nanti, haha). Pada saat ini, hanyalah terbesit sebuah perasaan malas. Aduh, rasanya malas harus tinggal di rumah sakit, repot. Dan memang, hanya untuk opname 3 malam saja barang bawaan digi seperti mau pergi ke Jakarta selama 10 hari. Namun digi tegaskan kepada diri sendiri, bahwa ini berarti orang rumah memperdulikan digi dan ingin menyediakan fasilitas yang terbaik untuk digi di rumah sakit :)

Langsung saja kita menuju ke rumah sakit.

Sebelum menuju ke rumah sakit, tentu saja mama sudah meminta persetujuan dari dokter keluarga, dan akhirnya dokter keluarga memperkenalkan dokter di sebuah rumah sakit yang dekat dengan rumah digi. Sebenarnya ada beberapa rumah sakit yang lebih elite daripada rumah sakit yang digi tempati pada saat ini. Satu-satunya alasan kami memilih rumah sakit ini adalah fasilitasnya yang lumayan lengkap - meskipun tidak selengkap rumah sakit yang digi sebutkan di atas, namun masih tergolong memadai dan modern - dan yang paling penting adalah, jarak dari rumah digi dengan rumah sakit sangat dekat, bisa ditempuh dengan mobil dalam waktu 5 menit. Yang tentu saja akan sangat efisien bagi orang rumah untuk melakukan segala sesuatu dan membagi waktu antara rumah dan rumah sakit :)


Kontan digi tersentak mendengar kata 'transfusi darah' - dan digi yakin, bukan hanya digi yang terkejut, mama pasti terkejut juga.

Let's see... Digi akhirnya tiba di rumah sakit, dengan jalan yang masih sempoyongan, bersama mama, hanya berdua - Mama yang menggunakan tongkat, dan digi dengan muka pucat. Dalam lorong rumah sakit, digi masih menyempatkan diri bercanda dengan Mama,"Kira-kira kalau susternya melihat, ini siapa yang mau tinggal di rumah sakit ya? Haha." Karena kondisi kaki mama yang belum sembuh total sehingga mengharuskan mama untuk memakai tongkat ketika berjalan (sebenarnya digi sendiri lebih prefer jika mama mau memakai kursi roda, karena kadang-kadang kaki mama masih sering sakit ketika berjalan, ataupun ketika digerakkan).
Akhirnya kami tiba di ruang ICU dan suster yang menjaga di ruang ICU langsung menanyakan,"Siapa yang mau diopname?" Digi spontan menjawab,"Aku sus."

Akhirnya digi dipersilahkan berbaring, dan kemudian menanyakan gejala-gejala apa yang ada. Digi pun kemudian menjelaskan secara terperinci gejala digi. Dokter akhirnya datang dan dengan cepat mengkomando suster untuk menyuntikkan beberapa jenis obat ke tubuh digi, kalau tidak salah ada 3 jenis obat. Nah dari sini lah mulai aksi suntik menyuntiknya.
Datanglah suster yang pertama menyuntik bagian lengan kanan digi (mungkin sejenis vitamin atau apa). Yang kedua adalah mengambil sampel darah digi, nah ini yang digi agak kesal, pasalnya susternya mengambil di bagian kanan lengan digi. Padahal digi sudah katakan,"Sus, biasa aku ngambil darah di bagian kiri." Suster tersebut masih dengan ngotot dan gaya sok tahunya mengatakan,"Iya, kita coba dulu di bagian kanan."
Alhasil, daging di tubuh yang empuk ini disuntik secara cuma-cuma. Bukan hanya itu, suster ini akhirnya memaksa untuk tetap mengambil darah dari tangan kanan digi, namun kali ini diganti posisinya, di bagian atas telapak tangan digi (tempat jarum infus disuntikkan), dan inilah suntikan yang paling sakit yang pernah digi rasakan. Pas suster menginjeksikan suntik ke dalam kulit, suster itu terdiam sebentar, tidak ada darah yang keluar. Akhirnya kepala suntik itu pun digeser-geser, dan kemudian digeser-geser lagi (bayangkan jarum suntik yang belum dikeluarkan dari kulit, masih tertancap dalam kulit dan digeser-geser, sakitnya itu....) Dalam hati digi,"Ya ampun Tuhan ampunilah aku karena aku hampir akan menyumpahi suster ini." Akhirnya digi hanya terdiam saja, toh suster ini tahu yang paling baik untuk digi, digi juga tidak banyak komentar lagi. Hingga akhirnya, ntah darimana datangnya, darah nya keluar sendiri. Whew, akhirnya selesai juga.

Dilanjutkan dengan jarum infus. Kali ini di nadi di atas telapak tangan kiri digi, digi sih tidak terlalu takut, karena sudah sering melihat pasien yang disuntik ,sementara digi sendiri bisa dikatakan tidak terlalu takut disuntik. Hanya saja, setelah jarum tersebut ditancapkan di dalam nadi, ada sesuatu yang tidak enak terasa mengganjal di tangan kiri digi. Ya jelas lah, namanya saja sudah disuntik, pasti ada perasaan tidak enak. Pada saat ini, barulah digi merasa sedikit ketakutan, "Apakah aku harus melewati 3 hari disini dengan diinfus dan perasaan tidak nyaman ini?"
Namun digi segera menyingkirkan perasaan itu dan mengatakan kepada diri sendiri, semua akan berjalan dengan baik-baik saja.

Setelahnya mama masuk dan menanyakan kepada dokter bagaimana kondisi anak mama. Dokter mengatakan,"Kalau melihat kondisi sekarang, tampaknya harus transfusi darah secepatnya."

....
....
....
!!!!

Kontan digi tersentak mendengar kata 'transfusi darah' - dan digi yakin, bukan hanya digi yang terkejut, mama pasti terkejut juga. "Separah itukah sampai harus melakukan transfusi darah?", tentu saja pertanyaan ini digi tanyakan kepada diri digi sendiri - yang pada akhirnya digi ketahui pada saat itu mama juga menanyakan hal yang sama kepada dirinya sendiri. Akhirnya mama dengan nada yang sedikit terkejut - tapi tenang - lanjut bertanya,"Berapa bungkus, Dok?".
"Kalau dilihat dari kadar HB nya 8.8, maka harus transfusi sebanyak 4 bungkus - 125cc."
Mama kemudian menanyakan kepada Dokter,"HARUS transfusi darah dok? Tidak bisa menunggu perkembangan kondisi selanjutnya?"
"Yaaa.. Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi? Kalau HBnya sudah turun sampai 6, maka bisa sampai kepada kondisi tidak sadarkan diri, dan pada saat tersebut, akan sangat susah untuk menaikkan HB nya lagi."
Mendengar pernyataan dari dokter ini, mama pun akhirnya pasrah dan menanyakan pendapat digi. Digi bilang,"Ya kalau dokter udah bilang begitu mau gimana lagi Ma."
Dan akhirnya menanyakan juga pendapat papa, papa tidak menyatakan keberatan. Maka akhirnya pun memutuskan untuk transfusi darah. Kemudian sampel darah digi diambil lagi, dan dibawa ke PMI untuk dicari donor darah yang cocok.


-To be continued part 3-

Continue Reading!

Saturday, March 26, 2011

Horee!~~ Digi masuk rumah sakit~ part 1

Salam para penggemar digikid ^^

Bagaimana kabar kalian-kalian semua?

Yang pasti menjelang masa pancaroba alias masa pergantian musim hujan ke musim kemarau (atau sebaliknya) akan sedikit memberatkan bagi teman-teman yang kondisi tubuhnya lemah :)
Jangan lupa untuk menjaga kondisi tubuh sendiri ya, terutama akhir-akhir ini, di daerah Medan sendiri saja sudah beberapa hari ini dilanda hujan besar. Mungkin fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di kota Medan saja, bisa juga terjadi di kota-kota lainnya di daerah Indonesia
Satu hal yang pasti adalah untuk tetap menjaga stamina tubuh, dengan cara banyak minum air putih, tidak makan telat, tidur tepat waktu. Jangan lupakan sarapan pagi, karena sangat penting untuk menjaga keaktifan tubuh dalam sehari tersebut.
Juga perhatikan kondisi tubuh kita sampai sedetil-detilnya. Bisa saja perubahan kecil yang terjadi dalam tubuh kita bisa menjadi tanda-tanda sesuatu yang buruk sedang terjadi pada tubuh kita.


Apakah kita berkeringat lebih banyak daripada biasanya?
Apakah kita tidak konsentrasi dalam melaksanakan aktifitas?
Apakah bagian perut terasa sakit, tidak enak?
Apakah kita sering merasa sakit kepala, atau tubuh kurang fit, lemas?

Jika gejala-gejala di atas (ataupun perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh lainnya) terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama, well, katakanlah 2-3 hari, maka perlulah teman-teman check-up ke dokter.

Seperti yang digi alami akhir-akhir ini. Terang saja, digi baru saja keluar dari rumah sakit.

Mungkin banyak sekali yang heran, perawakan digi kan tinggi besar, bagaimana mungkin bisa masuk rumah sakit?

Mungkin bisa dikatakan kelihatan kuat di luar tapi lemah di dalam. Well, sebenarnya bukan itu juga sih, digi kuat di luar dan di dalam kok @_@

Langsung saja kita menuju kronologi kejadiannya mulai dari bagaimana digi bisa masuk ke rumah sakit hingga digi akhirnya bisa keluar dari rumah sakit, meskipun dengan kondisi yang masih kurang fit.

---Namun kali ini berbeda, kali ini, kotorannya dalam bentuk sedikit cairan, menempel pada jamban, dan bau amis---


Pada hari Kamis, 24 Maret 2011 yang lalu, digi terbangun di pagi hari dan merasa kurang enak badan. Digi pun akhirnya memutuskan untuk buang air besar di toilet.
Oh iya, hari-hari sebelumnya, digi sudah mengamati bahwa ternyata kotoran yang digi buang berwarna hitam, karena digi tidak merasakan adanya perubahan kondisi tubuh (meskipun sudah mengetahui bahwa feses berwarna hitam - namun digi tidak tahu bahwa feses berwarna hitam ternyata mengandung darah pada saat itu), digi pun melanjutkan aktifitas seperti hari-hari biasa.
Hingga pada hari Rabu, digi sudah mulai mengamati denyut nadi digi bertambah kencang, tidak seperti biasanya, tubuh semakin lemas, namun juga tidak digi gubris. Tiba pada hari Kamis tersebut, digi kembali buang air besar berwarna hitam. Namun kali ini berbeda, kali ini, kotorannya dalam bentuk sedikit cairan, menempel pada jamban, dan bau amis. Pada saat tersebut digi masih belum mengetahui bahwa bau tersebut adalah bau amis, digi mengira bau yang ditimbulkan adalah bau jengkol (maklum, pada hari Sabtu yang lalu digi baru saja mengkonsumsi jengkol sebanyak 2 buah), jadi digi tidak menghiraukan bau yang keluar dan menganggap semua itu normal-normal saja, termasuk feses yang berwarna hitam.


---Ternyata memang benar, hati dari orangtua tidak akan pernah berubah sepanjang masa, mengkhawatirkan anak-anaknya.---

Setelah keluar dari toilet, digi langsung menuju ruang tamu, pada saat ini, digi sudah merasa ada yang tidak beres dengan tubuh digi, pandangan menjadi sedikit kabur, tubuh menjadi sedikit lemas, jalan juga sudah tidak karuan, karena sudah tidak bertenaga pada saat tersebut. Digi akhirnya terduduk di atas sofa ruang tamu. Pada saat tersebut juga, pandangan digi seketika menjadi kabur menjadi gelap seketika, digi langsung berpikir, "Celaka, ini sepertinya sudah mau pingsan." Pada saat itu, digi langsung berdoa ,"Ya Tuhann, saya tidak boleh pingsan sekarang." Hebatnya, kesadaran digi memang kembali, namun tubuh digi masih tetap lemah. Digi pun merasa ingin muntah, kontan saja digi beranjak dari sofa dan menuju toilet, dengan sangat pelan.

Sesampainya di toilet, digi langsung terduduk di dudukan toilet, dan dalam waktu kurang dari 5 detik, digi langsung memuntahkan semua yang ada dalam perut digi "Hoeeeekkk" kira-kira begitu bunyinya, sebanyak 2-3 kali, dan warnanya ? hitam semua :)

....
...
...

"Lho? Kenapa kali ini muntahannya berwarna hitam ya?" pikir digi. Digi pun terpikirkan, karena pada malam sebelumnya, pada acara hari kelahiran Dewi Kwan Im, digi mengunjungi vihara yang ada di dekat rumah untuk menghadiri jamuan makan vegetarian. Pada acara tersebut digi mengonsumsi gado-gado, meskipun jumlahnya sedikit.
Sekali lagi digi berpikir "Ah, mungkin saja ini adalah gado-gado yang tadi digi makan, namanya juga muntah, pasti semua yang dimakan tadi dimuntahkan dong. Tidak apa-apalah".

Akhirnya setelah muntah-muntah, digi pun membersihkan lantai toilet bekas muntahan, dan akhirnya keluar dari toilet, bermaksud untuk minum segelas air putih dan melanjutkan tidur digi.

Siapa sangka, ketika digi berjalan keluar, digi bertemu dengan mama yang sudah terduduk di sofa. "Ada apa, kamu muntah ya?" kata mama. "Iya, ma. Gakpapa kok, muntah yang tadi di makan, sekarang udah agak baikan," balas digi. Dan pada kenyataannya digi memang merasa a lot-lot better setelah muntah. Sungguh digi tidak menyangka bisa membangunkan mama yang sedang tidur. Ternyata memang benar, hati dari orangtua tidak akan pernah berubah sepanjang masa, selalu mengkhawatirkan anak-anaknya. Akhirnya digi mengatakan,"Sudah tidak apa-apa kok ma, mama tidur aja, aku juga udah mau tidur. Selamat malam ma.", akhirnya mama pun kembali tidur. Digi pun pergi ke dapur untuk meneguk segelas minuman dan kembali melanjutkan tidur digi.

---Saat berada di kantin, teman-teman sudah mengatakan wajah digi pucat, bibir digi juga putih, tanda-tanda kurang darah yang saat itu tidak digi sadari.---

Pada keesokan harinya, digi sudah mulai merasa sangat tidak normal, ditandai dengan bertambah cepatnya denyut nadi digi, sangat-sangat cepat, terutama ketika digi melakukan aktifitas berjalan dan berpindah tempat. Selain itu digi juga merasa tubuh digi sangat tidak bersemangat, lesu.
Setelah selesai mandi dan beribadah, digi pun akhirnya menemui adik digi yang sedang duduk santai di sofa, menanyakan "Sebenarnya koko demam gak sih?".. Adik digi melihat sekilas kepada digi, mengambil tangannya dan meletakkannya ke kepala digi, mengamati sebentar dan mengatakan dengan nada sedikit mengejek "Tidak demam kok."
Digi hanya tertawa kecil, lalu setelah mengkonsumsi sedikit sarapan, digi pun akhirnya bersiap-siap untuk pergi ke kampus.

Sesampainya di kampus, digi pun langsung menuju ruangan kelas. Pada saat itu dosen belum datang. Untunglah, karena dosennya tergolong baik, jadi digi tidak sanggup hati bila harus telat pada pelajaran dosen tersebut. Pada saat perjalanan menuju ruangan kelas pun digi sudah merasakan detak jantung digi bergerak sangat cepat. Dan digi sangat tidak bersemangat. Digi pun duduk dan hanya berdiam diri. Unluckily, orang di samping digi terus mengajak digi berbicara. Terpaksa hanya digi ladeni dengan beberapa patah kata. Selanjutnya, kegiatan yang terjadi selama pelajaran ini tidaklah begitu signifikan, hanya belajar dan belajar, hingga akhirnya dosennya keluar, digi pun menyempatkan waktu nongkrong di kantin, untuk menghabiskan waktu. Pada saat berada di kantin, teman-teman sudah mengatakan wajah digi pucat, bibir digi juga putih, tanda-tanda kurang darah yang saat itu tidak digi sadari. Digi tidak menggubris perkataan teman digi, dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke Wisma USU dengan teman digi untuk berkunjung ke tempat dosen Cina berada. Pada saat ini jam sudah menunjukkan pukul 09.30.

---pada saat ini jugalah, digi menyadari, kondisi digi sudah masuk tingkat kritis dan tidak main-main lagi---

Maksud kedatangan digi adalah untuk membeli tiket ke Bali. Karena dosen Cina mengatakan sangat ingin berkunjung ke Bali, dan kebetulan salah satu perusahaan penerbangan juga sedang melakukan promosi gencar-gencaran, akhirnya digi dan teman cowo digi memutuskan untuk menemani kedua dosen wanita yang berasal dari daerah HuNan tersebut.
Dalam proses membeli tiket, digi semakin merasa tidak enak badan, digi merasa sudah tidak sanggup untuk melanjutkan aktifitas belajar pada pukul 11.40 nanti. Akhirnya sekitar jam 10.40, digi menelepon kepada mama digi, meminta izin kepada mama untuk bisa pergi ke Bali, confirm harga tiket dan jadwal kepergian. Setelah mama setuju, digi mengakhiri percakapan di telepon dengan "Ma, nanti jam 3 kita ke dokter aja ya. Aku udah nggak enak badan banget." Dan mama pun mengatakan "OK."


Waktu berjalan, akhirnya dalam kurun waktu kurang lebih satu setengah jam , digi berhasil menyelesaikan pembelian tiket Medan-Bandung-Bali-Bandung-Medan. Digi merasa sedikit lega. Pada saat ini kondisi digi juga sudah benar-benar drop, digi hanya bisa tertidur di kamar saja, memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Tidak lama kemudian, digi merasakan rasa mulas pada perut digi. Digi pun memutuskan untuk menggunakan toilet yang ada di Wisma dosen tersebut. Baru pada saat inilah, digi menyadari bahwa ternyata kotoran yang digi keluarkan adalah darah, pada saat ini jugalah, digi menyadari, kondisi digi sudah masuk tingkat kritis dan tidak main-main lagi. Akhirnya setelah menunggu kepulangan dosen ke wisma, digi pun pamit pulang ke rumah. Hebatnya pada saat ini, digi masih bisa membawa motor, haha. Meskipun dalam perjalanan, digi terus berdoa "Ya Tuhan saya harus sampai di rumah dengan motor ini. Selamatkanlah aku dalam perjalanan." Terus dan terus berdoa sepanjang perjalanan :)


-- Hingga akhirnya digi berhasil meyakinkan papa, mengatakan dengan suara yang sangat pelan "Tidak apa-apa pa, air matanya keluar sendiri." ---


Sesampainya di rumah, digi langsung menuju rumah. Digi melihat papa digi sedang berada di belakang rumah berbincang dengan tetangga. Karena kondisi digi yang benar-benar sudah critical down pada saat itu, digi tidak menyapa papa digi dan langsung menuju ke lantai 2. Sesampainya di lantai 2 digi langsung beristirahat. Pada saat inilah digi merasakan jantung digi berdebar begitu kerasnya sehingga digi benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tiba-tiba, papa digi menyahut-nyahut digi dari belakang. Digi pun tidak menggubris panggilan papa karena sudah tidak sanggup lagi. Parahnya, semakin tidak digubris, sahutan papa digi semakin kuat. Sehingga akhirnya digi hanya bisa menyahut kecil sambil keluar terduduk di tangga.
Mungkin pada saat ini papa digi merasa aneh kenapa tidak ada yang menyahut, sehingga memutuskan untuk mengintip apa yang terjadi kepada anak laki-lakinya. Pada saat papa melihat digi terduduk di tangga, papa langsung dengan segera menuju ke atas dan menanyakan dengan nada khawatir "Ada apa nak? Apa yang terjadi? Kamu tidak apa-apa kan?" Namun karena keadaan digi yang sudah tidak memungkinkan saat itu, digi tidak bisa melaukkan apa-apa, bahkan menyahut sekalipun. Hingga akhirnya digi meneteskan air mata, dan ini semakin mengejutkan papa, papa pun langsung memapah digi masuk ke kamar tidur dan membaringkan digi disana. Di kamar tidur pun digi masih belum bisa menyahut, hanya bisa terus menangis dan menangis (digi ngga tahu kenapa bisa menangis ya, yang pasti kondisi saat itu benar-benar udah ngga memungkinkan untuk bicara).

Papa digi masih dengan sangat khawatir menanyakan "Benar tidak apa-apa? Kecelakaan ya nak? Atau kenapa?" Hingga akhirnya digi berhasil meyakinkan papa, mengatakan dengan suara yang sangat pelan "Tidak apa-apa pa, air matanya keluar sendiri." -.-" agak aneh memang kedengarannya, tapi memang itulah kenyataannya. Well. akhirnya digi pun berhasil untuk menghentikan air mata yang keluar, haha. Dan beristirahat sejenak. Kemudian mama digi pun pulang dan menanyakan kondisi yang sejelas-jelasnya kepada digi.
Pada saat ini, air mata digi kembali mengalir sendiri, tanpa dikomando, seakan air mancur yang rusak tombol on-off nya.
Akhirnya dengan perkataan yang sama, digi berhasil meyakinkan mama bahwa digi tidak apa-apa, digi hanya merasakan denyut jantung digi yang berdetak dengan sangat cepat dan digi mengatakan ingin segera pergi ke dokter untuk mengecek apa yang terjadi.

-To be continued part 2-

Continue Reading!

Saturday, February 5, 2011

SELAMAT TAHUN BARU IMLEK!!


Selamat tahun baru imlek bagi teman-teman yang merayakan!

Maaf atas keterlambatan posting digi, karena satu dan kesibukan yang lain sehingga digi tidak bisa sering-sering mengupdate blog lagi. Malam ini karena digi merasa senggang dan sedang in untuk update blog, ya digi lakukan aja. Mengingat pada zaman dulu digi sangat senang menuang semua kegemaran digi kepada blog yang tercinta.

Semoga di tahun kelinci ini semua bisa berjalan dengan lancar, baik rohani maupun jasmani :)



Tiba-tiba saja digi teringat dengan masa-masa dimana digi sangat senang dengan yang namanya 'blogwalking', 'update blog', 'tukar link', atau apapun itu yang berhubungan dengan blog. Masih terngiang dengan jelas di ingatan digi, dimana digi bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menghias blog, yang kalau dipikir-pikir sekarang mungkin akan sangat membingungkan,"Darimana sih keluarnya waktu tersebut untuk melakukan hal-hal itu?"

Seiring dengan berjalannya waktu, bertambahnya usia, digi semakin menyadari kalau memang waktu berlalu dengan cepat. Tidak ada yang bisa menghentikan perubahan waktu, tidak ada juga yang bisa mengulang waktu yang telah terlewati. Demikian juga sebuah perenungan bahwa digi ternyata bukan lagi anak kecil seperti zaman dahulu, yang bisa menangis setiap saat, lalu pada detik berikutnya bisa tertawa. Digi juga bukan lagi anak SMP-SMA yang penuh dengan segala keacuhan dan segala ketidaktahuannya akan dunia ini, yang menganggap bahwa layar 17" inilah yang akan menemaninya melewati satu kehidupan ini.

Sedikit demi sedikit, karena anugerah Tuhan jugalah digi bisa menyadari bahwa ternyata manusia memang sebuah sosok yang sangat kecil di jagat raya ini, yang diciptakan Tuhan untuk mempermudah kehidupan manusia lain, bukan hanya berfoya-foya untuk diri sendiri. Barangkali sesosok harapan digi yang sejak kecil digi idam-idamkan, dimana manusia bisa hidup di dalam keharmonisan tanpa ada kekacauan, pernah pudar dalam angan-angan digi ketika menghadapi kacaunya kehidupan, pahitnya kehidupan, dan kerasnya kehidupan ini. Namun berkat bantuan teman-teman dan senyuman yang diberikan, tidak ada salahnya kalau digi sekarang kembali berangan-angan tentang indahnya sebuah dunia perdamaian. Meskipun sangat jauh dari kenyataan, digi tidak keberatan untuk menjadi bagian dari sejarah perwujudan dunia tersebut, yang akan digi lakukan dalam setiap tindakan kecil sehari-harinya. :)

Mungkin saja kata-kata yang digi tulis ini tidak akan mampu mengekspresikan semua isi hati digi sekarang ini, namun digi rasa sudah cukup untuk mewakili apa yang sedang digi rasakan sekarang ini.

Semoga semua dari kita selalu bersyukur atas berkat yang diterima dari Tuhan, apapun itu, betapapun sedikitnya, banyaknya itu, semoga kita selalu menerimanya dengan rasa syukur. Karena Tuhan tahu yang terbaik untuk manusia sendiri :)

Semoga di awal tahun baru kelinci ini, demikian juga di awal tahun 2011 menjadi awal yang baik bagi kita semua, untuk lebih mencintai diri sendiri, lebih mencintai masyarakat, lebih mencintai negara, lebih mencintai dunia ini.

Have a nice day :)

Continue Reading!

Saturday, February 6, 2010

"Cinta yang Terlarang"

Mungkin tidak semua orang yang membaca posting ini akan mengerti apa maksud dari post ini sendiri...

Mungkin juga ada orang yang bertanya-tanya, kenapa blog ini harus diisi dengan posting yang tidak berguna seperti ini...

Posting ini hanyalah semata-mata luapan perasaan dari si penulis.. mengungkapkan perasaan yang sudah tidak terbendung lagi...




3 tahun yang lalu... itulah kesalahan terbesar yang pernah kulakukan..... Aku bertemu denganmu, berkenalan denganmu, dan akhirnya.... kujatuh cinta padamu...

Tetapi mungkin pandangan dari masyarakat yang telah memburamkan cintaku padamu.
Mungkin status sosial lah yang mengabukan cintaku yang begitu murni padamu.
Mungkin yang menghalangi cintaku padamu semata-mata hanyalah karena perasaan takut akan dicemooh oleh orang lain.

Kadang aku bertanya kepada Tuhan..
Mungkinkah jika semua ini tidak terjadi di dalam hidupku?
Mungkinkah jika orang lain saja yang harus menerima penderitaan seperti ini?
Mungkinkah jika orang lain tidak menetapkan suatu peraturan yang begitu mengekang perasaan cintaku... "Cinta yang Terlarang"??

Mungkinkah pada suatu hari nanti, engkau akan menerima perasaan cintaku?

Ataukah.. Selama ini aku hanya berkhayal?
Ataukah.. Selama ini aku hanya diliputi perasaan kasmaran tidak bertuan?
Ataukah.. Selama ini aku hanya digelapkan oleh nafsu sesaat... bukan cinta sejati?

Aku selalu berdoa kepada Tuhan.. Agar perasaan yang selama ini kuanggap cinta itu dapat hilang dari diri manusia yang hina ini..
Lebih baik satu orang saja yang tersakiti, daripada dua orang harus tersakiti pada waktu yang sama, karena cinta egois seorang saja.
Lebih baik ku saja yang mengorbankan cintaku.. daripada kupaksakan cinta yang dianggap tabu itu.
Lebih baik kulepaskan saja perasaan ini, daripada ku harus menerima cinta yang bertepuk sebelah tangan... cinta yang dianggap kotor, hina, oleh sebagian besar masyarakat.


Dan setiap malam aku berdoa... dan berdoa...

Karena kutahu... perasaan cinta yang sesungguhnya timbul, ketika engkau bahagia, melihat orang yang engkau cintai bahagia..

Dan sesungguhnya itu sudah cukup untukku...

Dan akan selalu kudoakan... agar hidupmu bahagia... di bumi nan jauh disana..


-Luapan hati seorang dengan perasaan 'cinta yang terlarang'-
26-April-2009

Continue Reading!

Friday, May 15, 2009

4 Skenario Kehidupan

Silahkan dibaca dan direnungkan bersama-sama...

-----------------------------------------------------------------------------------


Skenario 1

Andaikan Anda sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi. Karena tidak mendapatkan tempat duduk, Anda berdiri di dalam gerbong tersebut. Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi Anda untuk menggoyang-goyangkan kaki. Di tengah perjalanan, Anda dikejutkan oleh seseorang yang menepuk bahu Anda. "Mas. Handphone mas barusan jatuh nih," kata orang tersebut seraya
memberikan handphone milik Anda. Apa yang akan Anda lakukan kepada orang tersebut? Mungkin Anda akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.

Skenario 2

Sekarang kita beralih kepada skenario kedua. Andaikan Anda tidak sadar handphone Anda terjatuh, dan ada orang yang melihatnya dan memungutnya. Orang itu tahu handphone itu milik Anda tetapi tidak langsung memberikannya kepada Anda. Hingga tiba saatnya Anda akan turun dari kereta. Sesaat sebelum Anda turun dari kereta, orang itu menepuk Anda dan menyodorkan handphone Anda sambil berkata "Mas. Handphone mas barusan jatuh nih." Apa yang akan
Anda lakukan kepada orang tersebut? Mungkin Anda akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut, tetapi saya pikir rasa terima kasih yang Anda berikan akan lebih besar daripada rasa terima kasih yang Anda berikan pada orang di skenario pertama (orang yang langsung memberikan handphone itu kepada Anda). Setelah itu mungkin Anda akan langsung turun dari kereta.

Skenario 3

Marilah kita beralih kepada skenario ketiga. Pada skenario ini, Anda tidak sadar handphone Anda terjatuh, hingga Anda menyadari handphone Anda tidak ada di kantong Anda saat Anda sudah turun dari kereta. Anda pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone Anda, berharap ada orang baik yang menemukan handphone Anda dan bersedia mengembalikannya kepada Anda. Orang yang sejak tadi menemukan handphone Anda (namun tidak memberikannya kepada Anda) menjawab telepon Anda. "Halo, selamat siang mas. Saya pemilik handphone yang ada pada mas sekarang," kata Anda kepada orang yang sangat Anda harapkan berbaik hati mengembalikan handphone itu kembali kepada Anda.
Gayung bersambut, orang yang menemukan handphone Anda berkata, "Oh, ini handphone mas ya. Oke deh, nanti saya akan turun di stasiun berikut. Biar mas ambil di sana nanti ya." Dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan, Anda pun pergi ke stasiun berikut dan menemui "orang baik" tersebut. Orang itu pun memberikan handphone Anda yang telah hilang. Apa yang akan Anda lakukan pada orang tersebut? Satu hal yang pasti, Anda akan mengucapkan
terima kasih, dan sepe rti nya akan lebih besar daripada rasa terima kasih Anda pada skenario kedua bukan? Bukan tidak mungkin kali ini Anda akan memberikan hadiah kecil kepada orang yang menemukan handphone Anda tersebut.

Skenario 4

Terakhir, mari kita perhatikan skenario keempat. Pada skenario ini, Anda tidak sadar handphone Anda terjatuh, Anda turun dari kereta dan menyadari bahwa handphone Anda telah hilang, Anda mencoba menelepon tetapi tidak ada yang mengangkat. Sampai akhirnya Anda tiba di rumah. Malam harinya, Anda mencoba mengirimkan SMS: "Bapak/Ibu yang budiman. Saya adalah pemilik handphone yang ada pada bapak/ibu sekarang. Saya sangat mengharapkan kebaikan hati bapak/ibu untuk dapat mengembalikan handphone itu kepada saya. Saya akan memberikan imbalan sepantasnya. " SMS pun dikirim dan
tidak ada balasan. Anda sudah putus asa. Anda kembali mengingat betapa banyaknya data penting yang ada di dalam handphone Anda. Ada begitu banyak nomor telepon teman Anda yang ikut hilang bersamanya. Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, orang yang menemukan handphone Anda menjawab SMS Anda, dan mengajak ketemuan untuk mengembalikan handphone tersebut. Bagaimana
kira-kira perasaan Anda? Tentunya Anda akan sangat senang dan segera pergi ke tempat yang diberikan oleh orang itu. Anda pun sampai di sana dan orang itu mengembalikan handphone Anda. Apa yang akan Anda berikan kepada orang tersebut? Anda pasti akan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepadanya, dan mungkin Anda akan memberikannya hadiah (yang kemungkinan
besar lebih berharga dibandingkan hadiah yang mungkin Anda berikan di skenario ketiga).

Moral

Apa yang Anda dapatkan dari empat skenario cerita di atas? Pada keempat skenario tersebut, Anda sama-sama kehilangan handphone, dan ada orang yang menemukannya. Orang pertama menemukannya dan langsung mengembalikannya kepada Anda. Anda berikan dia ucapan terima kasih. Orang kedua menemukannya dan memberikan kepada Anda sesaat sebelum Anda turun dari kereta. Anda berikan dia ucapan terima kasih yang lebih besar. Orang ketiga menemukannya dan memberikan kepada Anda setelah Anda turun dari kereta. Anda berikan dia ucapan terima kasih ditambah dengan sedikit hadiah. Orang keempat menemukannya, menyimpannya selama beberapa hari, setelah itu baru mengembalikannya kepada Anda. Anda berikan dia ucapan terima kasih ditambah hadiah yang lebih besar.

Ada sebuah hal yang aneh di sini. Cobalah pikirkan, di antara keempat orang di atas, siapakah yang paling baik? Tentunya orang yang menemukannya dan langsung memberikannya kepada Anda, bukan? Dia adalah orang pada skenario pertama. Namun ironisnya, dialah yang mendapatkan reward paling sedikit di antara empat orang di atas.

Manakah orang yang paling tidak baik? Tentunya orang pada skenario keempat, karena dia telah membuat Anda menunggu
beberapa hari dan mungkin saja memanfaatkan handphone Anda tersebut selama itu. Namun, ternyata dia adalah orang yang akan Anda berikan reward paling besar.

Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Anda memberikan reward kepada keempat orang tersebut secara tulus, tetapi orang yang seharusnya lebih baik dan lebih pantas mendapatkan banyak, Anda berikan lebih sedikit.

OK, kenapa bisa begitu? Ini karena rasa kehilangan yang kita alami semakin bertambah di setiap skenario. Pada skenario pertama, kita belum berasa kehilangan karena kita belum sadar handphone kita jatuh, dan kita telah mendapatkannya kembali. Pada skenario kedua, kita juga belum merasakan kehilangan karena saat itu kita belum sadar, tetapi kita membayangkan rasa kehilangan yang mungkin akan kita alami seandainya saat itu kita sudah turun dari kereta. Pada skenario ketiga, Anda sempat merasakan kehilangan, namun
tidak lama Anda mendapatkan kelegaan dan harapan Anda akan mendapatkan handphone Anda kembali. Pada skenario keempat, Anda sangat merasakan kehilangan itu. Anda mungkin berpikir untuk memberikan sesuatu yang besar kepada orang yang menemukan handphone Anda, asalkan handphone itu bisa kembali kepada Anda. Rasa kehilangan yang bertambah menyebabkan Anda semakin menghargai handphone yang Anda miliki.

Saat ini, adakah sesuatu yang kurang Anda syukuri? Apakah itu berupa rumah, handphone, teman-teman, kesempatan berkuliah, kesempatan bekerja, atau suatu hal lain.
Namun, apakah yang akan terjadi apabila kamma baik yang mendukung kita untuk memiliki segalanya itu telah habis? Bagaimana?
Segalanya akan hilang dari genggaman kita. Kita pasti akan merasakan kehilangan yang luar biasa. Saat itulah, kita baru dapat mensyukuri segala sesuatu yang telah hilang tersebut.

Namun, apakah kita perlu merasakan kehilangan itu agar kita dapat
bersyukur? Saya rasa sebaiknya tidak. Syukurilah segala yang kita
miliki, termasuk hidup kita, selagi itu masih ada. Jangan sampai kita menyesali karena tidak bersyukur ketika itu telah lenyap dari diri kita.

Jangan pernah mengeluh dengan segala hal yang belum diperoleh.
Bahagialah dengan segala hal yang telah diperoleh.
Sesungguhnya, hidup ini berisikan banyak kebahagiaan.
Bila kita mampu memandang dari sudut yang benar.

Continue Reading!

Monday, May 4, 2009

Andaikan ada Mesin Waktu...

Halo para pembaca... Digikid lagi senggang nih abis ujian ^^ Jadi digikid coba tulis aja deh, pas kemaren dapat inspirasi...

Kira-kira nich, kalau ada mesin waktu, yang kaya doraemon itu lho... Kalau dikasih kesempatan cuma 1x make, kita mau ngapain yah?

Hmmm.. Tentu aja ini bukan pertanyaan yang mudah, pasalnya kita cm dikasih 1 kesempatan untuk menggunakan mesin waktu ini, beda cerita dong, kalau mesin waktunya kaya punya doraemon tinggal buka laci trus naik, sampai deh ^^

Digi sih sebenarnya secara pribadi juga sempat bingung yah, kira-kira kalau mesin waktunya bisa dinaikin sekali doang, mau diapain yahhH??

Kalau digikid yahh... yah.... mau diapain yah? bingung juga @_@

Mungkin aja digi bakalan balik ke masa lalu untuk melihat, kira-kira waktu Tuhan menurunkan 10 amanat suci ke dunia itu kaya gimana si? Pasti keren banget dong ^^;

Atau mungkin digi mau lihat waktu katanya titisan Buddha lahir ke dunia, tangan ama kakinya ada lambang bulan ama matahari? Wow keren tuh

Atau mungkin digi ngeliatin waktu Sang Buddha lahir, kakinya emang bener yah menapak 7 tapak trus keluar bunga teratainya??

Atau mungkin digi bakalan ngeliat, bener ngga sih Yesus itu bangkit dari kubur setelah meninggal 3 hari?

Atau mungkin digi ngeliat, ehh.. hidup Nabi SAW itu kaya gimana sich? Tampangnya gimana sih?

Atau mungkin digi pengen ngeliat waktu muda mama digi cakepnya kaya gimana, kok sampe papa mauuu XDDDDD

Wahahaha.. Yang jelas, banyak sekali dong keinginan yang terlintas di pikiran kita :D
Mulai dari ini dan itu..

Nah.. Permasalahannya nih kalau cuma dikasih kesempatan sekali, kita mau milih yang mana ^_^

Dari sini kita bisa belajar memprioritaskan pilihan dalam hidup kita ^^

Mungkin kalau mesin waktunya bisa dipake berulang kali, digi bakalan gunain itu mesin waktu untuk hal yang ngga-ngga, misalnya:
ngeliat gimana lucunya digi waktu masih bayi, dsb

Nah, tapi karena kita cm punya 1 kesempatan, mau ngga mau dong kita harus memilih yang paling penting, dan yang paling mepet tentunya ^^

Hidup kita terkadang jg begitu, dihadapkan kepada beberapa pilihan, dan tentunya, kita cuma bisa memilih 1 ^^
Terkadang jalan yang kita pilih itu bukanlah jalan yang mulus-mulus amat.. Kalau saja kita menoleh ke jalan sebelah, mungkin akan tergores sebuah penyesalan, "kok bodoh amat ya tau gini gue tadi ngambil yang di sebelah!"

Tapi apa gunanya sih menyesal? Meskipun hidup ini penuh lika-liku, penuh dengan masalah, penderitaan, kesusahan, tangisan, ada juga kegembiraan, sukacita, tawa riang, toh kita juga harus melewati hidup ini.

Ngga peduli hari ini kita menangis, menyesal, tertawa, sedih, gembira, marah, toh kita juga akan melewati hari ini, dan sampai pada hari esok.

Kalau udah tau begitu, kenapa kita ngga melewati hari-hari kita dengan penuh tawa aja? Daripada kita selalu stress mikirin segala urusan kita, yang bagaimanapun akan segera berlalu ^^

Mungkin kata 'Hidup Cuma Sekali' harus kita hayati benar-benar ^^

Jangan sampai penyesalan dan kesedihan mewarnai seumur hidup kita ^^

Gunakan hak pilih Anda dengan sebaik-baiknya!!! (lho kok jadi pemilu nih ceritanya?) XDDDD

Continue Reading!

Monday, April 13, 2009

Namaku Tek Tan Nio

Sebuah kisah yang sangat menginspirasi, menceritakan tentang hidup seorang wanita yang berjuang demi ibu tercinta dan dirinya sendiri, meskipun tubuhnya sudah digerogoti penyakit yang mematikan, diuji dengan berbagai cobaan, dengan tegar menghadapi semua itu.


”Tidak banyak yang aku harapkan sekarang, aku hanya ingin melihat mamaku sehat, itu saja.” 

Sudah beberapa minggu ini, aku tidak bisa tidur nyenyak. Kepala rasanya sakit sekali seperti ditusuk ribuan jarum tajam yang perlahan menembus kulit. Setiap malam yang kulakukan hanya membolak-balikkan badan, mengganti baju yang basah karena keringat, dan setiap satu jam sekali rutin melongok kondisi mama yang tengah tertidur. Lelah sekali! Jika sudah tidak kuat menahan sakit, aku pun terpaksa minum obat tidur, agar badan ini bisa sedikit beristirahat. 


Kondisi kaki mama yang terus membengkak telah menyita seluruh pikiranku. Belum lagi kalau sesak napas mama kambuh, rasanya ingin sekali menggantikan penderitaannya. Sudah tidak bisa diungkapkan, betapa aku sangat menyayanginya melebihi apapun. 

Lembaran Kisah Hidupku

Namaku Tek Tan Nio, lahir di Bogor, 11 November 1944, dari rahim Tek Cui Nio, seorang ibu yang sangat luar biasa, karena berhasil membesarkan aku dan kelima saudaraku tanpa figur seorang suami (Tan Ceng Yat -red) di sampingnya. 
Sejak papa meninggal karena tifus, mama berjualan makanan untuk bisa menghidupi dan membesarkan kami. Pagi-pagi benar beliau sudah memasak. Mulai dari membuat sate manis, sayur asin, hingga ayam goreng. Sedikit pun tidak pernah terdengar oleh kami dia mengeluh. 

Hari berganti hari, tahun berganti tahun, kini kondisi mama tidak lagi sekuat dulu. Sedangkan kami tetap membutuhkan uang untuk biaya sekolah dan hidup. Akhirnya, aku yang terbiasa membantu mama berdagang, memutuskan untuk mencari uang lebih dengan mengajar bahasa Mandarin. 

Sudah lama aku mencintai bahasa ini. Bahkan untuk melancarkannya aku sering mengajak ngobrol teman, tetangga, sampai seluruh hewan peliharaanku dengan menggunakan bahasa Mandarin. Semangat tinggi ini tidak sia-sia. Meskipun hanya lulus SMA, sekitar tahun 1950 hingga 1966, aku dipercaya untuk menjadi lao shi (guru) bahasa Mandarin di Zhen Zhong Xue Xio, dan Sekolah Pacung, Mangga Besar. Melalui dua sekolah tersebut, aku mendapatkan banyak teman. Aku yang senang bergaul, juga cepat sekali akrab dengan seluruh murid-muridku. 

Karena kedekatan tersebut, salah satu orangtua murid memberikan kepercayaan untuk membantu menjual berlian miliknya. Awalnya aku tidak menyangka akan diberikan kepercayaan sebesar ini, apalagi jumlah berliannya tidaklah kecil, hampir satu toples penuh. Hasil penjualannya juga tidak langsung disetorkan, tapi setiap empat bulan atau enam bulan sekali. 
  



Ket: - Cobaan datang silih berganti dalam kehidupan Tek Tan Nio, namun tidak membuat dia merasa putus asa. Sebaliknya, 
dia menjadi semakin bersemangat untuk terus melanjutkan kehidupannya



Dua pekerjaan sekaligus aku jalani. Menjadi guru dan penjual berlian, secara otomatis telah mendongkrak kehidupan ekonomi keluargaku. Namun sayang, di balik itu banyak sekali cobaan yang hampir saja membunuh jiwa dan ragaku. 
Materi terkadang dapat membuat orang gelap mata. Suatu ketika, saat aku kembali ke rumah sehabis bekerja, tiba-tiba kutemukan mama tengah menangis. Matanya yang teduh itu membengkak, dia terlihat sangat shock dan stres. Ternyata, tanpa sepengetahuan mama, salah satu adikku telah mengadaikan rumah kami ke bank, dan pihak bank datang untuk memberitahukan bahwa jatuh tempo pinjaman tersebut sudah hampir habis. Kalau pinjaman sebesar 85 juta tersebut tidak segera dilunasi, maka rumah ini akan segera disita oleh bank. 

Darimana kami bisa mencari uang sebanyak 85 juta dalam waktu singkat? Hal itu langsung berputar di kepalaku. Uang 85 juta itu tidak pantas membuat mama meneteskan air matanya. Uang itu juga tidak boleh merusak hatinya yang lembut. Aku berjanji, demi mama aku akan mempertahankan rumah ini, dan atas nama mama, aku meneguhkan hati untuk berjuang. 

Segala upaya aku lakukan. Tidak hanya mengajar, aku juga mulai membuat makanan kecil dan menititpkannya ke kantin sekolah, atau menjualnya sendiri ke rumah-rumah sehabis bekerja. Lelahnya bekerja sejak pukul 5 pagi hingga larut malam, tidak lagi kurasakan. Aku pun tidak pernah lupa bersujud memohon kepada Tuhan, untuk meminta kekuatan agar bisa menjalani semua ini. Akhirnya pinjaman itu berhasil kami lunasi. Rasa syukur itu terasa sangat luar biasa karena wajah mendung mama kini sudah berubah menjadi cerah. 

Baru saja kami sedikit bernafas lega, tiba-tiba cobaan kembali datang. Sekitar tahun 94, rumah kami kemalingan, dan A Yi (sebutan untuk kakak dari ibu -red) juga terbunuh dalam kejadian itu. Semua berlian dagangan ludes tercuri, dan yang paling menyakitkan kami harus merelakan A Yi, yang selalu setia membantu. Jujur, betapa rapuhnya aku kala itu. Rasa takut, kecewa, dan putus asa semua bercampur menjadi satu. Melihat mama yang terus menangis kala mengingat A Yi, membuat hati ini semakin teriris. 
 




Ket: - Untuk mengurangi rasa nyeri dilututnya, Tek Tan Nio memberikan perban di lututnya sebelum pergi keluar rumah. 


Belum kering air mata ini, tiba-tiba saja adikku Tek Mei Lan divonis menderita ginjal oleh dokter. Dengan sangat terpaksa akhirnya kami pun menjual sisa-sisa barang yang masih berharga, dan menggunakan uang deposito yang selamat dari kemalingan untuk mengobati adik, sampai akhirnya dia dipanggil Yang Maha Kuasa. 
Rasanya telah habis daya ini untuk melewati cobaan yang tidak berujung. Sering juga aku ingin mengakhiri hidup, tapi tatapan lembut mama selalu memberi semangat baru untukku. Ujub-ujub doa (doa khusus -red) yang aku panjatkan telah memberikan kekuatan yang tiada terkira, dan membuatku bertahan hingga saat ini. 

Di umurku yang memasuki 65 tahun, aku masih terus berjuang. Dengan bantuan tongkat penyangga kaki, setiap tiga kali seminggu aku menjajakan kerupuk, keripik singkong, chesse stick, dan makanan ringan lainnya ke daerah sekitar rumah dan Pasar Bogor. Semua ini kulakukan untuk membiayai hidupku dan mama, karena tidak mungkin aku menyusahkan saudara-saudaraku yang juga hidup dalam keterbatasan ekonomi. 
Empat tahun lalu, aku sudah mulai merasakan sakit di kaki sebelah kanan.
Namun karena tidak ada biaya aku menyepelekannya, hingga rasa sakit itu semakin hari menjadi semakin parah. Akhirnya dengan bantuan dana dari beberapa murid, aku pun memeriksakan diri. Menurut dokter, aku mengalami pengeroposan tulang, dan jatuh yang pernah kualami telah memperparah kondisi tersebut. Tulangku sudah retak dan rasanya seperti menusuk ke daging kakiku.

Oleh sebab itu, hingga kini aku membutuhkan tongkat penyangga untuk berjalan, karena aku sudah tidak kuat lagi berdiri di atas kedua kakiku. 
Tidak hanya itu saja, dokter juga menjelaskan bahwa ada pembengkakan di jantungku. Ia menjelaskan hal tersebut adalah alasan mengapa aku sering sekali berkeringat (kurang lebih lima kali berganti baju setiap harinya, karena basah -red). Sebenarnya dokter sudah melarang untuk terlalu sering berjalan, tapi kalau aku tidak berjualan siapa yang akan memberi makan mama? Cuma ini yang bisa saya lakukan untuk berbakti sama mama. 
  
Ket: - Tidak hanya pengeroposan tulang, Tek Tan Nio juga mengalami pembengkakkan jantung yang membuat ia selalu 
berkeringat. Dalam satu hari, dia bisa berganti baju hingga lima kali karena keringatnya yang berlebih. (kiri) 


Setiap hari, aku dan mama bergantung kepada uang hasil berdagang makanan ringan yang aku dapatkan. Aku akui, kalau hanya untuk makan dan membayar listrik uang tersebut (lebih kurang 500.00 per bulan) cukup, tapi kalau mama atau aku sakit, uang itu jauh dari kata cukup. 
Walaupun sering mendapatkan bantuan dari beberapa mantan anak murid, aku tetap tidak ingin terus-menerus menyusahkan mereka. Saat ini yang aku pikirkan hanyalah kesehatan mama, karena menurut dokter mama juga tengah mengalami pembengkakan jantung. 
Cobaan yang datang silih berganti tidak hanya membuat aku tangguh, tapi juga semakin menambah rasa cintaku yang besar kepada mama. Mama yang buat aku jadi semangat, kalau tidak ada mama, aku pasti sudah putus asa. Semangat untuk terus berjuang tidak hanya aku dapatkan dari mama, namun juga dari beberapa mantan murid-muridku, teman-teman lama, dan sekarang bertambah dengan hadirnya para relawan Tzu Chi. Karena ada Tzu Chi yang mendukung, rasanya menjadi lebih bersemangat untuk terus berjuang hingga titik darah penghabisan.

Continue Reading!

Thursday, March 12, 2009

The Girl Who Silenced The World..


Severn Suzuki


Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children's Organization ( ECO ).

ECO sendiri adalah Sebuah kelompok kecil anak" yg mendedikasikan diri Untuk belajar dan mengajarkan pada anak" lain mengenai masalah" lingkungan.

Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB, dimana pada saat itu Seveern yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin dunia terkemuka.

Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang penuh dengan orang" terkemuka yg berdiri dan memberikan Tepuk Tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Inilah Isi pidato tersebut: ( sumber The College Foundation )

Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental Children Organization

Kami Adalah Kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak" berusia 12 dan 13 tahun. Yang mencoba membuat Perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil. Untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, Hari ini Disini juga.. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang.

Saya berada disini mewakili anak" yg kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar.

Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang" yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitat nya. kami tidak boleh tidak di dengar.

Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubang nya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan"nya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang" dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya - hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang" liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu". tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal" tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah" kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahan nya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahan nya tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan" salmon ke sungai asalnya.
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang" yang telah punah.

Dan anda tidak dapat mengembalikan Hutan-Hutan seperti sediakala di tempatnya yang sekarang hanya berupa padang pasir.
Jika anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya.

TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!


Disini anda adalah deligasi negara-negara anda. Pengusaha, Anggota perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenernya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki" dan saudara perempuan, paman dan bibi - dan anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama..

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di Negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan, kami membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang. walaupun begitu tetap saja negara" di utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan.
Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak" yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: " Aku berharap aku kaya , dan jika Aku kaya, Aku akan memberikan anak" jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, Cinta dan Kasih sayang " .

Jika seorang anak yang berada dijalanan yang tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak" tersebut berusia sama dengan saya , bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar. bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak" yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India .

Saya hanyalah Seorang anak kecil namun saya tahu bahwa jika semua Uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemisikinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain.
Mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan.
Tidak menyakiti makhluk hidup lain, Berbagi dan tidak tamak..

Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarakan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri Konfrensi ini. mengapa anda melakukan hal ini - kami adalah anak" anda semua , Anda sekalianlah yang memutuskan dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak" mereka dengan mengatakan " Semuanya akan baik-baik saja ". 'kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan' dan ' ini bukanlah akhir dari segalanya'

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua?
Ayah saya selalu berkata ' kamu akan selalu dikenang karena perbuatan mu bukan oleh kata" mu '

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari.. kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami.

Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata" tersebut.


Sekian dan terima kasih atas perhatian nya.


Servern Cullis-Suzuki telah membungkam satu ruang sidang Konfrensi PBB, membungkam seluruh Orang" penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya, setelah pidato nya selesai serempak seluruh Orang yang hadir diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun.

dan setelah itu ketua PBB mengatakan dalam pidato nya..

" Hari ini Saya merasa sangatlah Malu terhadap Diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa penting na linkungan dan isi nya disekitar kita oleh Anak yang hanya berusia 12 tahun yang maju berdiri di mimbar ini tanpa selembar pun Naskah untuk berpidato, sedang kan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh assisten saya kemarin… Saya ... tidak kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun "

------------ --------- --------- --------- --------- ---------

Cerita ini benar" terjadi dan pidato severn Cullis-Suzuki itu benar" pidato yang dikatakan nya dalam pidato tersebut tanpa dilebih" kan .

Apa yang anda dapat dari cerita tersebut?


Continue Reading!

Thursday, March 5, 2009

Rumah Tanggaku Hancur karena Nenek......


Sebuah cerita yang sangat sangat bermakna!

Ini adalah cerita sebenarnya ( diceritakan oleh Lu Di dan di edit oleh Lian Shu Xiang )

Kesalahpahaman yang terjadi diantara keluarga.. Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan sudah terbuka,tetapi segalanya sudah terlambat....Membawa nenek utk tinggal bersama menghabiskan masa tuanya bersama kami,malah telah menghianati ikrar cinta yg telah kami buat selama ini,setelah 2 tahun menikah,saya dan suami setuju menjemput nenek di kampung utk tinggal bersama .


Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya,dia adalah satu-satunya harapan nenek,nenek pula yg membesarkannya dan menyekolahkan dia hingga tamat kuliah.

Saya terus mengangguk tanda setuju,kami segera menyiapkan sebuah kamar yg menghadap taman untuk nenek,agar dia dapat berjemur,menanam bunga dan sebagainya.Suami berdiri didepan kamar yg sangat kaya dgn sinar matahari,tidak sepatah katapun yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat saya dan memutar-mutar saya seperti adegan dalam film India dan berkata :"Mari,kita jemput nenek di kampung".

Suami berbadan tinggi besar,aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke dadanya yg bidang,ada suatu perasaan nyaman dan aman disana.Aku seperti sebuah boneka kecil yg kapan saja bisa diangkat dan dimasukan kedalam kantongnya.Kalau terjadi selisih paham diantara kami,dia suka tiba-tiba mengangkatku tinggi-tinggi diatas kepalanya dan diputar-putar sampai aku berteriak ketakutan baru diturunkan.Aku sungguh menikmati saat-saat seperti itu.

Kebiasaan nenek di kampung tidak berubah.Aku suka sekali menghias rumah dengan bunga segar,sampai akhirnya nenek tidak tahan lagi dan berkata kepada suami:"Istri kamu hidup foya-foya ,buat apa beli bunga?Kan bunga tidak bisa dimakan?" Aku menjelaskannya kepada nenek:"Ibu,rumah dengan bunga segar membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih gembira."Nenek berlalu sambil mendumel,suamiku berkata sambil tertawa:"Ibu,ini kebiasaan orang kota,lambat laun ibu akan terbiasa juga."

Nenek tidak protes lagi,tetapi setiap kali melihatku pulang sambil membawa bunga,dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya berapa harga bunga itu,setiap mendengar jawabanku dia selalu mencibir sambil menggeleng-gelengkan kepala.Setiap membawa pulang barang belanjaan,dia selalu tanya itu berapa harganya ,ini berapa.Setiap aku jawab,dia selalu berdecak dengan suara keras.Suamiku memencet hidungku sambil berkata:"Putriku,kan kamu bisa berbohong.Jangan katakan harga yang sebenarnya." Lambat laun,keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik.

Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi menyiapkan sarapan pagi untuk dia sendiri,di mata nenek seorang anak laki-laki masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan.Di meja makan,wajah nenek selalu cemberut dan aku sengaja seperti tidak mengetahuinya.Nenek selalu membuat bunyi-bunyian dengan alat makan seperti sumpit dan sendok,itulah cara dia protes.

Aku adalah instrukstur tari,seharian terus menari membuat badanku sangat letih,aku tidak ingin membuang waktu istirahatku dengan bangun pagi apalagi disaat musim dingin.Nenek kadang juga suka membantuku di dapur,tetapi makin dibantu aku menjadi semakin repot,misalnya;dia suka menyimpan semua kantong-kantong bekas belanjaan,dikumpulkan bisa untuk dijual katanya.Jadilah rumahku seperti tempat pemulungan kantong plastik,dimana-mana terlihat kantong plastik besar tempat semua kumpulan kantong plastik.

Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan cairan pencuci,agar supaya dia tidak tersinggung,aku selalu mencucinya sekali lagi pada saat dia sudah tidur.Suatu hari,nenek mendapati aku sedang mencuci piring malam harinya,dia segera masukke kamar sambil membanting pintu dan menangis.Suamiku jadi serba salah,malam itu kami tidur seperti orang bisu,aku coba bermanja-manja dengan dia,tetapi dia tidak perduli.Aku menjadi kecewa dan marah."Apa salahku?" Dia melotot sambil berkata:"Kenapa tidak kamu biarkan saja? Apakah memakan dengan pring itu bisa membuatmu mati?"

Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg culup lama,suasana mejadi kaku.Suamiku menjadi sangat kikuk,tidak tahu harus berpihak pada siapa?Nenek tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur,setiap pagi dia selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya,suatu kebahagiaan terpancar di wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap,dengan sinar mata yang seakan mencemohku sewaktu melihat padaku,seakan berkata dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri?

Demi menjaga suasana pagi hari tidak terganggu,aku selalu membeli makanan diluar pada saat berangkat kerja.Saat tidur,suami berkata:"Lu di,apakah kamu merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah makan di rumah?" sambil memunggungiku dia berkata tanpa menghiraukan air mata yg mengalir di kedua belah pipiku.Dan dia akhirnya berkata:"Anggaplah ini sebuah permintaanku,makanlah bersama kami setiap pagi."Aku mengiyakannya dan kembali ke meja makan yg serba canggung itu.

Pagi itu nenek memasak bubur,kami sedang makan dan tiba-tiba ada suatu perasaan yg sangat mual menimpaku,seakan-akan isi perut mau keluar semua.Aku menahannya sambil berlari ke kamar mandi,sampai disana aku segera mengeluarkan semua isi perut.Setelah agak reda,aku melihat suamiku berdiri didepan pintu kamar mandi dan memandangku dengan sinar mata yg tajam,diluar sana terdengar suara tangisan nenek dan berkata-kata dengan bahasa daerahnya.Aku terdiam dan terbengong tanpa bisa berkata-kata.Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!.

Pertama kali dalam perkawinanku,aku bertengkar hebat dengan suamiku,nenek melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauh……suamiku segera mengejarnya keluar rumah.

Menyambut anggota baru tetapi dibayar dengan nyawa nenek.


Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga meneleponku.Aku sangat kecewa,semenjak kedatangan nenek di rumah ini,aku sudah banyak mengalah,mau bagaimana lagi?Entah kenapa aku selalu merasa mual dan kehilangan nafsu makan ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau,sungguh sangat menyebalkan.Akhirnya teman sekerjaku berkata:"Lu Di,sebaiknya kamu periksa ke dokter."Hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang hamil.Aku baru sadar mengapa aku mual-mual pagi itu.Sebuah berita gembira yg terselip juga kesedihan.Mengapa suami dan nenek sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu?

Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku,3 hari tidak bertemu dia berubah drastis,muka kusut kurang tidur,aku ingin segera berlalu tetapi rasa iba membuatku tertegun dan memanggilnya.Dia melihat ke arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi,pandangan matanya penuh dengan kebencian dan itu melukaiku.Aku berkata pada diriku sendiri,jangan lagi melihatnya dan segera memanggil taksi.Padahal aku ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki seorang anak.Dan berharap aku akan diangkatnya tinggi-tinggi dan diputar-putar sampai aku minta ampun tetapi..... mimpiku tidak menjadi kenyataan.Didalam taksi air mataku mengalir dengan deras.Mengapa kesalah pahaman ini berakibat sangat buruk?

Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa tadi,memikirkan sinar matanya yg penuh dengan kebencian,aku menangis dengan sedihnya.Tengah malam,aku mendengar suara orang membuka laci,aku menyalakan lampu dan melihat dia dgn wajah berlinang air mata sedang mengambil uang dan buku tabungannya.Aku nenatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata.Dia seperti tidak melihatku saja dan segera berlalu.Sepertinya dia sudah memutuskan utk meninggalkan aku.Sungguh lelaki yg sangat picik,dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta dengan uang.Aku tersenyum sambil menitikan air mata.

Aku tidak masuk kerja keesokan harinya,aku ingin secepatnya membereskan masalah ini,aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi mencarinya di kantornya.Di kantornya aku bertemu dengan seketarisnya yg melihatku dengan wajah bingung."Ibunya pak direktur baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan sedang berada di rumah sakit.Mulutku terbuka lebar.Aku segera menuju rumah sakit dan saat menemukannya,nenek sudah meninggal.Suamiku tidak pernah menatapku,wajahnya kaku.Aku memandang jasad nenek yg terbujur kaku.Sambil menangis aku menjerit dalam hati:"Tuhan,mengapa ini bisa terjadi?"

Sampai selesai upacara pemakaman,suamiku tidak pernah bertegur sapa denganku,jika memandangku selalu dengan pandangan penuh dengan kebencian.Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain,pagi itu nenek berjalan ke arah terminal,rupanya dia mau kembali ke kampung.Suamiku mengejar sambil berlari,nenek juga berlari makin cepat sampai tidak melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang.Aku baru mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian.Jika aku tidak muntah pagi itu,jika kami tidak bertengkar, jika............dimatanya,akulah penyebab kematian nenek.

Suamiku pindah ke kamar nenek,setiap malam pulang kerja dengan badan penuh dengan bau asap rokok dan alkohol.Aku merasa bersalah tetapi juga merasa harga diriku terinjak-injak.Aku ingin menjelaskan bahwa semua ini bukan salahku dan juga memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak.Tetapi melihat sinar matanya,aku tidak pernah menjelaskan masalah ini.Aku rela dipukul atau dimaki-maki olehnya walaupun ini bukan salahku.Waktu berlalu dengan sangat lambat.Kami hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain.Dia pulang makin larut malam.Suasana tegang didalam rumah.

Suatu hari,aku berjalan melewati sebuah café,melalui keremangan lampu dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku dengan seorang wanita didalam.Dia sedang menyibak rambut sang gadis dengan mesra.Aku tertegun dan mengerti apa yg telah terjadi.Aku masuk kedalam dan berdiri di depan mereka sambil menatap tajam kearahnya.Aku tidak menangis juga tidak berkata apapun karena aku juga tidak tahu harus berkata apa.Sang gadis melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak berlalu.Tetapi dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke arahku dengan sinar mata yg tidak kalah tajam dariku.Suara detak jangtungku terasa sangat keras,setiap detak suara seperti suara menuju kematian.Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka,jika tidak.. mungkin aku akan jatuh bersama bayiku dihadapan mereka.

Malam itu dia tidak pulang ke rumah.Seakan menjelaskan padaku apa yang telah terjadi.Sepeninggal nenek,rajutan cinta kasih kami juga sepertinya telah berakhir.Dia tidak kembali lagi ke rumah,kadang sewaktu pulang ke rumah,aku mendapati lemari seperti bekas dibongkar.Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya.Aku tidak ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk menjelaskan semua ini.Tetapi itu tidak terjadi.........,semua berlalu begitu saja.

Aku mulai hidup seorang diri,pergi check kandungan seorang diri.Setiap kali melihat sepasang suami istri sedang check kandungan bersama,hati ini serasa hancur.Teman-teman menyarankan agar aku membuang saja bayi ini,tetapi aku seperti orang yg sedang histeris mempertahankan miliknya.Hitung-hitung sebagai pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak bersalah.

Suatu hari pulang kerja,aku melihat dia duduk didepan ruang tamu.Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas diatas meja,tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu.2 bulan hidup sendiri,aku sudah bisa mengontrol emosi.Sambil membuka mantel dan topi aku berkata kepadanya:"Tunggu sebentar,aku akan segera menanda tanganinya".Dia melihatku dengan pandangan awut-awutan demikian juga aku.Aku berkata pada diri sendiri,jangan menangis,jangan menangis.Mata ini terasa sakit sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar.Selesai membuka mantel,aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia memperhatikan perutku yg agak membuncit.Sambil duduk di kursi,aku menanda tangani surat itu dan menyodorkan kepadanya."Lu di,kamu hamil?" Semenjak nenek meninggal,itulah pertama kali dia berbicara kepadaku.Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg menglir keluar dengan derasnya.Aku menjawab:"Iya,tetapi tidak apa-apa.Kamu sudah boleh pergi".Dia tidak pergi,dalam keremangan ruangan kami saling berpandangan.Perlahan-lahan dia membungkukan badanya ke tanganku,air matanya terasa menembus lengan bajuku.Tetapi di lubuk hatiku,semua sudah berlalu,banyak hal yg sudah
pergi dan tidak bisa diambil kembali.

Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata:"Maafkan aku,maafkan aku".Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak bisa.Tatapan matanya di cafe itu tidak akan pernah aku lupakan.Cinta diantara kami telah ada sebuah luka yg menganga.Semua ini adalah sebuah akibat kesengajaan darinya.

Berharap dinding es itu akan mencair,tetapi yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.Hanya sewaktu memikirkan bayiku,aku bisa bertahan untuk terus hidup.Terhadapnya,hatiku dingin bagaikan es,tidak pernah menyentuh semua makanan pembelian dia,tidak menerima semua hadiah pemberiannya tidak juga berbicara lagi dengannya.Sejak menanda tangani surat itu,semua cintaku padanya sudah berlalu,harapanku telah lenyap tidak berbekas.

Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku,aku segera berlalu ke ruang tamu,dia terpaksa kembali ke kamar nenek.Malam hari,terdengar suara orang mengerang dari kamar nenek tetapi aku tidak perduli.Itu adalah permainan dia dari dulu.Jika aku tidak perduli padanya,dia akan berpura-pura sakit sampai aku menghampirinya dan bertanya apa yang sakit.Dia lalu akan memelukku sambil tertawa terbahak-bahak.Dia lupa........,itu adalah dulu,saat cintaku masih membara,sekarang apa lagi yg aku miliki?

Begitu seterusnya,setiap malam aku mendengar suara orang mengerang sampai anakku lahir.Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang perlengkapan bayi,perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk anak-anak.Setumpuk demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang.Aku tahu dia mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming.Terpaksa dia mengurung diri dalam kamar,malam hari dari kamarnya selalu terdengar suara pencetan keyboard komputer.Mungkin dia lagi tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya pikirku.Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.

Suatu malam di musim semi,perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku berteriak dengan suara yg keras.Dia segera berlari masuk ke kamar,sepertinya dia tidak pernah tidur.Saat inilah yg ditunggu-tunggu olehnya.Aku digendongnya dan berlari mencari taksi ke rumah sakit.Sepanjang jalan,dia mengenggam dengan erat tanganku,menghapus keringat dingin yg mengalir di dahiku.Sampai di rumah sakit,aku segera digendongnya menuju ruang bersalin.Di punggungnya yg kurus kering,aku terbaring dengan hangat dalam dekapannya.Sepanjang hidupku,siapa lagi yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia?

Sampai dipintu ruang bersalin,dia memandangku dengan tatapan penuh kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan,sambil menahan sakit aku masih sempat tersenyum padanya.Keluar dari ruang bersalin,dia memandang aku dan anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil tersenyum bahagia.Aku memegang tanganya,dia membalas memandangku dengan bahagia,tersenyum dan menangis lalu terjerambab ke lantai.Aku berteriak histeris memanggil namanya.

Setelah sadar,dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya………aku pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun untuknya,tetapi kenyataannya tidak demikian,aku tidak pernah merasakan sesakit saat ini.Kata dokter,kanker hatinya sudah sampai pada stadium mematikan,bisa bertahan sampai hari ini sudah merupakan sebuah mukjijat.Aku tanya kapankah kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata dokter,bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk.Aku tidak lagi perduli dengan nasehat perawat,aku segera pulang ke rumah dan ke kamar nenek lalu menyalakan komputer.

Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya,aku masih berpikir dia sedang bersandiwara…………Sebuah surat yg sangat panjang ada di dalam komputer yg ditujukan kepada anak kami."Anakku,demi dirimu aku terus bertahan,sampai aku bisa melihatmu.Itu adalah harapanku.Aku tahu dalam hidup ini,kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan kekecewaan,sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu.Didalam komputer ini,ayah mencoba memberikan saran dan nasehat terhadap segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi.Kamu boleh mempertimbangkan saran ayah.

"Anakku,selesai menulis surat ini,ayah merasa telah menemanimu hidup selama bertahun -tahun.Ayah sungguh bahagia.Cintailah ibumu,dia sungguh menderita,dia adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah orang yg paling ayah cintai".
Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK,SD,SMP,SMA sampai kuliah,semua tertulis dengan lengkap didalamnya.Dia juga menulis sebuah surat untukku."Kasihku,dapat menikahimu adalah hal yg paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini.Maafkan salahku,maafkan aku tidak pernah memberitahumu tentang penyakitku.Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh karenanya.Kasihku,jika engkau menangis sewaktu membaca surat ini,berarti kau telah memaafkan aku.Terima kasih atas cintamu padaku selama ini.Hadiah-hadiah ini aku tidak punya kesempatan untuk memberikannyapada anak kita.Pada bungkusan hadiah tertulis semua tahun pemberian padanya".

Kembali ke rumah sakit,suamiku masih terbaring lemah.Aku menggendong anak kami dan membaringkannya diatas dadanya sambil berkata:"Sayang,bukalah matamu sebentar saja,lihatlah anak kita.Aku mau dia merasakan kasih sayang dan hangatnya pelukan ayahnya".Dengan susah payah dia membuka matanya,tersenyum..............anak itu tetap dalam dekapannya,dengan tanganya yg mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah.Tidak tahu aku sudah menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di tangan sambil berurai air mata....................

Teman2 terkasih,aku sharing cerita ini kepada kalian,agar kita semua bisa menyimak pesan dari cerita ini.Mungkin saat ini air mata kalian sedang jatuh mengalir atau mata masih sembab sehabis menangis,ingatlah pesan dari cerita ini :"Jika ada sesuatu yg mengganjal di hati diantara kalian yg saling mengasihi,sebaiknya utarakanlah jangan simpan didalam hati.Siapa tau apa yg akan terjadi besok? Ada sebuah pertanyaan:Jika kita tahu besok adalah hari kiamat,apakah kita akan menyesali semua hal yg telah kita perbuat? atau apa yg telah kita ucapkan? Sebelum segalanya menjadi terlambat,pikirlah matang2 semua yg akan kita lakukan sebelum kita menyesalinya seumur hidup.



Continue Reading!

Wednesday, February 18, 2009

Menetapkan Goal!!~~


Akhirnya... pemirsa-pemirsa sekalian... digi sekarang bisa sedikit melegakan nafas, karena udah selesai ujiannya ^^

Tapi meskipun begitu digi sekarang masih tetep ada target baru, yaitu target pembukaan kelas di vihara Sanggar Satya Dharma, 'n kita harus bantu cari-cari orang gitu loh ^^

Jadinya sekarang meskipun digi udah siap ujian, tetapi masih tetap ada kesibukan yang lain lagi. ^^

Sebenarnya digi sih sangat suka dengan kehidupan seperti ini, kita mempunyai suatu target yang harus dicapai dan diselesaikan dalam kurun waktu tertentu..

Hal ini sangat berbeda sekali dengan kehidupan digi ketika digi ngga ada tujuan yang pasti...

Misalnya nih.. Sewaktu digi main travian *ambil contoh aja yah* ^^

Jadi digi bermain di 2server dlu, s1 ama s3.

Nah... digi bermain di s1 dengan tujuan yang jelas! Yaitu untuk menaklukkan bangsa Natar, bangsa yang datang setelah 10 bulan server berjalan, dan itu yang membuat digi bertahan ^^

Sedangkan di s3? digi sendiri bingung mau ngapain, meskipun pernah menduduki peringkat 400 besar, digi bingun mo ngapain... mau nyerang orang salah, mo nunggu bangsa natar? kelamaan......

Akhirnya digi ngga main s3 lagi karena ngga menetapkan tujuan yang jelas ^^

Hal ini mungkin juga terjadi dalam kehidupan digi ketika digi sendiri men-set gol yang jelas dalam hidup digi

Misalnya nih, bulan ini tanggal ini, acara vihara ada kegiatan apa, kejar target terus!!!~~~~ Misalnya ditargetkan peserta 100 orang, kejar target, dll
Kalau dalam belajar... digi ngaku aja deh, digi ngga punya gol yang jelas, makanya nilai digi menurun terus ^^

Nah.. kalau di dalam berbisnis mungkin bisa yah, digi masih belum begitu serius dalam menjalankan *bisnis yang satu ini*, tapi digi usahakan akan mencapai target tahun ini!!

CIATT!!!!

Nah bedain ketika digi hidup tanpa gol yang jelas... Setiap penanggalan 1 dan 15 kalender lunar digi ke vihara.. abis tu ada acara apa ke vihara..

ngga ada tujuan yang jelas kan?? hidup aja jadimalas~~

hoammm~~~ ^^

Continue Reading!

Thursday, January 15, 2009

Satu Malam yang Membuatku Tersadar....

Ini adalah kisah nyata... Kisah saya, dan mungkin kisah kita semua...
Dari seorang bocah berusia 17 tahun...

Beliau melewati hari-hari layaknya remaja lainnya, bermain dengan kawan, merengek agar minta dibelikan handphone baru, PS 2, mengupgrade komputer senilai jutaan rupiah.

Tidak cukup, beliau meminta orang tuanya agar membelikannya kartu XL, agar bisa sms gratis seharian, dengan harga yang sepadan tentunya, beliau meminta orang tuanya untuk mengganti koneksi internet, agar beliau dapat bermain internet seharian, dengan konsekuensi, harus menghiraukan keluarga yang memanggilnya untuk menjawab telepon, melayani tamu, dan melakukan hal-hal lainnya.

Tentu saja semua itu tidak sia-sia... Beliau akhirnya menemukan, dunia maya itu asyik! Bisa membuatnya mendapatkan teman baru, bisa membuatnya lupa akan waktu, lupa akan omelan orang tua nya, lupa akan segala masalah yang dihadapinya di luar sana....

Suatu ketika, beliau mendapat undangan bersama keluarganya untuk pergi ke acara resepsi pernikahan sanak saudara beliau...

Seperti biasa, beliau memasuki ruangan dengan gaya nya yang unik, dan mengambil tempat duduk di tempat paling depan bagian kiri ruangan, persis di depan sound system...

Suara gunduh tidak dihiraukannya... Waktu terus berjalan... Semakin banyak saja anggota keluarganya yang datang, mulai dari yang dekat sampai yang jauh.....

.......

Waktu terus saja berlalu dan berlalu... Tiba-tiba beliau memperhatikan, orang di depan yang menyanyi dengan goyangannya yang wah! (pikirnya)...
"Ini cowo kok kayak banci sih?" pikirnya

Ibu beliau yang daritadi memperhatikan langsung saja berkata
"Mirip banci ya dia?", ungkap ibu dengan nada serius
"Tapi begitulah nak, dunia ini memang kejam, tetapi masih bagus ada orang seperti dia yang bisa mendapatkan uang dengan cara yang halal", sambung ibunya sedih.
"Sudah daritadi ibu perhatikan dia, tetapi masih ada yang belum memberi angpao, lebih baik ini kau berikan saja", kata ibu sambil menyodorkan sebungkus angpao kepada beliau....

Beliau langsung saja naik ke atas pentas dan memberikan angpao.. Bukan hal yang spesial, pikirnya..

Kejadian itu pun berlalu... Makanan mulai dihidangkan satu per satu, dan terdengarlah suara MC
"Mari kita sambut! Anak kecil berusia 7 tahun! Dengan lagu!!!!! "
Dalam sekejap beliau terhentak..
Anak 5 tahun menyanyikan lagu ? Mana mungkin??

Memang begitulah kenyataannya.... Dan semua orang di ruangan itu langsung bertepuk tangan ketika melihat anak sekecil itu mampu bergoyang dengan lumayan lincah, dan goyangannya bukan sembarang goyang, mirip goyangan Inul, pikirnya....

"Sudah lihat kan? Dari perbuatan anaknya, kita bisa mengetahui orang seperti apa ibunya", kata paman beliau.. Yang duduk tepat di samping beliau. Dan sekali lagi ini mengejutkan bocah tersebut.

Lama beliau duduk termenung, memikirkan kata-kata yang sangat tidak biasa tersebut..
Dari perbuatan anaknya, kita bisa mengetahui orang seperti apa ibunya

Yahh.. Memang patut direnungkan... Anak adalah hasil didikan orang tua bukan??

Dan semuanya kembali seperti biasa.. Sampai kepada giliran suatu penyanyi yang satu ini...

Yang satu ini cukup muda, mungkin... sekitar 30-an.., dengan stelan jas warna abu-abu, rapi, rambutnya juga rapi, cocok dengan wajahnya yang tampan.
Namun... ada yang membuat beliau heran....
Kenapa naiknya dipapah sama seorang wanita? Istrinya mungkin ya?

Setelah penyanyi tersebut naik ke atas panggung, beliau bersiap-siap, dan mengucapkan kata-kata pembuka.
"Saya disini mendoakan agar semua hadirin sehat walafiat, bertambah rejeki, ......
Jah! Kaya lagi pidato aja! Mana dia ngomongnya tanpa ekspresi lagi! Ngeliat ke bawah terus... Emangnya di bawah ada hafalan gitu.

Langsung saja, setelah mengucapkan salam pembukanya, penyanyi tersebut melantunkan lagu, sebuah lagu bahasa Mandarin yang cukup terkenal..

Hmm... Suaranya oke juga, pikirnya..

Tiba-tiba ibu dari samping berkata,
"Nak, ini tolong dikasihkan ke penyanyi itu ya."
"Kok aku terus sih, ma? Suruh adik kenapa?", seru bocah tersebut kesal.
"Loh, gak boleh begitu dong, dia kan laki-laki. Lagipula dia buta, cuma dapat makan dari menyanyi saja, setiap malam istrinya mencari informasi dan menawarkan jasa apakah ada tempat bagi mereka untuk mencari sedikit nafkah di restoran-restoran.."
Bocah tersebut langsung saja terhenyak, sadar akan kehidupan yang sudah belasan tahun dilaluinya...

Continue Reading!
 

blogger templates | Make Money Online