Pada saat ini, air mata digi kembali mengalir sendiri, tanpa dikomando, seakan air mancur yang rusak tombol on-off nya.
Akhirnya dengan perkataan yang sama, digi berhasil meyakinkan mama bahwa digi tidak apa-apa, digi hanya merasakan denyut jantung digi yang berdetak dengan sangat cepat dan digi mengatakan ingin segera pergi ke dokter untuk mengecek apa yang terjadi.
Selamat datang kembali. Mari kita lanjutkan cerita digi.
Kali ini, mama digi yang tadinya pergi sekarang telah pulang, dan menanyakan kepada digi kondisi digi bagaimana. Terang saja digi sangat senang, namun demikian, karena kondisi digi yang masih belum pulih (detak jantung yang cepat), digi masih belum bisa mengucapkan kata-kata. Saat mama pulang, waktu menunjukkan sekitar pukul 12.30 siang. Digi hanya bisa tertidur, sembari menunggu jam 3, karena dokternya buka praktek jam 3 :) Dokter ini adalah dokter pribadi keluarga digi sejak kecil, semua data kesehatan digi terekam di klinik dokter ini :) Kebetulan suku dokter sama dengan suku papa digi, suku HengHua, yang membuat kami semakin dekat. Meskipun dokter ini tidak terlalu pintar, namun enak diajak berkonsultasi dan mempunyai pengalaman yang banyak. Well, tidak semua dokter harus pintar untuk bisa mengobati kita. Kadang dokter yang pintar pun bisa membunuh pasiennya hanya dengan pernyataan yang pahit :(
Setelah jam 3, digi pun turun ke lantai bawah dan masuk ke dalam mobil. Tepat pada saat ini, nenek digi pulang dari rumah sakit. Nenek digi terkena serangan ginjal sehingga harus menjalani proses pencucian darah 3 kali selama seminggu, yang kebetulan bertepatan dengan hari tersebut, hari Kamis.
Biasanya setelah menjalani proses cuci darah, kondisi nenek digi sungguh lemah, bahkan tidak bisa turun dari mobil dan berlama-lamaan untuk berbicara. Biasa kepala beliau akan terasa pusing, bahkan untuk beberapa kasus yang ekstrim muntah-muntah selama perjalanan pulang. Namun pada hari tersebut, ketika nenek digi mendengar kondisi digi yang seperti ini, langsung turun dan melihat digi yang berada di dalam mobil. Begitu melihat muka digi yang begitu pucat, nenek digi langsung mengatakan,"Kok pucat sekali? Ada apa?"
Mengingat keadaan nenek yang biasa tidak stabil, sekarang masih bisa turun untuk mengkhawatirkan kondisi digi, membuat digi sangat terharu. Memang kasih sayang orang tua kepada anak cucunya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Digi akhirnya hanya bisa terdiam dan meneteskan air mata, sambil mengatakan dengan pelan,"Tidak apa-apa kok nek, tidak apa-apa."
Selanjutnya, digi sudah tidak bisa mengingat pesan yang diamanatkan oleh nenek, digi hanya bisa mengingat nenek yang sudah naik ke atas mobil dan digi pun akhirnya berangkat ke klinik dokter. Digi juga tidak mengingat berapa lama perjalanan menuju kesana, rasanya semua terasa cepat sekali sehingga digi sampai di klinik dokter yang berlokasi tidak jauh dari tempat tinggal digi tersebut.
Sesampainya di klinik, digi pun langsung mendaftarkan diri. Suster pun melakukan administrasi seperti biasa, cek tinggi dan berat badan. Akhirnya digi duduk beristirahat sambil menunggu giliran. Tidak lama memang, atau mungkin segalanya berjalan begitu cepat, hingga akhirnya nama digi dipanggil.
Begitu memasuki ruangan dokter, digi duduk dan mama digi langsung menjelaskan keadaan digi kepada dokter, kotoran yang berwarna hitam, pusing-pusing.
Dokter pun memeriksa bagian bawah mata digi (untuk melihat apakah ada darah atau tidak). Mungkin dokter menemukan ada yang tidak beres, dokter terkejut dan menanyakan, "Kenapa bisa begini?" "Ada muntah?" Digi spontan menjawab, "Ada, muntahannya berwarna hitam. Itu karena semalam aku makan gado-gado dok." Dokter pun terkejut dan menyuruh digi untuk berbaring di atas tempat tidur. Proses selanjutnya adalah dokter mengecek anus digi, dan ternyata menemukan terdapat banyak sekali darah yang terkumpul.
Dengan demikian diagnosa dokter ditegakkan, penyakit yang digi derita adalah LUKA LAMBUNG. Hore~~ (kok jadi senang ya?)
Mama kemudian bertanya kepada dokter,"Lalu bagaimana dok? Apakah perlu rawat inap di rumah sakit?"
Selanjutnya dokter pun mengeluarkan resep obat dan mengatakan,"Kontrol kotorannya, jika dalam 2 hari masih tetap berwarna hitam atau mengeluarkan darah, siap-siap untuk masuk rumah sakit." diikuti dengan instruksi penggunaan obat yang diberikan.
Digi pun akhirnya mengucapkan terima kasih dan akhirnya pamit kepada dokter. Sebelum digi pulang, dokter berpesan kepada digi,"Ingat, masalah lambung harus mengontrol makanan, untuk sementara ini jangan makan yang keras-keras dan yang panas-panas."
Mendengar tidak boleh makan yang panas-panas, digi pun bertanya,"Kalau es krim boleh dok?"
Dokter mengatakan,"Boleh."
Digi pun kegirangan, mungkin saja pada saat ini mama digi menggeleng-gelengkan kepalanya :P
Akhhirnya digi pun naik ke mobil dan bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Bahkan pada saat ini digi mengatakan digi ingin menyetir, mengingat keadaan kaki mama yang belum sembuh total, berjalan pun masih menggunakan tongkat. Mama langsung marah dan berkata seketika,"Kamu sudah sakit! Duduk saja di samping!" Namun digi menolak dan mengatakan ingin duduk di belakang, dengan alasan lebih nyaman, karena tempat duduk di depan lebih sempit. Meskipun hal ini sangat tidak mengenakkan, karena dengan posisi duduk seperti ini mama terlihat sebagai seorang supir, tapi apa boleh buat, karena kondisi tubuh digi saat itu memang sangat tidak memadai.
Dalam perjalanan pulang, sekali lagi, segalanya berjalan dengan sangat cepat. Di dalam mobil digi juga langsung mengkonsumsi obat yang diberikan dokter. Namun sesuatu hal yang sangat mengerikan kembali terjadi. Beberapa meter sebelum sampai di rumah, digi mengatakan kepada mama perut digi merasa tidak enak, seperti mau muntah saja rasanya. Kontan digi mengambil kantong plastik yang ada di depan digi, dan langsung memuntahkan kembali semua yang ada di perut digi. Sekali lagi, warna muntahan digi adalah hitam, dan kali ini, saking dekatnya dengan hidung digi, digi sekilas mencium bau yang sama dengan bau yang ada di toilet tadi pagi, bau amis. Kali ini lebih bau dan lebih jelas. Digi berusaha mengangkat hidung digi agar tidak tercium bau menyengat tersebut. Namun apa boleh buat, karena reaksi digi yang lambat dan bau yang menyengat tersebut, digi kembali memuntahkan isi perut digi untuk yang kedua kalinya, dengan warna yang sama, warna hitam, dan bau yang lebih menyengat lagi.
Dengan begini, digi sudah memuntahkan cairan (yang sebenarnya adalah darah) sebanyak setengah ukuran plastik. Pada saat digi tiba di rumah, digi pun memutuskan untuk membuang kantong plastik tersebut di depan rumah digi.
Darah muntahan digi pun tertumpah ke jalan raya, pemandangan ini membuat digi sedikit merinding pada saat itu. Anehnya, adik digi juga melihat pemandangan ini dan merasa biasa-biasa saja. Karena pada saat itu hujan gerimis, sehingga digi pun langsung masuk ke dalam rumah dan beristirahat.
Dokter tersebut mengatakan,"Lebih baik besok di cek HB (Hemoglobin)nya di klinik terdekat, kalau HB nya dibawah 10, harus dimasukkan ke rumah sakit."
Dengar-dengar pada saat ini telapak kaki digi sudah berwarna putih total. Hingga pada saat malam hari digi pun mengonsumsi obat dan akhirnya tidur dan tidak tahu menahu kejadian yang terjadi selanjutnya.
Hari esoknya setelah bangun, digi masih merasakan sekujur tubuh lemas, tidak bersemangat, dan jantung berdebar dengan keras, sindrom yang sama dengan kemarin - dengan kata lain - kondisi digi sama sekali tidak membaik. Akhirnya mama digi melakukan seperti yang diminta oleh adik nenek digi, yaitu mengecek Hemoglobin di klinik yang bisa dibilang lumayan dekat. Setelah mengecek Hemoglobin, mama mengira hasilnya bisa keluar langsung, ternyata harus menunggu 1 jam kemudian. Wah. Mama papa dan digi kelabakan, Kok bisa 1 jam ya? Katanya sih langsung. Yaa. apa boleh buat, akhirnya kami pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumah untuk beristirahat, setidaknya itu lebih baik daripada duduk menunggu di dalam klinik - mengingat keadaan digi seperti ini.
Akhirnya digi kembali beristirahat di rumah.
1 jam pun berlalu, dan papa membawa pulang hasil tes darah tersebut. Alangkah terkejutnya ketika mengetahui bahwa Hemoglobin digi hanya berjumlah 8,8. Sementara kadar normalnya 13 sampai 16 (ada juga yang mengatakan 12 sudah cukup, ada yang mengatakan 14). Apapun itu, kadar hemoglobin dalam darah digi sudah termasuk rendah.
Mama akhirnya memutuskan untuk menghubungi adik nenek digi, dan akhirnya memutuskan,"Ya sudah, masuk rumah sakit aja."
Kalau mau dideskripsikan kondisi digi saat itu, hanya biasa-biasa saja. Digi tidak takut terkejut - apalagi takut - untuk masuk rumah sakit. Digi tidak pernah membayangkan sakitnya disuntik oleh jarum (yang akan terbayang pas diopname di rumah sakit nanti, haha). Pada saat ini, hanyalah terbesit sebuah perasaan malas. Aduh, rasanya malas harus tinggal di rumah sakit, repot. Dan memang, hanya untuk opname 3 malam saja barang bawaan digi seperti mau pergi ke Jakarta selama 10 hari. Namun digi tegaskan kepada diri sendiri, bahwa ini berarti orang rumah memperdulikan digi dan ingin menyediakan fasilitas yang terbaik untuk digi di rumah sakit :)
Langsung saja kita menuju ke rumah sakit.
Sebelum menuju ke rumah sakit, tentu saja mama sudah meminta persetujuan dari dokter keluarga, dan akhirnya dokter keluarga memperkenalkan dokter di sebuah rumah sakit yang dekat dengan rumah digi. Sebenarnya ada beberapa rumah sakit yang lebih elite daripada rumah sakit yang digi tempati pada saat ini. Satu-satunya alasan kami memilih rumah sakit ini adalah fasilitasnya yang lumayan lengkap - meskipun tidak selengkap rumah sakit yang digi sebutkan di atas, namun masih tergolong memadai dan modern - dan yang paling penting adalah, jarak dari rumah digi dengan rumah sakit sangat dekat, bisa ditempuh dengan mobil dalam waktu 5 menit. Yang tentu saja akan sangat efisien bagi orang rumah untuk melakukan segala sesuatu dan membagi waktu antara rumah dan rumah sakit :)
Let's see... Digi akhirnya tiba di rumah sakit, dengan jalan yang masih sempoyongan, bersama mama, hanya berdua - Mama yang menggunakan tongkat, dan digi dengan muka pucat. Dalam lorong rumah sakit, digi masih menyempatkan diri bercanda dengan Mama,"Kira-kira kalau susternya melihat, ini siapa yang mau tinggal di rumah sakit ya? Haha." Karena kondisi kaki mama yang belum sembuh total sehingga mengharuskan mama untuk memakai tongkat ketika berjalan (sebenarnya digi sendiri lebih prefer jika mama mau memakai kursi roda, karena kadang-kadang kaki mama masih sering sakit ketika berjalan, ataupun ketika digerakkan).
Akhirnya kami tiba di ruang ICU dan suster yang menjaga di ruang ICU langsung menanyakan,"Siapa yang mau diopname?" Digi spontan menjawab,"Aku sus."
Akhirnya digi dipersilahkan berbaring, dan kemudian menanyakan gejala-gejala apa yang ada. Digi pun kemudian menjelaskan secara terperinci gejala digi. Dokter akhirnya datang dan dengan cepat mengkomando suster untuk menyuntikkan beberapa jenis obat ke tubuh digi, kalau tidak salah ada 3 jenis obat. Nah dari sini lah mulai aksi suntik menyuntiknya.
Datanglah suster yang pertama menyuntik bagian lengan kanan digi (mungkin sejenis vitamin atau apa). Yang kedua adalah mengambil sampel darah digi, nah ini yang digi agak kesal, pasalnya susternya mengambil di bagian kanan lengan digi. Padahal digi sudah katakan,"Sus, biasa aku ngambil darah di bagian kiri." Suster tersebut masih dengan ngotot dan gaya sok tahunya mengatakan,"Iya, kita coba dulu di bagian kanan."
Alhasil, daging di tubuh yang empuk ini disuntik secara cuma-cuma. Bukan hanya itu, suster ini akhirnya memaksa untuk tetap mengambil darah dari tangan kanan digi, namun kali ini diganti posisinya, di bagian atas telapak tangan digi (tempat jarum infus disuntikkan), dan inilah suntikan yang paling sakit yang pernah digi rasakan. Pas suster menginjeksikan suntik ke dalam kulit, suster itu terdiam sebentar, tidak ada darah yang keluar. Akhirnya kepala suntik itu pun digeser-geser, dan kemudian digeser-geser lagi (bayangkan jarum suntik yang belum dikeluarkan dari kulit, masih tertancap dalam kulit dan digeser-geser, sakitnya itu....) Dalam hati digi,"Ya ampun Tuhan ampunilah aku karena aku hampir akan menyumpahi suster ini." Akhirnya digi hanya terdiam saja, toh suster ini tahu yang paling baik untuk digi, digi juga tidak banyak komentar lagi. Hingga akhirnya, ntah darimana datangnya, darah nya keluar sendiri. Whew, akhirnya selesai juga.
Dilanjutkan dengan jarum infus. Kali ini di nadi di atas telapak tangan kiri digi, digi sih tidak terlalu takut, karena sudah sering melihat pasien yang disuntik ,sementara digi sendiri bisa dikatakan tidak terlalu takut disuntik. Hanya saja, setelah jarum tersebut ditancapkan di dalam nadi, ada sesuatu yang tidak enak terasa mengganjal di tangan kiri digi. Ya jelas lah, namanya saja sudah disuntik, pasti ada perasaan tidak enak. Pada saat ini, barulah digi merasa sedikit ketakutan, "Apakah aku harus melewati 3 hari disini dengan diinfus dan perasaan tidak nyaman ini?"
Namun digi segera menyingkirkan perasaan itu dan mengatakan kepada diri sendiri, semua akan berjalan dengan baik-baik saja.
Setelahnya mama masuk dan menanyakan kepada dokter bagaimana kondisi anak mama. Dokter mengatakan,"Kalau melihat kondisi sekarang, tampaknya harus transfusi darah secepatnya."
....
....
....
!!!!
Kontan digi tersentak mendengar kata 'transfusi darah' - dan digi yakin, bukan hanya digi yang terkejut, mama pasti terkejut juga. "Separah itukah sampai harus melakukan transfusi darah?", tentu saja pertanyaan ini digi tanyakan kepada diri digi sendiri - yang pada akhirnya digi ketahui pada saat itu mama juga menanyakan hal yang sama kepada dirinya sendiri. Akhirnya mama dengan nada yang sedikit terkejut - tapi tenang - lanjut bertanya,"Berapa bungkus, Dok?".
"Kalau dilihat dari kadar HB nya 8.8, maka harus transfusi sebanyak 4 bungkus - 125cc."
Mama kemudian menanyakan kepada Dokter,"HARUS transfusi darah dok? Tidak bisa menunggu perkembangan kondisi selanjutnya?"
"Yaaa.. Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi? Kalau HBnya sudah turun sampai 6, maka bisa sampai kepada kondisi tidak sadarkan diri, dan pada saat tersebut, akan sangat susah untuk menaikkan HB nya lagi."
Mendengar pernyataan dari dokter ini, mama pun akhirnya pasrah dan menanyakan pendapat digi. Digi bilang,"Ya kalau dokter udah bilang begitu mau gimana lagi Ma."
Dan akhirnya menanyakan juga pendapat papa, papa tidak menyatakan keberatan. Maka akhirnya pun memutuskan untuk transfusi darah. Kemudian sampel darah digi diambil lagi, dan dibawa ke PMI untuk dicari donor darah yang cocok.
-To be continued part 3-
Wednesday, March 30, 2011
Horee!~~ Digi masuk rumah sakit~ part 2
Saturday, March 26, 2011
Horee!~~ Digi masuk rumah sakit~ part 1
Salam para penggemar digikid ^^
Bagaimana kabar kalian-kalian semua?
Yang pasti menjelang masa pancaroba alias masa pergantian musim hujan ke musim kemarau (atau sebaliknya) akan sedikit memberatkan bagi teman-teman yang kondisi tubuhnya lemah :)
Jangan lupa untuk menjaga kondisi tubuh sendiri ya, terutama akhir-akhir ini, di daerah Medan sendiri saja sudah beberapa hari ini dilanda hujan besar. Mungkin fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di kota Medan saja, bisa juga terjadi di kota-kota lainnya di daerah Indonesia
Satu hal yang pasti adalah untuk tetap menjaga stamina tubuh, dengan cara banyak minum air putih, tidak makan telat, tidur tepat waktu. Jangan lupakan sarapan pagi, karena sangat penting untuk menjaga keaktifan tubuh dalam sehari tersebut.
Juga perhatikan kondisi tubuh kita sampai sedetil-detilnya. Bisa saja perubahan kecil yang terjadi dalam tubuh kita bisa menjadi tanda-tanda sesuatu yang buruk sedang terjadi pada tubuh kita.
Seperti yang digi alami akhir-akhir ini. Terang saja, digi baru saja keluar dari rumah sakit.
Mungkin banyak sekali yang heran, perawakan digi kan tinggi besar, bagaimana mungkin bisa masuk rumah sakit?
Mungkin bisa dikatakan kelihatan kuat di luar tapi lemah di dalam. Well, sebenarnya bukan itu juga sih, digi kuat di luar dan di dalam kok @_@
Langsung saja kita menuju kronologi kejadiannya mulai dari bagaimana digi bisa masuk ke rumah sakit hingga digi akhirnya bisa keluar dari rumah sakit, meskipun dengan kondisi yang masih kurang fit.
Pada hari Kamis, 24 Maret 2011 yang lalu, digi terbangun di pagi hari dan merasa kurang enak badan. Digi pun akhirnya memutuskan untuk buang air besar di toilet.
Oh iya, hari-hari sebelumnya, digi sudah mengamati bahwa ternyata kotoran yang digi buang berwarna hitam, karena digi tidak merasakan adanya perubahan kondisi tubuh (meskipun sudah mengetahui bahwa feses berwarna hitam - namun digi tidak tahu bahwa feses berwarna hitam ternyata mengandung darah pada saat itu), digi pun melanjutkan aktifitas seperti hari-hari biasa.
Saturday, February 5, 2011
SELAMAT TAHUN BARU IMLEK!!
Selamat tahun baru imlek bagi teman-teman yang merayakan!
Maaf atas keterlambatan posting digi, karena satu dan kesibukan yang lain sehingga digi tidak bisa sering-sering mengupdate blog lagi. Malam ini karena digi merasa senggang dan sedang in untuk update blog, ya digi lakukan aja. Mengingat pada zaman dulu digi sangat senang menuang semua kegemaran digi kepada blog yang tercinta.
Semoga di tahun kelinci ini semua bisa berjalan dengan lancar, baik rohani maupun jasmani :)
Tiba-tiba saja digi teringat dengan masa-masa dimana digi sangat senang dengan yang namanya 'blogwalking', 'update blog', 'tukar link', atau apapun itu yang berhubungan dengan blog. Masih terngiang dengan jelas di ingatan digi, dimana digi bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menghias blog, yang kalau dipikir-pikir sekarang mungkin akan sangat membingungkan,"Darimana sih keluarnya waktu tersebut untuk melakukan hal-hal itu?"
Seiring dengan berjalannya waktu, bertambahnya usia, digi semakin menyadari kalau memang waktu berlalu dengan cepat. Tidak ada yang bisa menghentikan perubahan waktu, tidak ada juga yang bisa mengulang waktu yang telah terlewati. Demikian juga sebuah perenungan bahwa digi ternyata bukan lagi anak kecil seperti zaman dahulu, yang bisa menangis setiap saat, lalu pada detik berikutnya bisa tertawa. Digi juga bukan lagi anak SMP-SMA yang penuh dengan segala keacuhan dan segala ketidaktahuannya akan dunia ini, yang menganggap bahwa layar 17" inilah yang akan menemaninya melewati satu kehidupan ini.
Sedikit demi sedikit, karena anugerah Tuhan jugalah digi bisa menyadari bahwa ternyata manusia memang sebuah sosok yang sangat kecil di jagat raya ini, yang diciptakan Tuhan untuk mempermudah kehidupan manusia lain, bukan hanya berfoya-foya untuk diri sendiri. Barangkali sesosok harapan digi yang sejak kecil digi idam-idamkan, dimana manusia bisa hidup di dalam keharmonisan tanpa ada kekacauan, pernah pudar dalam angan-angan digi ketika menghadapi kacaunya kehidupan, pahitnya kehidupan, dan kerasnya kehidupan ini. Namun berkat bantuan teman-teman dan senyuman yang diberikan, tidak ada salahnya kalau digi sekarang kembali berangan-angan tentang indahnya sebuah dunia perdamaian. Meskipun sangat jauh dari kenyataan, digi tidak keberatan untuk menjadi bagian dari sejarah perwujudan dunia tersebut, yang akan digi lakukan dalam setiap tindakan kecil sehari-harinya. :)
Mungkin saja kata-kata yang digi tulis ini tidak akan mampu mengekspresikan semua isi hati digi sekarang ini, namun digi rasa sudah cukup untuk mewakili apa yang sedang digi rasakan sekarang ini.
Semoga semua dari kita selalu bersyukur atas berkat yang diterima dari Tuhan, apapun itu, betapapun sedikitnya, banyaknya itu, semoga kita selalu menerimanya dengan rasa syukur. Karena Tuhan tahu yang terbaik untuk manusia sendiri :)
Semoga di awal tahun baru kelinci ini, demikian juga di awal tahun 2011 menjadi awal yang baik bagi kita semua, untuk lebih mencintai diri sendiri, lebih mencintai masyarakat, lebih mencintai negara, lebih mencintai dunia ini.
Have a nice day :)
Continue Reading!
Wednesday, November 24, 2010
Long Time No See
Dear my blog Digikid, long time no see. Maafkan digi yang selama ini udah menelantarkanmu, tapi apa boleh buat, bahasa Hokkien nya, bo pien, memang kadang terbesit dalam benak digi untuk memposting, tapi ya itu lah, kembali lagi kepada kepribadian digi yang memang serba malas ini. Kalau lagi ngga ada mood, sepertinya agak susah untuk melakukan apapun kalau lagi in no-mood.. Haahhaha
Kali ini digi hanya sekedar mampir melepas kangen dengan bloggy ku yang udah setengah tahun kuterlantarkan (wah waktu yang cukup lama juga). Mungkin digi gak banyak bercerita, hanya cerita secukupnya saja tentang kehidupan, apa lagi yang bisa kuceritakan selain kehidupanku yang begitu memukau? :)
Dalam kurun waktu setengah tahun ini tentu saja sudah banyak yang berubah. Salah satunya adalah kegiatan kampus digi yang semakin lama semakin padat. Yaaa sebenarnya digi juga gak menginginkan jadwal kampus yang padat, karena emang bawaannya udah santai-santai di rumah sih. hahahah. Jadwalnya ya emang lumayan padat, di samping belajar alias menjadi mahasiswa yang baik, memasuki semester III ini digi juga sudah dimasukkan ke dalam kegiatan organisasi (yang sebenarnya digi akui digi tidak begitu berniat karena satu dan lain hal) ~_~ yaaa. begitulah.
Tapi disisi lain sebenarnya digi juga sudah mulai menyukai kegiatan mengampus, mungkin karena digi udah mulai menyukai teman-teman sekelas yang multi kutural itu, dan harus diakui memang kami sangat unik! Hahaha. Digi mulai merasa dekat ketika acara inagurasi pada bulan September yang lalu. Acara 3 hari 2 malam yang mengambil tempat di Parapat itu memang membuat digi n teman-teman digi yang berpartisipasi lebih kompak lagi. Dan digi bersyukur sekali bisa ikut acara itu. Hahaha. Begitulah kira-kira sekilas kehidupan kampus.
Nah.. Yang paling disyukurkan dan dibanggakan sekarang digi sedang menulis blog dengan menggunakan laptop baru yang belum genap 1 bulan XD. Asik asik thanks buat semua orang yang sudah bekerja sama untuk mendapatkan laptop ini :D
Oh iya, masih ada berita yang menggembirakan, ama (nenek) digi sekarang sudah tinggal di Medan looo. Yang awalnya tinggal di kota Pakam, 1 jam jauhnya dari Medan. Sekarang sudah tinggal di Medan dengan alasan perjalanan berobat yang lebih singkat waktunya. Jadi sekarang rumah digi lebih rame, kamar lebih sempit.. Yayaaaaaa... Dalam hal fisik mungkin tidak lebih nyaman daripada yang dulu, malahan sekarang lebih sempit-sempitan tidurnya, tapi kalau dari segi psikis.... yayaaaaaaaa digi senang sih bisa bertemu dengan ama lebih rameeee :D
Jadi kabar teman-teman sekalian gimana dalam setengah tahun ini!~~~ Boleh ya berbagi di comment?? ^^
Continue Reading!Thursday, March 25, 2010
SamPek - EngTay . Pasangan Kupu-kupu
Apa kabar para penggemar digikid ? :)
Akhir-akhir ini digi banyak sekali disibukkan oleh tugas-tugas dari kegiatan kuliah :(
Sangat sibuk sekali sampai waktu online saja tidak punya D:
Oh ya, digi mendapat sebuah tugas untuk meringkas sebuah karya sastra dari China, akhirnya digi memutuskan untuk mengambil SamPek-EngTay, sebuah legenda cinta yang lumayan terkenal di Indonesia.
Berikut adalah makalah yang digi buat, silahkan dibaca :)
Pendahuluan
Cerita ini adalah legenda yang berasal dari negeri Cina yang terjadi pada masa pemerintahan Jin Timur. Sebuah cerita tentang seorang wanita cantik yang demi menuntut ilmu, menyamar sebagai pria. Dalam perjalanannya menuntut ilmu, wanita tersebut bertemu dengan seorang pria lugu dan akhirnya jatuh cinta kepada pria tersebut. Walaupun kisah cinta mereka tidak direstui oleh orang tua, tetapi ketulusan cinta mereka telah menggugah banyak orang dan menjadi pedoman bagi pasangan-pasangan cinta di dunia ini. Cerita ini bahkan sudah dijadikan legenda cinta di negeri China sana. Cerita ini sudah secara internasional sudah dianggap sebagai sebuah serial Romeo and Juliet versi Negeri Tirai Bambu.
Di Indonesia cerita ini lebih dikenal dengan nama Sampek Engtay. Sampek – Engtay sendiri adalah terjemahan nama dari tokoh sang pria dan wanita, 梁山伯-祝英台 mengutip dua huruf terakhir dari karakter nama mereka dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Hokkien sehingga menjadi (Liang) Sam Pek (nama tokoh pria) dan (Zhu) Eng Tay (nama tokoh wanita).
EngTay adalah anak ke-9 dan merupakan anak perempuan satu-satunya dari keluarga Zhu. Karena kelihaian dan kepintaran Eng Tay, dia meyakinkan ayahnya untuk membiarkannya berdandan selayaknya pria dan belajar ke kota HangZhou. Pada saat itu sesuai dengan tradisi, seorang wanita tidak boleh menuntut ilmu di sekolah.
Dalam perjalanannya menuju kota HangZhou, EngTay secara tidak sengaja bertemu dengan SamPek ketika sedang beristirahat di sebuah paviliun. Hubungan mereka kedua semakin erat ketika mereka ternyata menjadi teman sekamar di asrama. Dalam asrama inilah rasa cinta kepada SamPek mulai tumbuh di hati EngTay. Tetapi sifat SamPek yang gemar membaca dan polos membuatnya tidak menyadari perilaku EngTay yang feminim.
Tiga tahun berlalu sejak pertama mereka bertemu, suatu hari EngTay menerima sebuah surat dari ayahnya yang memerintahkannya untuk pulang secepat mungkin. Karena tidak mempunyai pilihan lain, EngTay pun hanya bisa berkemas dan kemudian kembali ke kampung halaman. Sebelum berangkat, EngTay sempat berterus-terang tentang identitas dirinya kepada istri dari pemilik sekolah dan menitipkan sebuah kalung giok kepadanya untuk diberikan kepada SamPek.
SamPek menemani ‘adik angkatnya’ menuju perjalanan pulang sejauh 17 mil sebagai tanda perpisahan. Sepanjang perjalanan, EngTay terus saja memberikan petunjuk kepada SamPek tentang identitas dirinya, tetapi karena keluguannya SamPek tidak menangkap petunjuk-petunjuk yang diberikan. Akhirnya EngTay menemukan sebuah ide untuk menjodohkan SamPek dengan ‘adik perempuan’ EngTay yang ternyata adalah dirinya sendiri. Sebelum mereka berpisah, EngTay kembali mengingatkan SamPek agar datang untuk dijodohkan dengan adik perempuannya. SamPek dan EngTay pun berpisah di tempat dimana mereka bertemu, sebuah paviliun peristirahatan.
Beberapa bulan kemudian, ketika SamPek mengunjungi EngTay, SamPek baru mengetahui bahwa ternyata EngTay adalah seorang perempuan. Pada saat itu juga mereka kemudian bersumpah kepada satu sama lain ‘Sampai maut memisahkan kita’. Tetapi kebahagiaan dari pertemuan itu hanyalah bersifat sementara karena tidak lama kemudian EngTay mendengar kabar bahwa ia akan dijodohkan dengan anak seorang kaya yang bernama Ma WenCai, salah seorang teman sekelasnya dahulu yang berhasil menyadari bahwa EngTay ternyata adalah seorang wanita. Mendengar kabar ini, SamPek menjadi patah hati dan kondisi tubuhnya mulai melemah pada saat itu. Kemudian SamPek yang sakit-sakitan pun segera mencari seorang tabib untuk mengeluarkan resep obat, sang tabib memberikan sebuah resep yang berisikan sepuluh jenis obat sebagai berikut :
1. Tanduk dari raja naga di Laut Timur
2. Kulit pada kepala seekor udang
3. Dinding pelindung yang sudah berumur 10.000 tahun
4. Embun diatas genteng yang berumur 1.000 tahun
5. Sepasang telur dari burung legendaris
6. Usus dari dalam perut belalang
7. Daun dari jamur LingZhi yang tumbuh di gunung dimana dewa tinggal
8. Wewangian yang terdapat pada tubuh Ratu
9. Air suci yang terdapat pada pot bunga yang dipegang oleh Dewi Kwan Im
10. Sebotol arak yang dibuat dari tanaman legendaris.
Mengetahui sang tabib telah mengeluarkan obat yang mustahil didapat, SamPek pun menyadari bahwa dirinya telah mengidap penyakit rindu. Tak lama kemudian, SamPek pun meninggal di dalam kantornya sendiri ketika sedang bekerja mengabdi kepada negara sebagai seorang gubernur.
Ternyata penyakit rindu ini juga menjangkit EngTay. Pada hari pernikahan EngTay dan MaWenCai, EngTay sendiri berisitirahat di kamar karena sakitnya yang parah, sementara orang tua dan para tamu-tamu lainnya sedang membuat sebuah acara yang meriah untuk merayakan pernikahan Engtay dan MaWenCai.
Resepsi masih terus berlanjut, tiba saatnya EngTay untuk mengunjungi rumah dari pada MaWenCai. Pada saat EngTay sedang ditandu melewati makam SamPek, sebuah angin besar menghalangi jalan mereka. EngTay pun turun dari tandu dan berdoa untuk SamPek, mengenang kembali kenangan yang sudah pernah mereka ukir bersama. Pada saat tersebut, EngTay tenggelam dalam kesedihan yang sangat dan menangis tersedu-sedu, memohon agar makam tersebut dapat terbuka.
Sebuah keajaiban terjadi, kilat menyambar makam tersebut dan akhirnya makam terbuka. Tanpa ragu-ragu EngTay pun terjun kedalam makam tersebut. Roh keduanya kemudian berubah menjadi sepasang kupu-kupu dan terbang bebas di angkasa, tidak akan pernah terpisahkan untuk selamanya.
Pendekatan Cerita
Dari ringkasan cerita dapat dilihat bahwa pada zaman dahulu, orang-orang yang diperbolehkan untuk menuntut ilmu ke sekolah-sekolah hanyalah kaum pria, karena dari dulunya kaum pria dianggap mempunyai derajat lebih tinggi daripada kaum wanita. Sehingga jika para wanita ingin menuntut ilmu, mereka harus berpakaian selayaknya pria. Karena mereka semua sangat pintar di dalam berdandan, sehingga hampir tidak mungkin bagi mereka untuk diketahui pada zaman tersebut.
Salah satu hal yang patut dikagumi dari EngTay adalah kepatuhannya kepada orang tua. Sewaktu menerima surat dari sang ayah, EngTay langsung bergegas pulang ke rumah untuk menghadap. Bukan itu saja, bahkan EngTay menurut kepada orang tua nya ketika dijodohkan kepada MaWenCai. Walaupun sebenarnya berdasarkan tradisi pada saat itu. EngTay bisa saja menolak, tetapi karena ingin membahagiakan orang tuanya, dia memutuskan untuk menurut saja. Keputusannya diambil meskipun hatinya sudah diberikan kepada SamPek, mengikat sebuah cinta tidak berwujud yang tidak dapat dipisahkan oleh siapapun.
Dari cerita ini juga terlihat sebuah ketulusan cinta pada zaman itu, dimana EngTay lebih memilih untuk melompat ke dalam kuburan SamPek ketika kuburan itu terbuka. Hal ini menunjukkan bahwa dia lebih memilih untuk mengejar cintanya daripada hidup berkelimpahan. Ketulusan cinta SamPek juga terlihat pada saat kesehatannya yang menurun drastis.
Satu lagi yang sering menjadi legenda di dalam kisah SamPek – EngTay ini adalah 10 jenis obat yang dikeluarkan oleh tabib pada saat SamPek memeriksakan dirinya, sang tabib mengeluarkan sebuah resep yang berisikan hal-hal yang tidak mungkin didapatkan. Hal ini menjadi kutipan bagi masyarakat-masyarakat zaman sekarang ketika sedang mengacu kepada sesuatu yang tidak mungkin dilakukan.
Penutup
Dari cerita ini banyak sekali hikmah yang dapat kita petik. Mungkin bagi kita manusia zaman sekarang, banyak sekali adegan-adegan yang bagi kita bodoh untuk mereka lakukan, misalnya SamPek yang terserang penyakit rindu sampai kesehatan menurut drastis dan akhirnya meninggal, EngTay yang rela terjun kedalam kuburan untuk mengejar cintanya kepada SamPek tetapi malah nyawa sendiri yang melayang.
Memang begitulah manusia, terkadang perasan mengalahkan akal sehat sehingga mengorbankan kehidupan sendiri demi cinta. Padahal jika kita menggunakan akal sehat untuk dipertimbangkan lagi, mungkin kita akan mengira bahwa semua itu tidak ada gunanya, bagaimana mungkin seorang dapat mengorbankan nyawanya hanya demi seorang yang sudah mati. Tetapi karena perasaan yang tulus itulah, sekarang legenda SamPek – EngTay bisa tersebar ke seluruh dunia!
