Digikid is available in Chinese and English now!!
Digikid sudah ada dalam Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris lho ^^
Check it out! Digi-ch, Digi-eng
Showing posts with label About Me. Show all posts
Showing posts with label About Me. Show all posts

Wednesday, July 13, 2011

Thien She Pan 2011

Gak terasa sekarang udah berada di Medan lagi. Padahal jika diingat kembali, bayangan ibukota Jakarta itu masih serasa seperti kemarin.Yap. Digi sekarang sudah kembali dari Jakarta tiba di Medan, meninggalkan segudang kenangan yang tak akan terlupakan dalam hidup digi, meninggalkan sejumlah orang yang akan sangat-sangat digi rindukan untuk kurun waktu 1 tahun ke depan. Benar-benar sebuah perjalanan yang letih, menguras tenaga, tetapi kenangan yang datang tidak akan pernah mampu digantikan dengan kenangan yang lain....


Digi tiba di Jakarta pada tanggal 5 Juli 2011, bertepatan dengan hari Selasa. Setelah kami menginjakkan kaki di bandara Soekarno Hatta, waktu juga sudah menunjukkan pukul 22.00. Untung saja sudah ada orang vihara yang sudah siap menjemput kami (syukurlah, meskipun di satu sisi digi merasa kurang enak karena harus membuat orang vihara menunggu sampai satu jam lamanya). Akhirnya digi langsung berangkat untuk nginap di Vihara.


Begitu sampai di vihara, digi langsung melapor kepada Pandita, dan.. yang benar aja, langsung mendengar ada anak Medan (yang berangkat lebih dulu tadi pagi) sakit demam. Langsung bergegas ke atas dan memberikan obat dan air hangat kepadanya. Karena melihat keadaan kamar yang tidak memungkinkan untuk ditempati, digi pun memutuskan untuk tidur di aula besar bersama dengan teman-teman Jakarta lainnya yang sudah tertidur pulas, teman digi pada saat itu adalah Michael, setelah berbincang-bincang selama 1 jam. akhirnya Michael pun tertidur. Tersisalah digi sendiri yang tidak bisa tidur ntah kenapa selama pagi itu....

Sampai kepada hari kedua, ini lah hari dimana kita akan berangkat ke Puncak untuk mengikuti kelas Malaikat keesokan harinya. Pada saat pagi hari digi bangun untuk mengecek yang demam, ternyata demamnya belum mereda. Sehingga dia terpaksa diistirahatkan dalam segala persiapan kegiatan untuk kelas Malaikat nanti. Apa boleh buat, akhirnya kita juga disibukkan dengan latihan paduan suara dan latihan berbaris. Sampai akhirnya kita bersiap-siap untuk makan siang dan akhirnya berangkat ke Puncak (tentu saja tidak meninggalkan anak Medan yang sakit tadi). Setelah sampai di Puncak, ternyata sudah jam 16.00. Kami pun akhirnya diajak oleh panitian kelas Malaikat untuk menuju ke villa dimana kami menginap untuk beristirahat sejenak.


Setelah melepaskan bagasi masing-masing, kami akhirnya bengong, tidak tahu mau ngapain. Beberapa anak mengambil inisiatif untuk menuju ke lapangan depan untuk bermain bola basket, sampai akhirnya beberapa anak dari vihara lain juga ikut bergabung. Setelah melewati permainan beberapa ronde dengan kekalahan vihara digi (anak vihara lain kuat-kuat), akhirnya kami dikoordinasikan untuk menyantap makan malam di vihara, pada waktu ini, anak Medan juga masih demam :(. Akhirnya kami yang bertugas sebagai fasilitator (dari vihara kita ada 2 orang) pun mulai membantu panitia dengan berbagai kesibukan. Sampai akhirnya jam 18.00 kami kembali ke penginapan untuk mandi, dan bersiap-siap untuk berganti pakaian untuk menghadiri rapat fasilitator, dan kemudian che pei khou (proses permohonan kepada Yang Maha Kuasa agar kegiatan besok dapat berjalan dengan lancar). Sewaktu proses Che Pei Khou inilah dapat terlihat kebesaran dari Yang Maha Kuasa, serta Ikrar Besar dari Bapak Guru dan Ibu Guru Agung, remaja yang berkumpul dari seluruh Indonesia hampir berjumlah 700 orang banyaknya. Semuanya berlutut di depan YMK untuk memohon kelancaran kelas besok.Setelah proses Che Pei Khou, para fasilitator pun akhirnya rapat sekali lagi untuk memperjelas tugas dari fasilitator sendiri.


Digi sangat antusias sekali dengan tugas fasilitator, karena baru pertama kali digi menjadi fasilitator di acara yang begitu luar biasa ini, semua remaja berkumpul dari seluruh Indonesia. Hingga pada akhirnya kami semua pun kembali ke tempat istirahat masing-masing dan langsung istirahat... Ooppps.. Ternyata masih ada beberapa orang remaja yang datang mengikuti trip malam, digi pun kembali ke vihara dan menjemput beberapa orang tersebut (salah satunya adalah teman lama digi di Jakarta ^^), kemudian kembali ke tempat penginapan dan akhirnya istirahat untuk 1 hari yang cukup meletihkan ini.


Get into Thien She Pan Day 1!Pagi hari kita bangun jam 5.30. Lalu dilanjutkan dengan sikat gigi dan cuci muka, hari ini hampir semua anak-anak mengikuti kegiatan Morex (Morning Exercise) yang diadakan pada jam 6.30 pagi. Lalu kita dipandu untukkembali ke tempat penginapan untuk berganti seragam kebesaran pancaran putih yaitu seragam putih dan celana hitam. Setelahnya, anak-anak menuju ke vihara pusat untuk makan pagi. Di saat makan pagi inilah terlihat semua anak-anak dari seluruh Indonesia dengan pakaian yang paling rapi. Setelah menyantap makan siang, kita pun diarahkan untuk menuju aula utama untuk melantunkan paritta dan bersiap-siap untuk mengikuti upacara persembahan buah-buah kepada YMK dan Para Buddha Suci lainnya.Kesan pertama yang didapatkan dari mengikuti persembahan buah-buahan adalah sangat khidmat sekali.
Altar Buddha yang tadinya kosong sekarang sudah pelan-pelan diisi oleh aneka buah-buahan yang tersusun rapi dan juga kue yang dibuat khusus untuk memperingati ulang tahun ke-10 kelas Malaikat di tahun ini. Jumlah persembahan yang ada berjumlah 25 piring.Setelah upacara persembahan selesai, kita pun dipimpin oleh Liu Tien chuan She untuk mengundang Para Buddha Para suci. Sebelumnya, di aula sebelah yang luasnya lebih kecil, juga diadakan persembahan buah-buahan sejumlah 25 piring. Pada saat ini saya terkejut, "Bukannya biasa hanya 25 piring totalnya? Kali ini kok 50 piring ya?"

OOOoooohh.. akhirnya setelah dijelaskan oleh pembawa acara, saya jadi mengerti, ternyata sembari di aula utama diadakan kelas Malaikat, di aula sebelah juga diadakan 3 hari sidang dharma pada waktu yang sama, yang pesertanya merupakan orang-orang yang datang dari Daratan Tiongkok. Jumlah pesertanya saya lihat lebih kurang 15 orang. Mereka datang jauh-jauh dari Negeri Bambu untuk mengikuti 3 hari sidang dharma dengan suasana kelas malaikat yang diikuti oleh ratusan orang! Sungguh sebuah gabungan kelas yang sangat luar biasa! Lalu peserta wanita dan pria pun bersama-sama melakukan puja bhakti kepada YMK dan para Buddha Suci. Setelahnya, kita menyanyikan lagu suci dan mendengar sebuah topik makna pembukaan kelas dari Liu TCS.
Sebelum menyanyikan lagu suci, salah satu acara paling seru di kelas Malaikat diadakan, yaitu kegiatan menyusun kursi!Karena banyak sekali anak-anak yang ingin duduk di posisi depan untuk mendengar lebih jelas topik serta bimbingan dari para Buddha, maka setelah kegiatan puja bhakti selesai, banyak sekali anak-anak yang berebut ke barisan depan dan menyusun kursi. Di luar dugaan, peserta pria sangat kacau pada saat menyusun kursi. Melihat hal ini saya sangat merasa tergugah karena peserta pria sangat antusias untuk duduk di barisan depan. Tentu saja saya juga dengan diam-diam berdoa agar peserta saya (kelompok 10) anaknya baik-baik semua, untung saja doa saya dikabulkan ^^

Lalu mengikuti berbagai topik dengan berbagai kesan yang menarik untuk setiap topiknya.Tibalah jam 13.30 setelah menyanyikan lagu siang. Tiba-tiba saja Sanchai (tri-duta. fungsinya adalah sebagai media penghubung antara langit dan manusia, raganya biasanya dipinjam oleh Para Buddha untuk memberi petunjuk kepada manusia tentang pembinaan diri).

Kali ini yang datang adalah Ciao Hua Phu Sa (Yun You Ku Niang : Dewi dari alam dewi yang dilintasi pertama kali sejak masa pelintasan tiga alam) dan He Ta Sien (He Sien Ku : satu-satunya wanita yang berhasil membina diri yang masuk ke dalam gabungan 8 dewa) memberi wejangan kepada pandita dan juga para peserta dalam proses menjalani kehidupan dan membina diri.2 Buddha datang selama 2.5 jam lamanya, dan akhirnya kembali ke alam surga. Sekarang sudah menunjukkan kurang lebih pukul 16.00, kita pun siap untuk melanjutkan topik terakhir pada hari pertama ini. Pada saat ini tentu saja saya sudah mengetahui anggota di barisan 10. Awalnya saya cukup senang karena ada 3 orang yang saya kenal (kebetulan berasal dari daerah Medan juga, tapi dari vihara yang berbeda.), sisanya ternyata adalah teman-teman yang berasal dari Batam dan 1 lagi berasal dari daerah Bandung.

Setelah topik terakhir selesai, kita pun menyantap makan malam, dan akhirnya tempat tinggal kami disusun ulang, dari yang tadinya tidur dengan vihara masing-masing, sekarang tidur dengan kelompok masing-masing. Untuk saat inilah, digi berusaha mengambil kesempatan untuk lebih mengenal anak-anak yang berasal dari daerah Batam. Ternyata umur mereka hampir sama semua, jadi digi merasa untuk mendekatkan diri dengan mereka tidak begitu sulit. Apalagi pembawaan mereka semua supel dan gampang bergaul. Digi sangat salut melihat kumpulan anak-anak dari Batam ini. Sedangkan koko yang berasal dari Bandung tampaknya mempunyai pribadi yang lebih tidak terbuka, jujur digi sendiri tidak mampu untuk berkomunikasi banyak dengan beliau :( Saya telah gagal menjadi fasilitator yg baik T_T
Ketika malam tiba, kami yang sudah kembali ke villa masing-masing dengan kelompoknya sendiri, dipandu untuk latihan paduan suara, otomatis digi juga latihan paduan suara. Setelah selesai, kami kembali pulang dan bersiap-siap untuk istirahat. Tentu saja kami tidak lupa untuk mandi, dan sharing dengan teman-teman tentang pengalaman di vihara masing-masing. Dan hari pertama, kita tutup dengan doa, berdoa kepada Tuhan, kepada Guru Agung CiKong, untuk selalu menjadi sandaran bagi kami murid-muridNya di dalam melewati kehidupan pembinaan diri ini.

Untuk hari pertama berlalu dengan sangat antusias, saya yakin semuanya siap untuk menyambut hari kedua. Oh iya, saya lupa melaporkan disini, bahwa anak Medan yang sakit juga ternyata berhasil mengikuti semua jadwal acara pada hari pertama dengan sempurna, tidak ada yang terlewati, kecuali latihan paduan suara per vihara yang dilaksanakan pada malam hari. Dikarenakan udara yang dingin pada malam hari, sehingga dia tidak diperbolehkan untuk ikut dan dianjurkan untuk istirahat di kamar masing-masing.

Continue Reading!

Wednesday, March 30, 2011

Horee!~~ Digi masuk rumah sakit~ part 2

Pada saat ini, air mata digi kembali mengalir sendiri, tanpa dikomando, seakan air mancur yang rusak tombol on-off nya.
Akhirnya dengan perkataan yang sama, digi berhasil meyakinkan mama bahwa digi tidak apa-apa, digi hanya merasakan denyut jantung digi yang berdetak dengan sangat cepat dan digi mengatakan ingin segera pergi ke dokter untuk mengecek apa yang terjadi.


Selamat datang kembali. Mari kita lanjutkan cerita digi.


Memang kasih sayang orang tua kepada anak cucunya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Kali ini, mama digi yang tadinya pergi sekarang telah pulang, dan menanyakan kepada digi kondisi digi bagaimana. Terang saja digi sangat senang, namun demikian, karena kondisi digi yang masih belum pulih (detak jantung yang cepat), digi masih belum bisa mengucapkan kata-kata. Saat mama pulang, waktu menunjukkan sekitar pukul 12.30 siang. Digi hanya bisa tertidur, sembari menunggu jam 3, karena dokternya buka praktek jam 3 :) Dokter ini adalah dokter pribadi keluarga digi sejak kecil, semua data kesehatan digi terekam di klinik dokter ini :) Kebetulan suku dokter sama dengan suku papa digi, suku HengHua, yang membuat kami semakin dekat. Meskipun dokter ini tidak terlalu pintar, namun enak diajak berkonsultasi dan mempunyai pengalaman yang banyak. Well, tidak semua dokter harus pintar untuk bisa mengobati kita. Kadang dokter yang pintar pun bisa membunuh pasiennya hanya dengan pernyataan yang pahit :(

Setelah jam 3, digi pun turun ke lantai bawah dan masuk ke dalam mobil. Tepat pada saat ini, nenek digi pulang dari rumah sakit. Nenek digi terkena serangan ginjal sehingga harus menjalani proses pencucian darah 3 kali selama seminggu, yang kebetulan bertepatan dengan hari tersebut, hari Kamis.
Biasanya setelah menjalani proses cuci darah, kondisi nenek digi sungguh lemah, bahkan tidak bisa turun dari mobil dan berlama-lamaan untuk berbicara. Biasa kepala beliau akan terasa pusing, bahkan untuk beberapa kasus yang ekstrim muntah-muntah selama perjalanan pulang. Namun pada hari tersebut, ketika nenek digi mendengar kondisi digi yang seperti ini, langsung turun dan melihat digi yang berada di dalam mobil. Begitu melihat muka digi yang begitu pucat, nenek digi langsung mengatakan,"Kok pucat sekali? Ada apa?"
Mengingat keadaan nenek yang biasa tidak stabil, sekarang masih bisa turun untuk mengkhawatirkan kondisi digi, membuat digi sangat terharu. Memang kasih sayang orang tua kepada anak cucunya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Digi akhirnya hanya bisa terdiam dan meneteskan air mata, sambil mengatakan dengan pelan,"Tidak apa-apa kok nek, tidak apa-apa."
Selanjutnya, digi sudah tidak bisa mengingat pesan yang diamanatkan oleh nenek, digi hanya bisa mengingat nenek yang sudah naik ke atas mobil dan digi pun akhirnya berangkat ke klinik dokter. Digi juga tidak mengingat berapa lama perjalanan menuju kesana, rasanya semua terasa cepat sekali sehingga digi sampai di klinik dokter yang berlokasi tidak jauh dari tempat tinggal digi tersebut.


Sesampainya di klinik, digi pun langsung mendaftarkan diri. Suster pun melakukan administrasi seperti biasa, cek tinggi dan berat badan. Akhirnya digi duduk beristirahat sambil menunggu giliran. Tidak lama memang, atau mungkin segalanya berjalan begitu cepat, hingga akhirnya nama digi dipanggil.
Begitu memasuki ruangan dokter, digi duduk dan mama digi langsung menjelaskan keadaan digi kepada dokter, kotoran yang berwarna hitam, pusing-pusing.
Dokter pun memeriksa bagian bawah mata digi (untuk melihat apakah ada darah atau tidak). Mungkin dokter menemukan ada yang tidak beres, dokter terkejut dan menanyakan, "Kenapa bisa begini?" "Ada muntah?" Digi spontan menjawab, "Ada, muntahannya berwarna hitam. Itu karena semalam aku makan gado-gado dok." Dokter pun terkejut dan menyuruh digi untuk berbaring di atas tempat tidur. Proses selanjutnya adalah dokter mengecek anus digi, dan ternyata menemukan terdapat banyak sekali darah yang terkumpul.

Dengan demikian diagnosa dokter ditegakkan, penyakit yang digi derita adalah LUKA LAMBUNG. Hore~~ (kok jadi senang ya?)



Mama kemudian bertanya kepada dokter,"Lalu bagaimana dok? Apakah perlu rawat inap di rumah sakit?"
Selanjutnya dokter pun mengeluarkan resep obat dan mengatakan,"Kontrol kotorannya, jika dalam 2 hari masih tetap berwarna hitam atau mengeluarkan darah, siap-siap untuk masuk rumah sakit." diikuti dengan instruksi penggunaan obat yang diberikan.

Digi pun akhirnya mengucapkan terima kasih dan akhirnya pamit kepada dokter. Sebelum digi pulang, dokter berpesan kepada digi,"Ingat, masalah lambung harus mengontrol makanan, untuk sementara ini jangan makan yang keras-keras dan yang panas-panas."
Mendengar tidak boleh makan yang panas-panas, digi pun bertanya,"Kalau es krim boleh dok?"
Dokter mengatakan,"Boleh."
Digi pun kegirangan, mungkin saja pada saat ini mama digi menggeleng-gelengkan kepalanya :P
Akhhirnya digi pun naik ke mobil dan bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Bahkan pada saat ini digi mengatakan digi ingin menyetir, mengingat keadaan kaki mama yang belum sembuh total, berjalan pun masih menggunakan tongkat. Mama langsung marah dan berkata seketika,"Kamu sudah sakit! Duduk saja di samping!" Namun digi menolak dan mengatakan ingin duduk di belakang, dengan alasan lebih nyaman, karena tempat duduk di depan lebih sempit. Meskipun hal ini sangat tidak mengenakkan, karena dengan posisi duduk seperti ini mama terlihat sebagai seorang supir, tapi apa boleh buat, karena kondisi tubuh digi saat itu memang sangat tidak memadai.

Kontan digi mengambil kantong plastik yang ada di depan digi, dan langsung memuntahkan kembali semua yang ada di perut digi.

Dalam perjalanan pulang, sekali lagi, segalanya berjalan dengan sangat cepat. Di dalam mobil digi juga langsung mengkonsumsi obat yang diberikan dokter. Namun sesuatu hal yang sangat mengerikan kembali terjadi. Beberapa meter sebelum sampai di rumah, digi mengatakan kepada mama perut digi merasa tidak enak, seperti mau muntah saja rasanya. Kontan digi mengambil kantong plastik yang ada di depan digi, dan langsung memuntahkan kembali semua yang ada di perut digi. Sekali lagi, warna muntahan digi adalah hitam, dan kali ini, saking dekatnya dengan hidung digi, digi sekilas mencium bau yang sama dengan bau yang ada di toilet tadi pagi, bau amis. Kali ini lebih bau dan lebih jelas. Digi berusaha mengangkat hidung digi agar tidak tercium bau menyengat tersebut. Namun apa boleh buat, karena reaksi digi yang lambat dan bau yang menyengat tersebut, digi kembali memuntahkan isi perut digi untuk yang kedua kalinya, dengan warna yang sama, warna hitam, dan bau yang lebih menyengat lagi.
Dengan begini, digi sudah memuntahkan cairan (yang sebenarnya adalah darah) sebanyak setengah ukuran plastik. Pada saat digi tiba di rumah, digi pun memutuskan untuk membuang kantong plastik tersebut di depan rumah digi.
Darah muntahan digi pun tertumpah ke jalan raya, pemandangan ini membuat digi sedikit merinding pada saat itu. Anehnya, adik digi juga melihat pemandangan ini dan merasa biasa-biasa saja. Karena pada saat itu hujan gerimis, sehingga digi pun langsung masuk ke dalam rumah dan beristirahat.


Dokter tersebut mengatakan,"Lebih baik besok di cek HB (Hemoglobin)nya di klinik terdekat, kalau HB nya dibawah 10, harus dimasukkan ke rumah sakit."


Kali ini di dalam rumah, digi benar-benar dijaga dengan ketat. Pasalnya, kondisi digi sekarang saat ini memang benar-benar lemah Rasanya aneh ya membayangkan postur tubuh digi yang lemah tertidur di kasur gak bisa melakukan apa-apa.. Digi hanya beristirahat sampai dengan esok harinya. Oh iya, tidak lupa digi menghubungi murid-murid les digi bahwa digi tidak bisa mengajar pada hari tersebut karena tidak enak badan. Actually digi masih bersikeras ingin mengajar, namun langsung dihentikan niatnya oleh mama mengingat kondisi digi yang sangat tidak memungkinkan saat ini. (Memang sebuah tabiat buruk dari dulu bagi digi untuk melakukan sesuatu tanpa memikirkan kondisi sekarang ini). Menjelang malam hari, mama digi sudah sibuk-sibuk menelepon kepada dokter yang merupakan famili digi (lebih tepatnya adik dan adik ipar dari nenek) tentang kondisi digi pada saat itu.
Dokter tersebut mengatakan,"Lebih baik besok di cek HB (Hemoglobin)nya di klinik terdekat, kalau HB nya dibawah 10, harus dimasukkan ke rumah sakit."
Dengar-dengar pada saat ini telapak kaki digi sudah berwarna putih total. Hingga pada saat malam hari digi pun mengonsumsi obat dan akhirnya tidur dan tidak tahu menahu kejadian yang terjadi selanjutnya.


Alangkah terkejutnya ketika mengetahui bahwa Hemoglobin digi hanya berjumlah 8,8.

Hari esoknya setelah bangun, digi masih merasakan sekujur tubuh lemas, tidak bersemangat, dan jantung berdebar dengan keras, sindrom yang sama dengan kemarin - dengan kata lain - kondisi digi sama sekali tidak membaik. Akhirnya mama digi melakukan seperti yang diminta oleh adik nenek digi, yaitu mengecek Hemoglobin di klinik yang bisa dibilang lumayan dekat. Setelah mengecek Hemoglobin, mama mengira hasilnya bisa keluar langsung, ternyata harus menunggu 1 jam kemudian. Wah. Mama papa dan digi kelabakan, Kok bisa 1 jam ya? Katanya sih langsung. Yaa. apa boleh buat, akhirnya kami pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumah untuk beristirahat, setidaknya itu lebih baik daripada duduk menunggu di dalam klinik - mengingat keadaan digi seperti ini.

Akhirnya digi kembali beristirahat di rumah.

1 jam pun berlalu, dan papa membawa pulang hasil tes darah tersebut. Alangkah terkejutnya ketika mengetahui bahwa Hemoglobin digi hanya berjumlah 8,8. Sementara kadar normalnya 13 sampai 16 (ada juga yang mengatakan 12 sudah cukup, ada yang mengatakan 14). Apapun itu, kadar hemoglobin dalam darah digi sudah termasuk rendah.
Mama akhirnya memutuskan untuk menghubungi adik nenek digi, dan akhirnya memutuskan,"Ya sudah, masuk rumah sakit aja."

Kalau mau dideskripsikan kondisi digi saat itu, hanya biasa-biasa saja. Digi tidak takut terkejut - apalagi takut - untuk masuk rumah sakit. Digi tidak pernah membayangkan sakitnya disuntik oleh jarum (yang akan terbayang pas diopname di rumah sakit nanti, haha). Pada saat ini, hanyalah terbesit sebuah perasaan malas. Aduh, rasanya malas harus tinggal di rumah sakit, repot. Dan memang, hanya untuk opname 3 malam saja barang bawaan digi seperti mau pergi ke Jakarta selama 10 hari. Namun digi tegaskan kepada diri sendiri, bahwa ini berarti orang rumah memperdulikan digi dan ingin menyediakan fasilitas yang terbaik untuk digi di rumah sakit :)

Langsung saja kita menuju ke rumah sakit.

Sebelum menuju ke rumah sakit, tentu saja mama sudah meminta persetujuan dari dokter keluarga, dan akhirnya dokter keluarga memperkenalkan dokter di sebuah rumah sakit yang dekat dengan rumah digi. Sebenarnya ada beberapa rumah sakit yang lebih elite daripada rumah sakit yang digi tempati pada saat ini. Satu-satunya alasan kami memilih rumah sakit ini adalah fasilitasnya yang lumayan lengkap - meskipun tidak selengkap rumah sakit yang digi sebutkan di atas, namun masih tergolong memadai dan modern - dan yang paling penting adalah, jarak dari rumah digi dengan rumah sakit sangat dekat, bisa ditempuh dengan mobil dalam waktu 5 menit. Yang tentu saja akan sangat efisien bagi orang rumah untuk melakukan segala sesuatu dan membagi waktu antara rumah dan rumah sakit :)


Kontan digi tersentak mendengar kata 'transfusi darah' - dan digi yakin, bukan hanya digi yang terkejut, mama pasti terkejut juga.

Let's see... Digi akhirnya tiba di rumah sakit, dengan jalan yang masih sempoyongan, bersama mama, hanya berdua - Mama yang menggunakan tongkat, dan digi dengan muka pucat. Dalam lorong rumah sakit, digi masih menyempatkan diri bercanda dengan Mama,"Kira-kira kalau susternya melihat, ini siapa yang mau tinggal di rumah sakit ya? Haha." Karena kondisi kaki mama yang belum sembuh total sehingga mengharuskan mama untuk memakai tongkat ketika berjalan (sebenarnya digi sendiri lebih prefer jika mama mau memakai kursi roda, karena kadang-kadang kaki mama masih sering sakit ketika berjalan, ataupun ketika digerakkan).
Akhirnya kami tiba di ruang ICU dan suster yang menjaga di ruang ICU langsung menanyakan,"Siapa yang mau diopname?" Digi spontan menjawab,"Aku sus."

Akhirnya digi dipersilahkan berbaring, dan kemudian menanyakan gejala-gejala apa yang ada. Digi pun kemudian menjelaskan secara terperinci gejala digi. Dokter akhirnya datang dan dengan cepat mengkomando suster untuk menyuntikkan beberapa jenis obat ke tubuh digi, kalau tidak salah ada 3 jenis obat. Nah dari sini lah mulai aksi suntik menyuntiknya.
Datanglah suster yang pertama menyuntik bagian lengan kanan digi (mungkin sejenis vitamin atau apa). Yang kedua adalah mengambil sampel darah digi, nah ini yang digi agak kesal, pasalnya susternya mengambil di bagian kanan lengan digi. Padahal digi sudah katakan,"Sus, biasa aku ngambil darah di bagian kiri." Suster tersebut masih dengan ngotot dan gaya sok tahunya mengatakan,"Iya, kita coba dulu di bagian kanan."
Alhasil, daging di tubuh yang empuk ini disuntik secara cuma-cuma. Bukan hanya itu, suster ini akhirnya memaksa untuk tetap mengambil darah dari tangan kanan digi, namun kali ini diganti posisinya, di bagian atas telapak tangan digi (tempat jarum infus disuntikkan), dan inilah suntikan yang paling sakit yang pernah digi rasakan. Pas suster menginjeksikan suntik ke dalam kulit, suster itu terdiam sebentar, tidak ada darah yang keluar. Akhirnya kepala suntik itu pun digeser-geser, dan kemudian digeser-geser lagi (bayangkan jarum suntik yang belum dikeluarkan dari kulit, masih tertancap dalam kulit dan digeser-geser, sakitnya itu....) Dalam hati digi,"Ya ampun Tuhan ampunilah aku karena aku hampir akan menyumpahi suster ini." Akhirnya digi hanya terdiam saja, toh suster ini tahu yang paling baik untuk digi, digi juga tidak banyak komentar lagi. Hingga akhirnya, ntah darimana datangnya, darah nya keluar sendiri. Whew, akhirnya selesai juga.

Dilanjutkan dengan jarum infus. Kali ini di nadi di atas telapak tangan kiri digi, digi sih tidak terlalu takut, karena sudah sering melihat pasien yang disuntik ,sementara digi sendiri bisa dikatakan tidak terlalu takut disuntik. Hanya saja, setelah jarum tersebut ditancapkan di dalam nadi, ada sesuatu yang tidak enak terasa mengganjal di tangan kiri digi. Ya jelas lah, namanya saja sudah disuntik, pasti ada perasaan tidak enak. Pada saat ini, barulah digi merasa sedikit ketakutan, "Apakah aku harus melewati 3 hari disini dengan diinfus dan perasaan tidak nyaman ini?"
Namun digi segera menyingkirkan perasaan itu dan mengatakan kepada diri sendiri, semua akan berjalan dengan baik-baik saja.

Setelahnya mama masuk dan menanyakan kepada dokter bagaimana kondisi anak mama. Dokter mengatakan,"Kalau melihat kondisi sekarang, tampaknya harus transfusi darah secepatnya."

....
....
....
!!!!

Kontan digi tersentak mendengar kata 'transfusi darah' - dan digi yakin, bukan hanya digi yang terkejut, mama pasti terkejut juga. "Separah itukah sampai harus melakukan transfusi darah?", tentu saja pertanyaan ini digi tanyakan kepada diri digi sendiri - yang pada akhirnya digi ketahui pada saat itu mama juga menanyakan hal yang sama kepada dirinya sendiri. Akhirnya mama dengan nada yang sedikit terkejut - tapi tenang - lanjut bertanya,"Berapa bungkus, Dok?".
"Kalau dilihat dari kadar HB nya 8.8, maka harus transfusi sebanyak 4 bungkus - 125cc."
Mama kemudian menanyakan kepada Dokter,"HARUS transfusi darah dok? Tidak bisa menunggu perkembangan kondisi selanjutnya?"
"Yaaa.. Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi? Kalau HBnya sudah turun sampai 6, maka bisa sampai kepada kondisi tidak sadarkan diri, dan pada saat tersebut, akan sangat susah untuk menaikkan HB nya lagi."
Mendengar pernyataan dari dokter ini, mama pun akhirnya pasrah dan menanyakan pendapat digi. Digi bilang,"Ya kalau dokter udah bilang begitu mau gimana lagi Ma."
Dan akhirnya menanyakan juga pendapat papa, papa tidak menyatakan keberatan. Maka akhirnya pun memutuskan untuk transfusi darah. Kemudian sampel darah digi diambil lagi, dan dibawa ke PMI untuk dicari donor darah yang cocok.


-To be continued part 3-

Continue Reading!

Saturday, March 26, 2011

Horee!~~ Digi masuk rumah sakit~ part 1

Salam para penggemar digikid ^^

Bagaimana kabar kalian-kalian semua?

Yang pasti menjelang masa pancaroba alias masa pergantian musim hujan ke musim kemarau (atau sebaliknya) akan sedikit memberatkan bagi teman-teman yang kondisi tubuhnya lemah :)
Jangan lupa untuk menjaga kondisi tubuh sendiri ya, terutama akhir-akhir ini, di daerah Medan sendiri saja sudah beberapa hari ini dilanda hujan besar. Mungkin fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di kota Medan saja, bisa juga terjadi di kota-kota lainnya di daerah Indonesia
Satu hal yang pasti adalah untuk tetap menjaga stamina tubuh, dengan cara banyak minum air putih, tidak makan telat, tidur tepat waktu. Jangan lupakan sarapan pagi, karena sangat penting untuk menjaga keaktifan tubuh dalam sehari tersebut.
Juga perhatikan kondisi tubuh kita sampai sedetil-detilnya. Bisa saja perubahan kecil yang terjadi dalam tubuh kita bisa menjadi tanda-tanda sesuatu yang buruk sedang terjadi pada tubuh kita.


Apakah kita berkeringat lebih banyak daripada biasanya?
Apakah kita tidak konsentrasi dalam melaksanakan aktifitas?
Apakah bagian perut terasa sakit, tidak enak?
Apakah kita sering merasa sakit kepala, atau tubuh kurang fit, lemas?

Jika gejala-gejala di atas (ataupun perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh lainnya) terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama, well, katakanlah 2-3 hari, maka perlulah teman-teman check-up ke dokter.

Seperti yang digi alami akhir-akhir ini. Terang saja, digi baru saja keluar dari rumah sakit.

Mungkin banyak sekali yang heran, perawakan digi kan tinggi besar, bagaimana mungkin bisa masuk rumah sakit?

Mungkin bisa dikatakan kelihatan kuat di luar tapi lemah di dalam. Well, sebenarnya bukan itu juga sih, digi kuat di luar dan di dalam kok @_@

Langsung saja kita menuju kronologi kejadiannya mulai dari bagaimana digi bisa masuk ke rumah sakit hingga digi akhirnya bisa keluar dari rumah sakit, meskipun dengan kondisi yang masih kurang fit.

---Namun kali ini berbeda, kali ini, kotorannya dalam bentuk sedikit cairan, menempel pada jamban, dan bau amis---


Pada hari Kamis, 24 Maret 2011 yang lalu, digi terbangun di pagi hari dan merasa kurang enak badan. Digi pun akhirnya memutuskan untuk buang air besar di toilet.
Oh iya, hari-hari sebelumnya, digi sudah mengamati bahwa ternyata kotoran yang digi buang berwarna hitam, karena digi tidak merasakan adanya perubahan kondisi tubuh (meskipun sudah mengetahui bahwa feses berwarna hitam - namun digi tidak tahu bahwa feses berwarna hitam ternyata mengandung darah pada saat itu), digi pun melanjutkan aktifitas seperti hari-hari biasa.
Hingga pada hari Rabu, digi sudah mulai mengamati denyut nadi digi bertambah kencang, tidak seperti biasanya, tubuh semakin lemas, namun juga tidak digi gubris. Tiba pada hari Kamis tersebut, digi kembali buang air besar berwarna hitam. Namun kali ini berbeda, kali ini, kotorannya dalam bentuk sedikit cairan, menempel pada jamban, dan bau amis. Pada saat tersebut digi masih belum mengetahui bahwa bau tersebut adalah bau amis, digi mengira bau yang ditimbulkan adalah bau jengkol (maklum, pada hari Sabtu yang lalu digi baru saja mengkonsumsi jengkol sebanyak 2 buah), jadi digi tidak menghiraukan bau yang keluar dan menganggap semua itu normal-normal saja, termasuk feses yang berwarna hitam.


---Ternyata memang benar, hati dari orangtua tidak akan pernah berubah sepanjang masa, mengkhawatirkan anak-anaknya.---

Setelah keluar dari toilet, digi langsung menuju ruang tamu, pada saat ini, digi sudah merasa ada yang tidak beres dengan tubuh digi, pandangan menjadi sedikit kabur, tubuh menjadi sedikit lemas, jalan juga sudah tidak karuan, karena sudah tidak bertenaga pada saat tersebut. Digi akhirnya terduduk di atas sofa ruang tamu. Pada saat tersebut juga, pandangan digi seketika menjadi kabur menjadi gelap seketika, digi langsung berpikir, "Celaka, ini sepertinya sudah mau pingsan." Pada saat itu, digi langsung berdoa ,"Ya Tuhann, saya tidak boleh pingsan sekarang." Hebatnya, kesadaran digi memang kembali, namun tubuh digi masih tetap lemah. Digi pun merasa ingin muntah, kontan saja digi beranjak dari sofa dan menuju toilet, dengan sangat pelan.

Sesampainya di toilet, digi langsung terduduk di dudukan toilet, dan dalam waktu kurang dari 5 detik, digi langsung memuntahkan semua yang ada dalam perut digi "Hoeeeekkk" kira-kira begitu bunyinya, sebanyak 2-3 kali, dan warnanya ? hitam semua :)

....
...
...

"Lho? Kenapa kali ini muntahannya berwarna hitam ya?" pikir digi. Digi pun terpikirkan, karena pada malam sebelumnya, pada acara hari kelahiran Dewi Kwan Im, digi mengunjungi vihara yang ada di dekat rumah untuk menghadiri jamuan makan vegetarian. Pada acara tersebut digi mengonsumsi gado-gado, meskipun jumlahnya sedikit.
Sekali lagi digi berpikir "Ah, mungkin saja ini adalah gado-gado yang tadi digi makan, namanya juga muntah, pasti semua yang dimakan tadi dimuntahkan dong. Tidak apa-apalah".

Akhirnya setelah muntah-muntah, digi pun membersihkan lantai toilet bekas muntahan, dan akhirnya keluar dari toilet, bermaksud untuk minum segelas air putih dan melanjutkan tidur digi.

Siapa sangka, ketika digi berjalan keluar, digi bertemu dengan mama yang sudah terduduk di sofa. "Ada apa, kamu muntah ya?" kata mama. "Iya, ma. Gakpapa kok, muntah yang tadi di makan, sekarang udah agak baikan," balas digi. Dan pada kenyataannya digi memang merasa a lot-lot better setelah muntah. Sungguh digi tidak menyangka bisa membangunkan mama yang sedang tidur. Ternyata memang benar, hati dari orangtua tidak akan pernah berubah sepanjang masa, selalu mengkhawatirkan anak-anaknya. Akhirnya digi mengatakan,"Sudah tidak apa-apa kok ma, mama tidur aja, aku juga udah mau tidur. Selamat malam ma.", akhirnya mama pun kembali tidur. Digi pun pergi ke dapur untuk meneguk segelas minuman dan kembali melanjutkan tidur digi.

---Saat berada di kantin, teman-teman sudah mengatakan wajah digi pucat, bibir digi juga putih, tanda-tanda kurang darah yang saat itu tidak digi sadari.---

Pada keesokan harinya, digi sudah mulai merasa sangat tidak normal, ditandai dengan bertambah cepatnya denyut nadi digi, sangat-sangat cepat, terutama ketika digi melakukan aktifitas berjalan dan berpindah tempat. Selain itu digi juga merasa tubuh digi sangat tidak bersemangat, lesu.
Setelah selesai mandi dan beribadah, digi pun akhirnya menemui adik digi yang sedang duduk santai di sofa, menanyakan "Sebenarnya koko demam gak sih?".. Adik digi melihat sekilas kepada digi, mengambil tangannya dan meletakkannya ke kepala digi, mengamati sebentar dan mengatakan dengan nada sedikit mengejek "Tidak demam kok."
Digi hanya tertawa kecil, lalu setelah mengkonsumsi sedikit sarapan, digi pun akhirnya bersiap-siap untuk pergi ke kampus.

Sesampainya di kampus, digi pun langsung menuju ruangan kelas. Pada saat itu dosen belum datang. Untunglah, karena dosennya tergolong baik, jadi digi tidak sanggup hati bila harus telat pada pelajaran dosen tersebut. Pada saat perjalanan menuju ruangan kelas pun digi sudah merasakan detak jantung digi bergerak sangat cepat. Dan digi sangat tidak bersemangat. Digi pun duduk dan hanya berdiam diri. Unluckily, orang di samping digi terus mengajak digi berbicara. Terpaksa hanya digi ladeni dengan beberapa patah kata. Selanjutnya, kegiatan yang terjadi selama pelajaran ini tidaklah begitu signifikan, hanya belajar dan belajar, hingga akhirnya dosennya keluar, digi pun menyempatkan waktu nongkrong di kantin, untuk menghabiskan waktu. Pada saat berada di kantin, teman-teman sudah mengatakan wajah digi pucat, bibir digi juga putih, tanda-tanda kurang darah yang saat itu tidak digi sadari. Digi tidak menggubris perkataan teman digi, dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke Wisma USU dengan teman digi untuk berkunjung ke tempat dosen Cina berada. Pada saat ini jam sudah menunjukkan pukul 09.30.

---pada saat ini jugalah, digi menyadari, kondisi digi sudah masuk tingkat kritis dan tidak main-main lagi---

Maksud kedatangan digi adalah untuk membeli tiket ke Bali. Karena dosen Cina mengatakan sangat ingin berkunjung ke Bali, dan kebetulan salah satu perusahaan penerbangan juga sedang melakukan promosi gencar-gencaran, akhirnya digi dan teman cowo digi memutuskan untuk menemani kedua dosen wanita yang berasal dari daerah HuNan tersebut.
Dalam proses membeli tiket, digi semakin merasa tidak enak badan, digi merasa sudah tidak sanggup untuk melanjutkan aktifitas belajar pada pukul 11.40 nanti. Akhirnya sekitar jam 10.40, digi menelepon kepada mama digi, meminta izin kepada mama untuk bisa pergi ke Bali, confirm harga tiket dan jadwal kepergian. Setelah mama setuju, digi mengakhiri percakapan di telepon dengan "Ma, nanti jam 3 kita ke dokter aja ya. Aku udah nggak enak badan banget." Dan mama pun mengatakan "OK."


Waktu berjalan, akhirnya dalam kurun waktu kurang lebih satu setengah jam , digi berhasil menyelesaikan pembelian tiket Medan-Bandung-Bali-Bandung-Medan. Digi merasa sedikit lega. Pada saat ini kondisi digi juga sudah benar-benar drop, digi hanya bisa tertidur di kamar saja, memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Tidak lama kemudian, digi merasakan rasa mulas pada perut digi. Digi pun memutuskan untuk menggunakan toilet yang ada di Wisma dosen tersebut. Baru pada saat inilah, digi menyadari bahwa ternyata kotoran yang digi keluarkan adalah darah, pada saat ini jugalah, digi menyadari, kondisi digi sudah masuk tingkat kritis dan tidak main-main lagi. Akhirnya setelah menunggu kepulangan dosen ke wisma, digi pun pamit pulang ke rumah. Hebatnya pada saat ini, digi masih bisa membawa motor, haha. Meskipun dalam perjalanan, digi terus berdoa "Ya Tuhan saya harus sampai di rumah dengan motor ini. Selamatkanlah aku dalam perjalanan." Terus dan terus berdoa sepanjang perjalanan :)


-- Hingga akhirnya digi berhasil meyakinkan papa, mengatakan dengan suara yang sangat pelan "Tidak apa-apa pa, air matanya keluar sendiri." ---


Sesampainya di rumah, digi langsung menuju rumah. Digi melihat papa digi sedang berada di belakang rumah berbincang dengan tetangga. Karena kondisi digi yang benar-benar sudah critical down pada saat itu, digi tidak menyapa papa digi dan langsung menuju ke lantai 2. Sesampainya di lantai 2 digi langsung beristirahat. Pada saat inilah digi merasakan jantung digi berdebar begitu kerasnya sehingga digi benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tiba-tiba, papa digi menyahut-nyahut digi dari belakang. Digi pun tidak menggubris panggilan papa karena sudah tidak sanggup lagi. Parahnya, semakin tidak digubris, sahutan papa digi semakin kuat. Sehingga akhirnya digi hanya bisa menyahut kecil sambil keluar terduduk di tangga.
Mungkin pada saat ini papa digi merasa aneh kenapa tidak ada yang menyahut, sehingga memutuskan untuk mengintip apa yang terjadi kepada anak laki-lakinya. Pada saat papa melihat digi terduduk di tangga, papa langsung dengan segera menuju ke atas dan menanyakan dengan nada khawatir "Ada apa nak? Apa yang terjadi? Kamu tidak apa-apa kan?" Namun karena keadaan digi yang sudah tidak memungkinkan saat itu, digi tidak bisa melaukkan apa-apa, bahkan menyahut sekalipun. Hingga akhirnya digi meneteskan air mata, dan ini semakin mengejutkan papa, papa pun langsung memapah digi masuk ke kamar tidur dan membaringkan digi disana. Di kamar tidur pun digi masih belum bisa menyahut, hanya bisa terus menangis dan menangis (digi ngga tahu kenapa bisa menangis ya, yang pasti kondisi saat itu benar-benar udah ngga memungkinkan untuk bicara).

Papa digi masih dengan sangat khawatir menanyakan "Benar tidak apa-apa? Kecelakaan ya nak? Atau kenapa?" Hingga akhirnya digi berhasil meyakinkan papa, mengatakan dengan suara yang sangat pelan "Tidak apa-apa pa, air matanya keluar sendiri." -.-" agak aneh memang kedengarannya, tapi memang itulah kenyataannya. Well. akhirnya digi pun berhasil untuk menghentikan air mata yang keluar, haha. Dan beristirahat sejenak. Kemudian mama digi pun pulang dan menanyakan kondisi yang sejelas-jelasnya kepada digi.
Pada saat ini, air mata digi kembali mengalir sendiri, tanpa dikomando, seakan air mancur yang rusak tombol on-off nya.
Akhirnya dengan perkataan yang sama, digi berhasil meyakinkan mama bahwa digi tidak apa-apa, digi hanya merasakan denyut jantung digi yang berdetak dengan sangat cepat dan digi mengatakan ingin segera pergi ke dokter untuk mengecek apa yang terjadi.

-To be continued part 2-

Continue Reading!

Saturday, February 5, 2011

SELAMAT TAHUN BARU IMLEK!!


Selamat tahun baru imlek bagi teman-teman yang merayakan!

Maaf atas keterlambatan posting digi, karena satu dan kesibukan yang lain sehingga digi tidak bisa sering-sering mengupdate blog lagi. Malam ini karena digi merasa senggang dan sedang in untuk update blog, ya digi lakukan aja. Mengingat pada zaman dulu digi sangat senang menuang semua kegemaran digi kepada blog yang tercinta.

Semoga di tahun kelinci ini semua bisa berjalan dengan lancar, baik rohani maupun jasmani :)



Tiba-tiba saja digi teringat dengan masa-masa dimana digi sangat senang dengan yang namanya 'blogwalking', 'update blog', 'tukar link', atau apapun itu yang berhubungan dengan blog. Masih terngiang dengan jelas di ingatan digi, dimana digi bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menghias blog, yang kalau dipikir-pikir sekarang mungkin akan sangat membingungkan,"Darimana sih keluarnya waktu tersebut untuk melakukan hal-hal itu?"

Seiring dengan berjalannya waktu, bertambahnya usia, digi semakin menyadari kalau memang waktu berlalu dengan cepat. Tidak ada yang bisa menghentikan perubahan waktu, tidak ada juga yang bisa mengulang waktu yang telah terlewati. Demikian juga sebuah perenungan bahwa digi ternyata bukan lagi anak kecil seperti zaman dahulu, yang bisa menangis setiap saat, lalu pada detik berikutnya bisa tertawa. Digi juga bukan lagi anak SMP-SMA yang penuh dengan segala keacuhan dan segala ketidaktahuannya akan dunia ini, yang menganggap bahwa layar 17" inilah yang akan menemaninya melewati satu kehidupan ini.

Sedikit demi sedikit, karena anugerah Tuhan jugalah digi bisa menyadari bahwa ternyata manusia memang sebuah sosok yang sangat kecil di jagat raya ini, yang diciptakan Tuhan untuk mempermudah kehidupan manusia lain, bukan hanya berfoya-foya untuk diri sendiri. Barangkali sesosok harapan digi yang sejak kecil digi idam-idamkan, dimana manusia bisa hidup di dalam keharmonisan tanpa ada kekacauan, pernah pudar dalam angan-angan digi ketika menghadapi kacaunya kehidupan, pahitnya kehidupan, dan kerasnya kehidupan ini. Namun berkat bantuan teman-teman dan senyuman yang diberikan, tidak ada salahnya kalau digi sekarang kembali berangan-angan tentang indahnya sebuah dunia perdamaian. Meskipun sangat jauh dari kenyataan, digi tidak keberatan untuk menjadi bagian dari sejarah perwujudan dunia tersebut, yang akan digi lakukan dalam setiap tindakan kecil sehari-harinya. :)

Mungkin saja kata-kata yang digi tulis ini tidak akan mampu mengekspresikan semua isi hati digi sekarang ini, namun digi rasa sudah cukup untuk mewakili apa yang sedang digi rasakan sekarang ini.

Semoga semua dari kita selalu bersyukur atas berkat yang diterima dari Tuhan, apapun itu, betapapun sedikitnya, banyaknya itu, semoga kita selalu menerimanya dengan rasa syukur. Karena Tuhan tahu yang terbaik untuk manusia sendiri :)

Semoga di awal tahun baru kelinci ini, demikian juga di awal tahun 2011 menjadi awal yang baik bagi kita semua, untuk lebih mencintai diri sendiri, lebih mencintai masyarakat, lebih mencintai negara, lebih mencintai dunia ini.

Have a nice day :)

Continue Reading!

Wednesday, November 24, 2010

Long Time No See

Dear my blog Digikid, long time no see. Maafkan digi yang selama ini udah menelantarkanmu, tapi apa boleh buat, bahasa Hokkien nya, bo pien, memang kadang terbesit dalam benak digi untuk memposting, tapi ya itu lah, kembali lagi kepada kepribadian digi yang memang serba malas ini. Kalau lagi ngga ada mood, sepertinya agak susah untuk melakukan apapun kalau lagi in no-mood.. Haahhaha


Kali ini digi hanya sekedar mampir melepas kangen dengan bloggy ku yang udah setengah tahun kuterlantarkan (wah waktu yang cukup lama juga). Mungkin digi gak banyak bercerita, hanya cerita secukupnya saja tentang kehidupan, apa lagi yang bisa kuceritakan selain kehidupanku yang begitu memukau? :)


Dalam kurun waktu setengah tahun ini tentu saja sudah banyak yang berubah. Salah satunya adalah kegiatan kampus digi yang semakin lama semakin padat. Yaaa sebenarnya digi juga gak menginginkan jadwal kampus yang padat, karena emang bawaannya udah santai-santai di rumah sih. hahahah. Jadwalnya ya emang lumayan padat, di samping belajar alias menjadi mahasiswa yang baik, memasuki semester III ini digi juga sudah dimasukkan ke dalam kegiatan organisasi (yang sebenarnya digi akui digi tidak begitu berniat karena satu dan lain hal) ~_~ yaaa. begitulah.

Tapi disisi lain sebenarnya digi juga sudah mulai menyukai kegiatan mengampus, mungkin karena digi udah mulai menyukai teman-teman sekelas yang multi kutural itu, dan harus diakui memang kami sangat unik! Hahaha. Digi mulai merasa dekat ketika acara inagurasi pada bulan September yang lalu. Acara 3 hari 2 malam yang mengambil tempat di Parapat itu memang membuat digi n teman-teman digi yang berpartisipasi lebih kompak lagi. Dan digi bersyukur sekali bisa ikut acara itu. Hahaha. Begitulah kira-kira sekilas kehidupan kampus.

Nah.. Yang paling disyukurkan dan dibanggakan sekarang digi sedang menulis blog dengan menggunakan laptop  baru yang belum genap 1 bulan XD. Asik asik thanks buat semua orang  yang sudah bekerja sama untuk mendapatkan laptop ini :D

Oh iya, masih ada berita yang menggembirakan, ama (nenek) digi sekarang sudah tinggal di Medan looo. Yang awalnya tinggal di kota Pakam, 1 jam jauhnya dari Medan. Sekarang sudah tinggal di Medan dengan alasan perjalanan berobat yang lebih singkat waktunya. Jadi sekarang rumah digi lebih rame, kamar lebih sempit.. Yayaaaaaa... Dalam hal fisik mungkin tidak lebih  nyaman daripada yang dulu, malahan sekarang lebih sempit-sempitan tidurnya, tapi kalau dari segi psikis.... yayaaaaaaaa digi senang sih bisa bertemu dengan ama lebih rameeee :D

Jadi kabar teman-teman sekalian gimana dalam setengah tahun ini!~~~ Boleh ya berbagi di comment?? ^^

Continue Reading!

Thursday, March 4, 2010

Lama gak nulis Blog

Yo guys, udah lama tidak menulis blog nih digikid. Tentu saja karena alasan malas, banyak pr, sibuk, bla bla bla.

Tapi sebenarnya digi memang gak mood update blog nih, kenapa? Mungkin karena sepi nya blog ya, jadi malas aja mencurhatkan segenap jiwa dan ragaku (lebay) kepada si bloggy < begitu kata Samuel Natalius...

Sekarang ini... digi mau tulis apa yah?

Baru aja siep mi instan kuah, makan bersama dengan nasi putih dan juga sayur rantangan yang gak habis dimakan tadi siang, ya itulah makan siang digi jam 10 malam ini.
Sebenarnya sih digi udah malas makan sih. Tapi karena laparnya udah gak ketahan dan berhubung digi juga tak tau mau makan apa? Jadi ya digi masak aja :)


Oh ya, sedikit spoiler tentang nyokap. Nyokap baru-baru ini tanggal 3 Maret baru aja pulang dari Malaysia, setelah pasca-operasi kemaren, check-up lagi ke negeri Malaysia, dan ternyata hasilnya adalah...!!!

Hore!!~~ Tulang di kaki nyokap udah bisa merekat kembali!
Ini adalah kabar paling bahagia semenjak kabar keberhasilan dari operasi kemarin.
Setelah proses operasi kemarin berhasil, ternyata kami semua belum bisa mendapatkan kepastian bahwa kaki mama bisa sembuh. Hal ini dikarenakan faktor usia yang menyebabkan tulang mama tidak bisa merekat secara sempurna (waktu itu dokter mengatakan persentase bisa mereka kembali hanya 50%). Kalau dalam waktu 1 tahun kedua tulang tidak bisa merekat secara alami, maka terpaksa harus memasukkan sejenis bola buatan (gak tau gimana ngomongnya) yang menghubungkan tulang paha dengan tulang betis mama, yang paling lama hanya bisa bertahan selama 10 tahun.

Dan konsekuensinya? Tentu saja, karena itu adalah sejenis barang buatan, maka mama tidak akan bisa menggunakan kakinya seperti sedia kala. Misalnya, mama tidak akan bisa jongkok, cara jalan juga akan kelihatan sedikit berbeda, dsb.

Nah, tapi setelah mendengarkan kabar terakhir yang menyatakan kedua tulang mama sudah berhasil merekat sempurna. Rasa kebahagiann yang amat sangat timbul di hati digi. Tentu saja juga bercampur dengan rasa syukur kepada Yang Maha Esa karena sudah menjawab semua doa dari digi, keluarga, dan juga teman-teman semua (Really thanks untuk teman yang sudah mendoakan mama cepat sembuh) :D.

Tapi berita tersebut bukan berarti mama sudah bisa berjalan secara normal, sudah bisa melompat-lompat seperti dahulu. Tidak! Mama tetap harus menjalani terapi untuk melatih otot kaki mama yang sudah beberapa bulan tidak bisa dipakai itu? Tentu saja proses ini akan cukup lama dan menyakitkan bagi mama, tapi tidak apa-apa. Kita pasti akan selalu mendampingi mama.

Sukses buat mama!

Sekian spoilernya, nah kita masuk ke topik lain.
Oh ya, ada user KGS yang complain kalau-kalau blog digi jarang sekali diupdate. terutama yang berbahasa Mandarin. Of course! @_@ Susah banget tau mikirin kata-katanya semua, mengetik sebuah posting aja bisa memakan waktu hampir setengah jam.
Sebenarnya digi sendiri sih lebih suka yang Bahasa Indonesia, ya.. lebih gampang aja sih ^^

Dosen impor dari China sudah datang, seorang dosen baru, bermarga Yu, yang menurut digi sangat muda, malah tidak menyangka umurnya sudah 28, sama dengan Zhu, yang menurut digi juga, kelihatan jauuuuuuuuuh lebih tua daripada umur aslinya.
Berbeda jauh dengan Yu, seorang dengan perawakan tinggi, putih lagi! Wah, bener-bener putih! -.-
Cara pengajarannya? Menurut digi sih, ok-ok saja. Hanya saja, Yu lebih sering memakai bahasa Mandarin daripada bahasa Inggris, yang tentu saja memicu ketidakmengertian teman-teman sekelas yang baru saja belajar Mandarin. Tentu saja dia memakai bahasa Mandarin yang standar (standar disini ukuran digi), dan hasilnya, digi lah yang bertambah pintar karena harus menerjemahkan apa yang dikatakan gurunya kepada teman-teman :)

Sekian tentang kampus-kampusan. Sekarang beralih kepada pekerjaan.
Digi baru-baru ini ingin berhenti dari pekerjaan mengajar sebenarnya, karena muridnya... gimana gitu. Malas banget, dan terutama, digi sendiri juga malas mengajar murid seperti itu :( Tapi barusan ada permintaan dari orang tua, katanya sih ajarin aja, soalnya kalau ngga les, dia juga gak tau mau ngapain, kerjanya maiinnn aja.
Yaudah digi dengan berat hati mengiyakan :( Tapi jadwalnya digi minta ganti jadi malam, agar lebih semangat belajar (biasa kalau pagi-pagi ngantuk sih dianya) :)

Sip sip! Doain agar berhasil aja :)

Done with the work, now with.. apalagi yah?

Itu aja deh untuk hari ini, digi rasa cukup untuk mengakhiri perjumpaan kita kali ini ;)
Oh iya, karena ini juga adalah awal bulan, selamat menikmati bulan Maret ini, jangan lupa untuk mengisi hari kita dengan penuh syukur :) karena dunia ini bisa menjadi lebih indah bila diisi dengan sebuah senyum yg tulus dari hati ;)

Salam sukses dan sejahtera untuk kita semua! :D

Continue Reading!

Sunday, February 14, 2010

Selamat Tahun Baru Imlek dan Valentine


















Selamat Tahun Baru Imlek buat kita semua yang merayakan!

Bagi yang tidak merayakan, digi juga mendoakan semoga kita semua bisa merayakan hari kasih sayang sedunia, Valentine dengan bahagia! ^^

Sungguh benar-benar sebuah fenomena yang jarang terjadi lho, hari raya Imlek berkenaan dengan hari raya Valentine. Ok deh! Semua kita semua bisa menghargai kesempatan yang sangat susah didapat ini, dapat angpao + dapat coklat! ^^

Continue Reading!

Wednesday, February 3, 2010

Post kedua di tahun 2010 ^^

Halo teman-teman sekalian. Apa kabarnya? Mudah-mudahan kita semua sehat-sehat saja yah.
Wahhh.... Waktu memang berlalu dengan cepat sekali, tidak terasa 1 bulan sudah berlalu sejak kita merayakan tahun baru, sekarang, malah kesibukan baru menantikan saya pada tanggal 14 Februari nanti, tepatnya tahun baru Imlek, bertepatan dengan hari Valentine ^^


Yahh.. Semenjak tahun baru saya belum sempat mengupdate satu post pun, tidak seperti teman saya, hendrydext yang masih sempat-sempatnya mengupdate blog :) Saya benar-benar salut dengan teman saya yang satu itu, padahal awalnya saya yang mengajak beliau untuk membuat blog, sekarang malah saya yang ketinggalan, si Hendry yang terus maju dalam dunia blogging :) Salam sukses untuk bung Hendry kalau sempat membaca post saya :)

Akhir-akhir ini saya memang disibukkan dengan berbagai kegiatan, mulai dari kegiatan vihara, kegiatan chatting, kegiatan facebook, kegiatan kampus, dan sebagainya, maksud saya..... Yahh.. Pokoknya saya tidak mempunyai waktu (baca: mood) update blog.
Setelah menelantarkan blog cukup lama, saya menyadari bahwa makin bertambah aja followers saya... Salam kenal untuk semua followers saya yang baru bergabung, meskipun saya tidak tahu mereka 'nyasar' darimana dan kenapa bisa tertarik untuk bergabung dengan blog saya yang... sepertinya membosankan ini. Hahaha. Tapi apapun itu, mari kita ucapkan selamat datang kepada followers-followers baru :) Semoga Anda-anda semua bisa betah lama-lama di blog digikid ini :)

Blog dalam Bahasa China saya juga sudah lama tidak diupdate, blog lokal aja gak diupdate, boro-boro blog internasional >_< href="http://gudangraye.blogspot.com/">Ardiko, selamat bergabung juga di dunia blogging, dan untuk tante Calvina (oops.. maaf blom ada linknya), selamat bergabung di dunia blogging meskipun itu atas permintaan dari dosen di kampus, ha..ha..ha..

Apa lagi yaa?? Oh ya.. Kabar mama yang jatuh dari tangga kemarin sudah agak baikan, terima kasih untuk semua teman-teman yang ikut berpartisipasi dalam bentuk doa, semangat, dll. Itu semua sangat membantu :)
At least sekarang mama sudah bisa main game di komputer seperti sediakala, haha, meskipun tangan kanan beliau yang kemarin sempat patah masih belum sembuh total, tapi sudah baikan :)
Hanya saja kaki kanan yang retak harus dijaga dengan baik, karena lukanya adalah luka dalam, kita juga tidak tau bagaimana kondisi pemulihan pada kakinya, sampai nanti mama akan ke pulau Penang lagi beberapa hari setelah Imlek, mudah-mudahan saja hasil pemeriksaannya bagus, yuk, kita doakan sekali lagi ^^

Oh iya, berhubung tahun baru Imlek sudah dekat, bagi teman-teman yang merayakan, jangan lupa untuk siap mental keluar duit buanyak (khusus orang tua), dan bagi anak-anak siap mental untuk terima angpao yang mungkin jumlahnya berkurang dari tahun lalu ^^, maklum saja ya teman-teman, soalnya dunia orang dewasa sekarang ini makin susahhh saja, oleh karena itu, jumlah angpao kita sebagai remaja dan anak-anak harus dikurangi dong :)

Jangan lupa juga untuk membeli baju baru, sepatu baru, tas baru, kotak pensil baru, dan serba-serbi yang baru.. Eeettss... tetapi ingat dulu, jangan terlalu dipaksakan, sesuaikan saja dengan kemampuan dan kebutuhan saja yah. Harus ingat karena keadaan ekonomi di seluruh dunia juga menurun, kita harus maklum apa adanya dengan kondisi orang tua saat ini, jangan menuntut terlalu banyak. Asalkan bisa dapat angpao aja sudah bagus ^^___^^

Oh ya, teman-teman, digi juga turut menyampaikan rasa dukacita kepada saudara-saudara kita yang di Haiti yang terkena gempa kemarin, dan juga di tempat-tempat lainnya.
Harus disadari dan diakui, yang namanya bencana akhir-akhir ini memang sering nempel pada bumi manusia, entah itu karena kerusakan lingkungan, atau karena kerusakan moral, atau memang karena waktunya sudah datang, itu kita tidak tahu, dan tidak perlu tahu, saya kira. Asalkan kita semua dengan tulus bertobat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesalahan yang kita perbuat, bersungguh-sungguh berjanji untuk menjadi orang yang baru, bersama-sama menciptakan sebuah bumi baru yang penuh dengan cinta kasih dan kedamaian, saya kira, bencana itu pasti akan menyingkir dengan sendirinya :)

Oke deh teman-teman. That's all for today, sekarang digi mau beribadah dulu... Digi doakan kita semua bisa selalu sehat walafiat jasmani dan rohani, selalu bisa sukses dalam segala bidang :)
Ingat, hargai waktu, waktu yang berlalu tidak akan bisa kembali lagi, hanya menyisakan kenangan di dalam hati kita

Thanks for reading ^^

Continue Reading!

Wednesday, December 16, 2009

Kami besertamu, Mama!

Semalam, tepatnya tanggal 15 Desember 2009, pada jam 11.00, kami sekeluarga sedang enak-enaknya mendengarkan suara merdu oleh lagu yang dilantunkan mama.

Tak lama setelah itu saya pun masuk ke dalam kamar, untuk mengecek apakah ada pesan baru dari teman saya. Ketika saya sedang serius memperhatikan komputer, tiba-tiba dari arah dapur terdengar suara benda terhampar dengan sangat keras...

BUUUKKKKKKKK!!!!!!

Tentu saja, bagi orang normal yang mendengarkan suara tersebut pasti langsung bisa mengetahui, bahwa suara itu adalah suara orang yang terjatuh. Setelah mendengar suara tersebut, tanpa dikomando lagi saya pun langsung menuju ke ruang dapur untuk melihat apa yang terjadi disana. Dan alangkah terkejutnya saya ketika melihat mama saya sedang terbaring di atas lantai, tidak mengerang, tidak menjerit kesakitan, hanya terdapat suara dari adik perempuan saya, "Ma! Mama tidak apa-apa kan? Mama tidak apa-apa kan?"

Langsung kami pun membantu mama untuk berdiri. Tetapi.....



Tidak bisa! Mama tidak bisa berdiri! Mama hanya berusaha menopang tubuhnya untuk dapat tetap duduk di atas lantai, ketika sedang membantu mama, tanpa sengaja saya memperhatikan tangan kanan mama yang sedang menopang tubuhnya. Tangan kanan mama bergetar! Saya mempunyai sebuah perasaan tidak enak terhadap hal ini. Lalu mama mengatakan sudah tidak tahan lagi dan ingin duduk bersandar, mendengar hal ini saya pun bergegas masuk ke kamar untuk mengambil semua bantal yang ada di dalam kamar. Karena pada waktu tersebut, mama sama sekali tidak bisa bergerak, tidak bisa dibantu berdiri, tidak bisa dipapah, tangan kanan tidak boleh disentuh atau akan terasa sakit, kaki kanan juga sangat sakit jiga digerakkan.

Lalu bantal-bantal yang ada langsung disusun sedemikian rupa agar mama merasa nyaman dan mempunyai tempat sandaran sehingga dapat mengurangi beban. Adik perempuan saya melihat kondisi mama yang parah ini pun langsung menangis tersedu-sedu. Tentu saja, orang tua mana yang tidak sedih melihat anaknya menangis? Mama pun menyuruh adik perempuan saya untuk berhenti menangis dan mengatakan, "Tidak apa-apa kok!"

Selang beberapa menit kemudian, mama menyuruh saya untuk menyuruh salah seorang tukang urut untuk menyambungkan tulang mama. Karena mama sudah mempunyai perasaan bahwa tulang mama sudah tergeser dari tempatnya, dan si adik juga memperhatikan rupanya siku mama sudah lebih turun dari biasa. Tu wa ga, saya pun bergegas menghidupkan mobil dan bersiap-siap untuk mengemudi mencari si tukang urut. Setelah sampai di dalam mobil....

Setelah sampai di dalam mobil, mama menyuruh saya untuk tidak usah mencari lagi, karena mama kebetulan mempunyai seorang kenalan yang berhasil diurut sembuh oleh tukang urut yang lain. Kami pun langsung menelepon kenalan tersebut.

Orang tersebut akhirnya menelepon kepada si tukang urut, dan memberitahukan kepada kami, bahwa, sebelum giliran kami masih ada 2 lagi tempat yang harus diurut! Mama pada saat itu pun meminta tolong kepada si tukang urut untuk datang ke rumah kami terlebih dahulu, karena kalau kondisi mama dibiarkan lama, nanti akan semakin sakit.

Akhirnya si tukang urut pun menyetujui untuk mendatangi tempat kami terlebih dahulu. Sembari menunggu, ternyata tangan kanan mama yang patah itu tidak bisa diajak kompromi lagi. Sakit sekali. Terpaksa harus diangkat lebih tinggi ke atas (kalau dibiarkan menjuntai bisa sangat sakit) secara giliran oleh saya dan adik. Pada saat itu karena keadaan yang sangat mendesak tidak terpikirkan oleh kami kalau tangan mama pada saat itu lebih baik ditahan oleh selimut atau sejenis kain dan diikatkan ke lehernya..

Kaki mama juga mulai merasa sakit, karena posisi duduk yang tidak nyaman, bagian pinggul mama sudah mulai merasa kebas, dan kaki kanan sudah mulai terasa kram sedikit. Pada saat itu, kami masih menyuruh mama untuk tetap bersabar menunggu tukang urut yang datangnya 1 jam kemudian...

Setelah si tukang urut datang, memegang kaki mama dan mengurut sebentar, akhirnya berpindah ke tangan kanan mama. Tak lama setelah meneliti keadaan tangan mama, tukang urut akhirnya menyerah dan mengatakan, "Tidak bisa, tangan mama sudah patah, lebih baik dibawa ke rumah sakit untuk di rontgen dan dioperasi."

Mama mendengar hal itu terdiam sejenak, kemudian mengatakan, "Apakah tidak bisa disambung dulu ya kakinya? Soalnya kalau kakinya bisa disambung / dibenerin, mau kemana-mana juga gampang, dengan kondisi seperti ini digerakkan aja sakit, bagaimana mau ke RS?"

Akhirnya setelah tidak dapat menemukan solusi yang tepat, mama pun pada saat tersebut juga memutuskan untuk pergi ke Malaysia untuk menjalankan operasi terhadap tangan dan kaki kanan mama.

Setelah itu pun mama meminta tolong kepada tukang urut nya untuk memindahkan mama ke kursi agar bisa duduk dengan lebih baik dan bisa menuju ke kamar. Setelah menuju ke kamar, mama mulai dihadapkan dengan banyak masalah, terutama masalah buang air kecil, karena dengan kondisis mama yang saat ini sudah bisa dipastikan mama tidak akan bisa menuju ke kamar kecil, sampai masalah kepada besok bagaimana akan dinaikkan ke dalam mobil, dinaikkan ke dalam pesawat, dan sebagainya...

Siang itu pun berlalu dengan cepat, masih ada orang vihara yang datang menjenguk mama tak lama setelah kejadian, karena memang sebelum kejadian mama sudah berjanji dengan orang vihara untuk keluar mencari umatumat vihara.
ketika malam tiba, mulai datang sanak saudara mama untuk menjenguk mama yang sakit, menginterview bak karyawan yang masuk ke dalam perusahaan serba bisa, pertanyaannya bervariasi mulai dari a-z, dari atas sampai bawah, kiri sampai kanan, dan sebagainya. Tentu saja melihat banyak sekali sanak saudara, teman-teman yang menjenguk mama, hati saya senang sekali.

Tapi kondisi mama pun kian memburuk, dan luka mama semakin sakit saja rasanya. Ketika tiba semua orang sudah pulang, tepatnya jam 11 malam, itulah awal dimulainya penderitaan mama.

Mama tidak bisa tidur sama sekali karena rasa sakit yang melanda kakinya itu, semalaman saya dan si adik tidak tidur karena membantu mama untuk mencari posisi yang cocok untuk kakai mama, karena kaki kanan mama itu tidak bisa digerakkan, dan sebentar-sebentar rasanya kejang, sebentar-sebentar kram, dan sebagainya.

Pada saat saya memegang betis mama, terasa urat-urat di dalamnya mengejang semua, adik juga mengatakan hal yang sama. Dalam hati saya berpikir," Astaga, bagaimana mama bisa menghadapi penderitaan yang besar seperti ini? Tuhan tolong berikan mama kekuatan."

Dan hampir sepanjang malam itu, dari dalam hati kami dan mulut kami tak henti-hentinya terus melantunkan doa kepada Yang Maha Kuasa agar mama diberikan ketabahan untuk menjalani penderitaan ini sampai besok pagi.

Ternyata puncak dari penderitaan mama adalah pada saat jam 3 malam, dimana mama sudah mengonsumsi obat penahan rasa sakit, dan ternyata obat tersebut banyak membantu.

Tapi kemudian tak lama setelah itu, kaki mama mulai kejang-kejang lagi, saya dan sang adik pun otomatis langsung sibuk membantu mama untuk mendapatkan posisi kaki yang paling nyaman untuk mama.
Malam itu dirasakan benar-benar adalah malam yang paling panjang dan malam yang paling menderita dalam hidup. Hampir sepanjang malam mama mengerang kesakitan, dan pada akhirnya bisa tertidur dengan pulas, tak lama kemudian terbangun karena kaki yang kembali mengejang, hampir setiap jam mama lewati dengan cara begitu. Sungguh tragis hidup ini!

Pada akhirnya, habis gelap, terbitlah terang, akhirnya bumi Indonesia pun mulai menyambut kami dengan matahari terbit, tidak tahu kenapa dan bagaimana, kondisi mama juga pelan-pelan membaik, mama hanya duduk diam, entah karena mama menahan sakitnya agar tidak membuat kami khawatir, atau memang mama sudah tidak merasakan sakit lagi, tidak ada yang tahu, hanya mama sendiri yang tahu.

Sampai akhirnya saat yang paling ditakutkan itu tiba, berangkat ke bandara menuju negeri jiran, Malaysia. Bagaimana harus diturunkan dari lantai dua ke lantai satu? Bagaimana mama akan dimasukkan ke dalam sebuah mobil kijang beserta tempat duduknya? Bagaimana mama akan mengganti tempat duduk dari kursi di rumah dengan kursi roda di bandar udara?

Tetapi tidak tahu bagaimana, rasanya semua proses itu berlalu dengan cepat, mama dengan mudah dapat diturunkan kebawah dengan bantuan si tukang urut yang membenarkan urat-urat syaraf mama, mama dapat dengan mudah dinaikkan ke dalam mobil, dan hampir tidak ada masalah ketika mengganti kursi rumah dengan kursi roda yang ada di bandara.

Namun penderitaan mama masih baru dimulai, mama masih harus menjalani berbagai proses yang sangat menyakitkan di negeri tetangga tersebut. Mama masih harus menjalani operasi yang sangat menyakitkan di seberang sana.

Tapi tentu saja mama, kami anak-anak mama akan selalu menyertai mama dengan doa dan harapan yang tulus sebagai seorang anak.

Continue Reading!

Saturday, September 19, 2009

Selamat Hari Raya Idul Fitri



Blog Digikid mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430H..
Minal Aidin Wal Faidzin.
Mohon maaf lahir dan batin ya kalau digi pernah melakukan kesalahan apa-apa dalam tahun ini ^^


Continue Reading!

Friday, August 21, 2009

Selamat Berpuasa


Selamat Berpuasa bagi para umat Muslim yang menjalankannya ^^

Digi doain puasa kali ini teman-temen semua bisa lancar-lancar aja tanpa hambatan

Continue Reading!

Monday, August 3, 2009

The 8-day Trip To Malaysia



Twin Tower, Kuala Lumpur

Hi para penggemar berat Digikid!!

Setelah lama sekaliiiiiiiii digi ngga update blog
(tentu saja dengan alasan utama yang dibuat-buat:sibuk)
sekarang digi balik lagi mau update blog ^^

Kali ini digi mau sharing tentang perjalanan digi selama 8 hari menuju ke Malaysia-
Singapore-Malaysia. Untung saja kali ini adiknya digi sudah membeli sebuah telepon genggam dengan kamera yang lumayan, sehingga digi dapat mengambil foto-foto yang cukup unik sebelum digi memutuskan untuk membeli sebuah kamera digital di Singapore ^^
Yuk kita ikuti aja perjalanan digi!





Digi berangkat dari Medan tanggal 24 Juli 2009, jam 5.30.
Digi sampai di bandara udara internasional Polonia sekitar jam 4.00 (anggota yang lain sudah check in duluan, berhubung digi ada sedikit masalah dengan universitas yang harus diurus, jadi agak telat).
Nah, berhubung digi baru pertama kali keluar, digi juga bingung nih..
Rupanya ya perjalanan keluar negeri itu beda ama perjalanan bolak-balik Medan-Jakarta yang digi tempuh tiap tahun.

Perjalanan keluar negeri itu ribet banget, mulai dari pembayaran pajak (pake NPWP), mengisi secarik kertas kecil untuk meninggalkan Indonesia-dan mengunjungi Malaysia. Mencap paspor, dsb.
Dan juga ada peraturan-peraturan baru yang digi belum pernah lihat, misalnya, ketika mencap paspor, tidak dibenarkan untuk berdiri didepan garis kuning, tidak diperbolehkan membawa minuman kedalam ruang tunggu, dsb.

Setelah lama menanti, digi pun akhirnya berhasil masuk ke dalam ruang tunggu, dan dalam sekejap saja, kami sudah
berada di dalam pesawat ^^
Setelah menempuh perjalanan 45 menit dari Medan ke kota Penang, akhirnya kami sampai juga di Malaysia (tentu saja harus dicap visanya karena kita berkunjung ke negara tetangga) ^^

Sesampainya di Malaysia, digi langsung diberitahu bahwa paspor itu adalah nyawa kita ketika berada di luar negeri. Wah! Bahaya dong kalau paspornya hilang >_<

Makanya, bagi kita yang mau keluar negeri, diharapkan untuk menjaga paspornya yah ^^

Sesampainya di bandara, papa langsung membawa digi untuk membeli kartu GSM, yang paling terkenal di Malaysia kayaknya ya? Mereknya DIGI (wah sama, sumpah, digi bener-bener salut banget, namanya sama ^^)
Eng eng!! Sehabis itu, kita cuma duduk-duduk menunggu jemputan (sebelumnya papa-mama sudah sering tinggal di flat di Penang, jadi udah kenal sama pemiliknya) dari flat yang akan kita tinggali ^^

Setelah tidak lama menunggu, digi dan keluarga akhirnya dijemput juga ke flat, setelah itu tidak ada yang spesial, kita langsung tumbang di kamar masing-masing ^^

The next day masih di kota Penang, kita langsung berangkat menuju restoran vegetarian Evergreen yang terletak tidak jauh dari flat ^^
Disana terdapat banyak sekali makanan, dan juga tentu saja, orang yang menjaga restoran tersebut lucu sekali XD

>Setelah dari Evergreen, kita langsung menuju ke Mall tertinggi juga pusat halte bus di Pulau Penang, Komtar, disana, digi dan keluarga beserta kawankawan berjalan-jalan, mama dan adik digi kecantol di toko Vincci (biasa dhe, wanita ^^) dan membeli 2 pasang sepatu (kalau tidak salah).

Setelah puas berbelanja, kita pun langsung menuju ke counter penjualan tiket bus menuju Singapore dekat Komtar, Newsia, disana kita pun menanyakan tiket menuju Singapore, setelah bertanya-tanya, kita pun segera menuju ke Kek Lok Si Temple dengan bus umum.




Stasiun bus di Komtar, digi jadi
keingat waktu kecil digi pernah antri bus disini juga




Nah.. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam, akhirnya kita sampai juga di Kek Lok Si Temple yang terkenal dengan Patung Buddha Kuan Im (Avalokitesvhara) setinggi XXX meter (digi tidak ukur, mungkin sekitar 10 lantai bangunan).



Nah, kita pun turun di pinggir jalan, dan kita pun melihat sebuah pemandangan sebuah Patung Buddha Kwan Im bersegi-delapan yang tengah dibangun terletak di atas bukit yang tinggi.
Dan digi secara spontan bertanya "Hah? Kita mau manjat sampai ke vihara di atas????"

Dan ternyata itulah yang kita lakukan, dari bawah berjalan sampai ke atas bukit, untung saja, terdapat pasar-pasar tradisional, sehingga sambil berjalan, kita dapat sekalian mencuci mata melihat cenderamata yang unik-unik khas Pulau Penang dan Malaysia.


Wahhhhhhh!! Akhirnya setelah menempuh perjalanan panjang dari bawah ke atas, kita sampai juga ke Kek Lok Si Temple. Berikut gambar-gambar yang berhasil digi ambil ^^
























Keberuntungan, Keberanian ketika Menemui Kesetiaan..










Restoran Vegetarian di Temple Kek Lok Si






"Jalan Kesadaran", pintu menuju ke Kek Lok Si Temple















The Great Octagonal Statue of Kwan Im, wow.. ini bener-bener tinggi ^^













Setelah puas menempuh semua sudut daripada Kek Lok Si Temple, kita sekarang pulang, kembali menyusuri tangga diwarnai dengan pasar-pasar tradisional. Nah.... Digi belajar hal-hal yang baru dari pasar tradisional di Temple, nah... rupanya, hati-hati nih sahabat kalau membeli barang, disini, barang yang tadinya 15RM ternyata bisa ditawar menjadi 3 RM! Jadi hati-hati saja di dalam membeli barang, oh iya, digi lupa, bahasa yang digunakan di dalam pasar tradisional maupun di dalam kehidupan keseharian di Pulau Penang adalah bahasa Hokkien, Mandarin, dan English. Nah.. Soo.... Pinter-pinter aja nih dalam menawar harga, oh iya ^^
masih ada lagi, para penjual di pasar tradisional ini sangat galak lho, digi pernah disuruh buka harga, dan waktu digi buka harga, apa jawabnya "Ya, saya kasih dengan 5RM, tapi besok datang lagi ya!"

Ada pengalaman menarik nih ketika kita pulang naik bus.. Nah.. Setelah nunggu selama kurang lebih 20 menit, ternyata kita dapat bus, dan sudah naik bus... Ehhh!! Kelewatan Komtarnya! Terpaksa dhe kita berhenti di stasiun Jetty, dan setelah nanya-nanya, akhirnya kita bisa pulang, setelah gonta-ganti bus beberapa kali, akhirnya digi dkk berhasil sampai di flat dengan selamat sigh...

Sampai disini dulu yah ^^ Besok digi lanjutin lagi tentang pengalaman digi ke pasar malam di samping Plaza Gurney yang menjual lebih dari 100 lebih makanan.

Continue Reading!

Sunday, May 24, 2009

Kerjaan digi akhir-akhir ini....

Hi all!!~~ Sedikit sharing aja... Akhir-akhir ini, rasanya digi terus-menerus berkecimpung di 'perusahaan surgawi'... Maksudnya... Ya... digi terus-terusan melakukan segala hal yang berhubungan dengan vihara, misalnya, rajin-rajin ke vihara, ngebahas soal dharma, bahkan digi sekarang lagi demen-demennya ngopi-in CD paritta dan dibagikan ke orang lain (kayaknya ngga ada kerjaan ya? ~_~)

CD yang pertama kali digi copy itu 'Sutra Hati' sama 'Prajnaparamita' beserta text nya ^^, ngga salah sih udah copy sekitar 100 CD... Ini juga masih ngopi-in untuk orang-orang di vihara, pasalnya bulan 6 nanti ada acara gede, jadi ya siap2in aja CD nya banyak2 ^^

Target selanjutnya sih digi mau buat CD nya 'Kitab Seratus Bakti', sekarang baru kelar buat covernya, mau buat belakangnya lage... Rencananya kali ini digi mau buat arti dari 'Kitab Seratus Bakti', jadi kali ini ada artinya gitu, kalau yang sebelumnya kan cuma cara baca doang ^^

Doain digi sukses yhaa!!~~~

Continue Reading!

Tuesday, May 12, 2009

Hari Ibu yang Paling Berkesan...

Halo semua, perkenalkan, saya seorang pemuda yang masih berumur 17 tahun.
Saya juga melakukan kegiatan seperti halnya remaja-remaja yang masih tumbuh dan berkembang, bermain game online, nongkrong di kafe-kafe, mall-mall.
Kali ini saya ingin bercerita sedikit tentang hari Ibu yang baru saja lewat kemarin, mungkin bisa dibilang, ini merupakan hari ibu yang paling berkesan bagi saya.


Tanpa ada persiapan apa-apa? Bagaimana nih!!!

Hari ibu kali ini benar-benar sangat tidak terduga. Saya yang pada hari itu seharian sibuk sekali dengan berbagai aktifitas, sampai-sampai saya hampir melupakan hari yang sangat spesial bagi semua ibu di dunia, hari ibu.

Minggu pagi, saya bangun lebih cepat daripada biasanya, karena pada hari Minggu tersebut saya mempunyai acara, berkisar antara pukul 10.00 sampai dengan 15.00.
Dan saya pun mulai mempersiapkan segala sesuatunya, karena kebetulan saya ditunjuk sebagai orang yang mengatur segala kegiatan dalam acara tersebut.

Saya pun sampai pada tempat dimana acara dilakasanakan, satu demi satu kegiatan sudah selesai, dan sampailah kepada akhir kegiatan, dan disinilah tiba-tiba saya teringat kepada ibu saya yang saat ini sedang berada di tempat lain.

Dalam seketika, saya teringat kata-kata dari teman saya, "Eh, nanti loe ngasi apa buat nyokap waktu Mother's Day nanti?"
Teringat ibu saya yang sedang menghadiri suatu acara di tempat yang cukup jauh, tetapi beliau sudah menjanjikan akan pulang jam 18.00. Waktu tinggal sedikit!
Dan saya menjadi gusar seketika! Setengah hari sudah berlalu, tetapi saya masih belum mempersiapkan kejutan apa-apa untuk mama saya yang tercinta.

Langsung saja pada saat itu saya menghubungi adik saya, yang memang pada saat itu lagi senggang, lalu hanya dalam beberapa saat, saya bersama dengan adik saya pun sudah berhasil menyusun acara-acara untuk ibu tercinta, tanpa diketahui beliau tentunya.

Tidak!! Waktu tinggal sedikit!

Jam sudah menunjukkan pukul 15.00, acara yang diselenggarakan pada hari tersebut semuanya berlangsung dengan lancar, namun yang di luar dugaan saya adalah segala kekotoran yang ditimbulkan oleh tamu-tamu. Dan saya pun harus membersihkan semuanya, tentunya dengan bantuan dari teman-teman saya.

Kendatipun dengan bantuan teman-teman seperjuangan, sewaktu pukul 16.00 kami masih belum bisa membersihkan seluruh isi ruangan, sedangkan saya masih belum membeli semua perlengkapan yang diperlukan untuk membuat kejutan malam nanti.

Apa boleh buat, tugas tetap tugas, harus dilaksanakan dengan baik, lebih baik saya lakukan, daripada terus mengeluh, tidak ada yang pernah didapatkan dari keluhan-keluhan.

Dan pada akhirnya, kami berhasil membersihkan semuanya, namun jam sudah menunjukkan pukul 17.00, dan hujan turun dengan derasnya di luar.

Gawat! Bagimanapun tidak akan bisa sempat untuk membeli segala persiapan untuk kejutan, mama akan pulang dalam 1 jam! Bagaimana mempersiapkan barang-barang yang sebegitu banyaknya? Diluar hujan pula!

Ah! Daripada banyak mikir, lebih baik saya berunding saja dengan adik saya, saya pun bergegas untuk pulang ke rumah, dan di luar dugaan saya, ternyata sepupu-sepupu saya berkumpul di rumah. Mereka yang kebingungan bagaimana ingin merayakan Hari Ibu menghubungi adik saya. Mengetahui saya yang sudah pulang ke rumah pun adik saya memberitahukan kabar ini kepada saya, dan kami semua pun menyusun ulang rencana untuk 'surprise' pada malam nanti, kebetulan ibu mereka juga sedang menghadiri acara yang sama dengan acara yang ibu saya hadiri.

Dan sebuah keajaiban pun terjadi...

Setelah cukup lama berunding dengan para sepupu yang bijaksana, kami semua berhasil mengambil kesimpulan, untuk merayakan hari ibu di sebuah restoran yang cukup terkenal dan terjangkau tentunya.

Tiba-tiba salah satu sepupu saya mencetuskan sebuah ide yang sangat brilian.
"Gimana kalau kita membeli kue tar?"
"Beli kue sih oke oke aja, tapi dimana beli nya? Yang enak? Kocek sih anak ABG-an, emang ada tempat yang pas?"
"Ada! Toko XXXX"
"Masalahnya hujan sekarang ci, mau nyetir kemana-mana juga takut (berhubung mobil saya mobil dengan bahan bakar premium)"
"Gampang! Cari aja tempat yang gak banjir!"
"Ngomong sih gampang ci, coba deh tunjukkin jalannya!"

Setelah terlibat pembicaraan yang cukup panjang, kami pun bergegas untuk membeli kue tar di sebuah toko roti. Sebelum berangkat, kami sempat melirik jam, pukul 17.45!
Ya Tuhan! Bagaimana mungkin masih bisa sempat?
"Gimana nih? Coba deh lu telpon mama udah sampai mana?"

Dan adik saya pun langsung menelepon ibu saya.

Ketika sedang berbicara dengan mama, adik saya menunjukkan ekspresi senang dan menunjukkan angka 2 menggunakan jarinya, seolah ingin mengatakan "Yes! Acara kali ini pasti akan sukses!"

Lalu pembicaraan pun ditutup dengan, "Ingat ya Ma, jangan makan dulu, di rumah banyak sayur nih, takut ngga abis!"

Setelah menutup telepon, saya pun menanyakan kepada adik saya apa yang terjadi.
"Kata Mama disana hujan, jadi mungkin agak lama baru bisa sampai rumah."
Ah! Benar-benar suatu keajaiban yang besar saya rasakan dalam hidup saya, entah sudah berapa lama tidak pernah saya rasakan perasaan senang yang mendalam seperti ini.

Mendengar kata-kata adik saya, saya pun langsung bergegas berangkat untuk membeli kue bersama dengan sepupu-sepupu saya. Dan perjalanan tidak semulus yang kami kira...

Semuanya tidak semudah yang kami bayangkan...

Jam sudah menunjukkan pukul 18.00 ketika kami mulai keluar dari rumah dan menuju toko roti tersebut, namun, perjalanan tidak semudah yang kami pikirkan. Hujan sedang turun dengan lebatnya, dan inilah yang menjadi sumber masalah utama kami, banjir.

Banjir sudah mulai menggenangi jalanan kota yang tidak seberapa ini, dan tentu saja, kami takut! Pasalnya mobil saya adalah mobil berbahan bakar bensin, yang tidak tahan air, sedikit saja kena air.... Dan selesailah rencana kami.
Maka saya, adik saya beserta sepupu-sepupu saya pun segera memikirkan rute-rute jalan yang tidak terkena banjir, dan alhasil, kami sampai di toko roti tersebut dengan selamat.

Tidak lama kami berada di toko roti tersebut, kami segera memilih roti yang paling khas, dengan bentuk hati, dan menuliskan nama 2 orang mama tersayang saya, dan sepupu saya. Setelah proses pemilihan kue tar selesai, kami pun segera kembali ke rumah, takut ketahuan kalau kami diam-diam keluar. Dan perjalanan pulang ke rumah ternyata jauh lebih sulit daripada yang tadi.

Hujan sudah turun lebih lama, dan tentu saja ini yang membuat genangan air di jalanan menjadi semakin tinggi saja. Rumah yang saya tempati jarang terkena serangan banjir, namun kali ini hujan turun dengan sangat lebatnya, seolah-olah ingin menguji ketabahan seorang anak untuk menunjukkan rasa sayang kepada ibunya. Jalanan pulang pun penuh dengan genangan air yang cukup tinggi.

Dan ketegangan semakin terasa ketika saya menelusuri jalan terakhir sebelum mencapai rumah saya, dengan genangan air yang cukup tinggi, mungkin sampai pada lutut anak-anak, jantung saya kembali berdegup kencang ketika memasuki pertengahan jalan, genangan air terlihat semakin tinggi, dan tidak ada jalan balik, yang bisa saya lakukan hanyalah terus mengikuti jalannya, dan berusaha untuk mencari jalan keluar yang lain.

Pada akhirnya kami semua selamat sampai di rumah, jam sudah menunjukkan pukul 19.00. Kami semua masuk ke dalam kamar dan bergegas mereview kembali rencana kami yang terakhir, yaitu makan di restoran. Selang 15 menit kemudian, mama papa saya dan juga mama papa sepupu saya pulang. Kami yang mengetahui hal tersebut langsung bergegas keluar dari kamar, dan bersiap-siap untuk pergi, memberikan kejutan yang paling indah untuk mama tersayang. Namun.. Semuanya diluar dugaan...


PS: Sampai disini dulu, nanti digi lanjutin postingan secepatnya, selamat menunggu ^^

"Berikan saya 100.000! Besok saya yang ngantri di bengkel 1 jam juga ga-pa-pa!"

Kami semua yang masih diliputi rasa senang segera turun ke bawah. Ketika sampai di bawah, dalam sekejap papa saya dan papa sepupu saya sudah menghilang karena ada undangan makan. Tersisalah para remaja yang sedang antusias untuk membuat kejutan, dan ibu-ibu yang sedang khawatir akan hujan yang begitu derasnya. Tak ayal lagi, skenario terburuk pun bisa terjadi...

Saya yang begitu senang pada saat itu langsung memulai pembicaraan...
"Ma! Keluar makan yuk! Kan hari ini hari ibu! Sekalian ngerayain"
"Hujan-hujan gini mau kemana makan? Dimana-mana banjir, lagian kan di rumah banyak makanan, lagipula..."


Saya yang mendengar kata-kata tersebut langsung menjadi panas.

"Di rumah ngga ada sayur, Ma! Kita tadi sengaja bohongin mama untuk buat kejutan Mama. Kan ini hari ibu! Dari awal emang kita uda niat untuk bikin surprise buat mama, jadi kita bohongin mama biar bisa makan di restoran!"
"Iya, tapi dimana-mana banjir, emang kalian mau makan di restoran apa coba?"
"XXXXXXXXX"
"Dimana-mana jalan macet! Mau ke restoran itu mau jalan mana? Coba kamu kasi tau mama mau lewat jalan mana?! Nanti mobilnya basah siapa yang mau ke bengkel untuk nungguin?"
"Itu kan nanti bisa dipikirin Ma! Tadi aja kami baru pulang dari luar!"


Keadaan menjadi hening sebentar... Saya yang sedang naik darah pun langsung melanjutkan dengan nada tinggi...
"Berikan saya 100.000! Besok saya yang ngantri di bengkel 1 jam juga ga-pa-pa!"

Semuanya serasa hening, mama hanya menatap saya dengan mata yang tajam bercampur sedih, sementara tante sedang meyakinkan anak-anaknya untuk membatalkan acara makan di restoran.
Tadi kami waktu pulang dimana-mana banjir, ngapain sih makan di restoran? Tadi mamanya aja udah makan, semua udah makan, tinggal mama aja yang belum makan"
"Iya, Ma, tadi aja kita juga baru balik, banjirnya ngga parah-parah amat kok", ungkap anaknya dengan nada sedikit jengkel



Namun saya tidak menghiraukan semua pembicaraan itu, waktu serasa berhenti. Dan setitik rasa sesal mulai tertoreh di hati saya, rasanya lebih baik saya memang tidak usah memulai pembicaraan duluan kalau tau begini hasilnya. Saya memang termasuk orang yang gampang emosian, tetapi yang tadi sepertinya tidak biasa, tiba-tiba saja kata-kata itu keluar dari mulut saya!

Lalu mama pun berpaling, menelusuri tangga untuk naik ke atas dan masuk ke dalam kamar, sementara tante saya dan sepupu saya masih saja terus bertekak, yang berakhir pada pembatalan rencana kami yang sudah tersusun rapi.

Tidak emosi, tidak ada tangis, tidak ada kesedihan lagi yang saya rasakan pada saat itu, saya langsung naik ke atas, masuk ke dalam kamar saya, hendak mengganti baju yang sudah saya pakai sejak tadi, menjadi baju santai. Namun tiba-tiba saja sebuah pemikiran terlintas di benak saya...
"Jangan ganti baju dulu, sepertinya masih ada sedikit harapan..."

Dan pikiran itulah yang mengurungkan niat saya untuk mengganti baju saya, saya kembali turun ke lantai 2 tempat mama saya berada, namun saya masih enggan masuk ke dalam kamar, hingga akhirnya tante keluar dari kamar dan berkata kepada sepupu saya...
"Tadi tante kalian udah makan, semuanya udah makan kok, tinggal mama sendiri aja yang belum, terserah mau masakin mi atau apa juga boleh"
"Yeee... Mama sih udah makan, kami daritadi nungguin mama ama tante sih mau ke restoran makan, rupanya batal, tau gini tadi kita makan dulu ya?"


Tiba-tiba saja muncul sebuah ide brillian dari entah siapa, yang menyuruh kami para anak-anak untuk memasak untuk ibu-ibu pada saat itu. Tentu saja, kami semua kembali menjadi bersemangat!!!

Eng ing eng! Difoto ya! Tuu... Dua... Ti... GA!

Kami pun mulai bergegas untuk menyiapkan segala bahan-bahan makanan yang diperlukan, mulai dari tepung, telur, sampai dengan panci dan minyak. Memasak bukanlah hal yang sulit bagi kami, namun, kalau disuruh masak malam-malam begini, tanpa persiapan dan bahan yang lengkap, tidak bisa dipungkiri memang agak susah. Nasi putih sudah habis, kami pun mulai memutar otak, apa lagi yang bisa dimakan?

MI INSTAN! Sekilas memang terasa tidak enak, namun setelah membongkar seluruh isi kulkas, kami hanya menemukan tahu kering dengan sedikit daging-dagingan, dan memang itulah yang kami olah pada malam itu. Mi instan ditumis dengan sedikit daging, sayur-sayuran dan tahu kering yang kami oleh sedemikian rupa.

Rupanya berdiri di dapur dan memotong sayur bukan pekerjaan yang mudah, saat itu saya memang kebagian pekerjaan memotong saja, dari awal sampai akhir selama 1 jam lebih saya hanya berdiri untuk memotong segala jenis sayur-sayuran, daging-dagingan, sampai cabai yang membuat tangan saya pedas tentunya. Dan akhirnya, setelah 1 jam kami semua belepotan di dapur, selesai juga masakan istimewa dari anak-anak...

Setelah selesai memasak dan menyusun masakan kami, kami pun segera mengambil kue tar yang tadi kami simpan di mobil, lalu menyuruh ibu-ibu keluar, dan...

SURPRISE!!!!!

Suasana langsung saja menjadi riuh dan gaduh, tepuk tangan, dan jeritan untuk para ibu-ibu terasa memeriahkan rumah saya yang sederhana. Lalu kami pun segera mempersilahkan para ibu-ibu untuk memotong kue.. Sebelum itu, adik saya segera menggunakan ponsel barunya untuk mengambil foto-foto mama kami, dan kue tar yang sudah kami beli tentunya.

Difoto ya! Tuu... Dua... Ti... GA!
Ciklet, terdengar suara kamera ponsel adik saya, dan tanpa babibu, kami langsung mempersilahkan mama-mama kami untuk langsung menyantap makanan yang ada, tentu saja karena kami daritadi juga sudah lapar.

Jujur saja saya katakan masakan yang kami buat tidak enak-enak amat, malah terasa hambar. Tetapi, entah apa yang membuat 9 bungkus mi instan yang kami masak habis dilalap oleh 8 orang, mungkin karena perasaan cinta dan semangat yang kami tuangkan saat memasak tadi...

Satu kisah dalam hidup saya pun telah berlalu, sungguh, saya sangat berterima kasih kepada Tuhan atas hari ini, yang mengingatkan saya, betapa susahnya pun kita melewati suatu masalah dalam kehidupan, selalu ada titik terang yang muncul.

Tidak peduli betapa sulitnya masalah yang kita hadapi, selalu ada jalan yang disediakan olehNya.

Tidak peduli jika semua pintu kebahagiaan sudah ditutup, Tuhan tetap akan menyisakan satu pintu harapan untuk kita lalui.

Disini saya dengan tulus mengucapkan kepada semua ibu di Indonesia, bahkan di dunia.

Selamat Hari Ibu!


Continue Reading!
 

blogger templates | Make Money Online